Pesona Duren, Ayah Temanku

Pesona Duren, Ayah Temanku
Bab 31


__ADS_3

"Ih ganteng banget sihh." Aku menangkup wajah pria itu sangat imut jika seperti itu. Kenapa mimpiku bisa begitu indah, tidur di samping idola KPop. Tolong jangan bangunkan aku dari mimpi ini, biarkan aku tidur lebih lama.


Tapi sayangnya harapanku tidak terkabul karena tiba-tiba laki-laki itu berbicara.


"Sampai kapan kau akan seperti ini, apa kamu tidak sekolah?"


"Ya! Tunggu sebentar lagi," jawabku yang masih asyik memandang wajah tampan itu.


Tuk!


"Awww!! Sakit!!" Aku mengaduh kesakitan sambil memegangi kening tapi kenapa sakit, bukannya aku masih mimpi.


"Belum puas melihatku?"


Mataku membuka lebar, ternyata aku tidak sedang bermimpi dan ini nyata ada laki-laki di depanku. Dan dia adalah. "Om Edward?! Kenapa Om ada di kamarku?" tanyaku.


"Kamarmu?! Ini kamarku," katanya pria itu.


Aku jadi melihat sekeliling untuk memastikan. Benar ini bukan kamarku, lalu kenapa aku bisa ada di sini. Ah ya, aku lupa kalau semalam aku menginap dan semalam aku tidur seranjang lagi dengan papahnya Lila. Astaga, aku sang malu sekarang. Apalagi tadi aku sudah memegang wajah om Edward tanpa ijin. Apa dia marah ya, kenapa diam saja.

__ADS_1


Ini gara-gara wajahnya yang sangat tampan saat bangun tidur. Kenapa dia terlihat jauh lebih muda saat rambutnya turun. Karena biasanya dia yang tampil keren dan berwibawa saat model rambutnya dibuat naik ke atas.


"Om, maaf aku nggak sengaja melakukan itu tadi. Aku pikir aku sedang bermimpi," kataku sambil memainkan jari.


"Apa sangat menyenangkan memandangi wajahku sampai kau lupa berada di mana?"


"Itu karena Om sangat tampan saat bangun tidur. Ups!" Aku memukul mulutku sendiri yang tidak bisa menahan diri.


"Benarkah, aku tampan?" Om Edward tiba-tiba mendekat padaku. Secara refleks, aku pun menjauh darinya. Pesonanya membuat jantungku berdebar kencang. Aku tidak ingin om Edward mendengar suara detak jantungku.


"Om ... Om mau apa, jangan terlalu dekat dengan ku," cicit aku memprotes tindakan pria itu.


"Om ...." Aku sudah tidak tau lagi bagaimana caranya membuat pria itu segera menyingkir.


"Kamu tau apa yang sudah kamu lakukan pada wajahku tadi. Kamu mempermainkan wajahku seperti ini."


"Aaww!" Om Edward benar-benar mempraktekkan apa yang aku lakukan tadi. Dasar pendendam.


"Iya, iya aku minta maaf. Kan sudah aku bilang kalau kukira sedang bermimpi. Pendendam sekali Om ini," gerutuku sambil memegangi pipi.

__ADS_1


"Sudah sana mandi, apa kau sekolah hari ini."


"Kalau begitu Om menyingkir dulu dari sini, bagaimana aku bida bergerak kalau seperti ini."


Om Edward malah diam sambil menatap mataku. Astaga, aku bisa meleleh kalau dia terus menatapku seperti ini. Apa jangan-jangan dia mau menciumku seperti semalam. Kenapa dia semaunya sendiri, kita kan belum ada hubungan apapun. Tapi aku tidak bisa menolak.


"Ada kotoran di matamu."


"Hah!" Aku melongo saat om Edward mengatakan hal itu. Padahal aku sudah bersiap sambil memejamkan mata tapi pria itu seenaknya meledekku seperti ini.


"Hahaha, apa yang kamu pikirkan. Apa kamu ingin aku menciummu?"


Dia tergelak menertawakan kebodohan ku. Aku benar-benar dibuat malu.


"Om nyebelin ih!!" Aku bisa bangun karena om Edward sudah berpindah posisi.


"Tunggu, mau kemana?" Om Edward menahan tanganku.


"Mau mandi, aku harus sekolah." Aku berniat turun dari ranjang tapi tanganku ditarik oleh om Edward sampai tubuhku terjatuh di atas tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2