
Aku menunggu di sofa ruang tamu yang sudah aku bersihkan. Sementara laki-laki itu sejak tadi hilang ditelan pintu kamar tidak juga menampakkan hidungnya lagi. Entah sedang apa di dalam sana. Apa mungkin dia tertidur lagi. Tega sekali dia tidak memberikan aku selimut. Apa aku harus tidur kedinginan di sofa ini.
Aku hanya menggunakan rok yang panjangnya di atas lutut dan kemeja ketat. Tidur di sini pasti akan sangat dingin.
"Huft dasar Om-om tidak peka. Tau begini aku pulang saja."
Aku menggerutu sambil mencari posisi yang pas untuk tidur. "Hooaamm... setidaknya harga sofa ini pasti lebih mahal dari ranjangku di rumah. Ini lumayan nyaman dan empuk."
Aku coba merebahkan diri di sofa. Memang rasanya sangat nyaman. "Hmmm sofa orang kaya memang beda." Aromanya juga harum tidak bau apek seperti sofa rumahku.
Tapi tiba-tiba, aku mendengar suara pintu terbuka. Aku segera bangun dan duduk.
"Kenapa kamu masih di sini. Mandilah, tubuhmu bau keringat," ujar Om Edward yang keluar hanya menggunakan bathrobe, rambutnya juga basah serta bau sabun yang menyengat indra penciuman ku. " Hai, kau. Kenapa melamun!" Sentakan itu membuat ku kembali ke sadar.
"Ya. Om," kataku dengan tak fokus. Bagaimana aku bisa fokus kalau di depan mataku ada makhluk sesempurna itu.
"Mandi, kamu bau!"
__ADS_1
Aku mencium bau tubuhku sendiri, benar katanya memang agak bau keringat tapi ini karena aku habis membereskan sisa-sisa mainan yang berserakan di lantai, siapa pelakunya coba.
"Apa om ingat kalau tempat ini tadi berantakan karena siapa? Aku berkeringat karena membereskan semuanya sendiri," kataku sambil menunjuk-nunjuk pria itu.
Lihatlah wajahnya yang justru seperti tidak bersalah. Berjalan begitu saja melewati ku sambil mengusap rambutnya yang masih basah.
"Maaf kalau aku sudah membuat mu kesulitan. Apapun yang kamu dengar dan lihat saat aku sedang mabuk, aku harap kamu melupakannya." laki-laki itu memberikan segelap minum padaku. "Mandilah sebelum kamu sakit karena memakai baju yang basah."
"Aku pulang saja bagaimana Om, aku nggak bawa baju ganti."
Akhirnya aku ada di sini. Di dalam sebuah kamar mandi mewah yang ada di apartemen itu. Mirip seperti yang ada di hotel , bahkan lebih mewah.
"Hah ... dasar pemaksa, aku kan bisa pulang. Kenapa harus mandi di sini," omelku di depan cermin seolah sedang memaki pria itu.
Setelah selesai mandi dan memaki sepuasnya aku keluar dari kamar mandi setelah agak tenang. Menggunakan kemeja milik om Edward yang terlalu besar untukku sampai bisa kujadikan dress karena panjangnya sampai ke atas lutut. Bau khas pria itu sekarang seperti menempel di badanku karena aku memakai pakaiannya.
"Untungnya tubuhku kecil, jadi pas pakai apa saja."
__ADS_1
Aku keluar dari kamar itu lalu mencari keberadaan Om Edward. Dia sedang duduk di meja makan.
"Om ...," panggilku.
Om Edward melihatku dengan tatapan aneh.
"Kau sudah selesai, kemarilah. Aku memesan makanan, aku sedikit lapar. Kalau kau mau bisa makan juga."
Cih kau lapar setelah berteriak nyanyi-nyanyi dan menari-nari kan. Sungut ku dalam hati.
"Kenapa? Apa ini tidak sesuai dengan seleramu?"
"Ehh enggak, aku suka kok. Aku beneran boleh makan?"
"Iya, duduklah. Aku tidak bisa menghabiskan ini sendirian."
Terserah kau saja lah Om. Kalau begitu kenapa kamu memesan makanan sebanyak ini. Tapi bagus juga, karena tiba-tiba aku jadi lapar.
__ADS_1