Pesona Duren, Ayah Temanku

Pesona Duren, Ayah Temanku
Bab 42


__ADS_3

“A—aku …,” Aku hanya menggigit bibir bawah tidak tau harus menjawab apa.


Om Edward menarik pinggangku dan membetulkan posisi duduk kami. Kini aku sudah


duduk di depan pria itu dengan sorot mata yang begitu tajam itu melihatku. Masih


dengan posisi yang sangat dekat karena tangan pria itu melingkar di pinggangku.


Aku menunduk malu dibuatnya, jujur saja tadi itu sangat mendebarkan bagiku. Om


Edward menciumku dengan cara yang sangat lembut dan aku hampir terbuai


karenanya. Tapi tiba-tiba bayangan Lila terlintas di dalam pikiranku dan aku


langsung merasa sangat bersalah.


“Kalau aku menciummu, kau harus membuka mulutmu,” ujar Om Edward.


Kenapa juga dia harus membahas hal seperti itu, apa dia kira aku tidak tau caranya


berciiuman yang benar.


“Om menciumku tiba-tiba, tentu saja aku terkejut. Dan kenapa Om menciumku, bagaimana


dengan Wanita yang Om cintai kalau Om melakukan hal seperti ini denganku.”


“Seperti apa? Apa seperti ini.” Cup, om Edward Kembali mengecup bibirku.


“Om …” Aku mencebikkan bibir malu. “Aku serius om, seharusnya om melakukan hal


seperti itu dengan Wanita yang om cintai saja. Jangan denganku seperti ini.”


Sejujurnya aku juga takut kalau pada akhirnya aku terbawa perasaan dan jatuh cinta


pada Om Edward yang tidak akan pernah bisa kita bersama.


“Kau ingatkan aku menyuruhmu untuk meyakinkan Lila agar dia mau mempunyai ibu tiri.”


“Ya, aku ingat. Itu karena Om sudah ada calonnya kan,” jawabku.

__ADS_1


“Ya kau benar, dan aku rasa kamu memang perempuan yang paling mungkin diterima oleh


Lila. Dia sangat menyayangimu dan kalian juga sangat akrab, aku rasa Lila tidak


akan menolak kalau kau yang jadi ibu tirinya.”


Astaga. Apa aku tidak salah dengar. Bagaimana bisa Om Edward berpikir seperti itu.


“Tidak, kenapa jadi aku. Om Edward menikahlah dengan Wanita yang om cintai. Aku yakin Lila


lama-lama akan mengerti kalau papahnya butuh seorang istri.”


Om Edward bukannya menjawabku malah mengusap pipiku.


“Kenapa aku harus mencari yang lain kalau di depanku saja ada.”


“Apa maksud Om—”


Mata kami saking bersitatap, mata Om Edward seperti menyihirku saat itu. Aku terdiam


saat dia semakin mendekatkan wajahnya dan menjepit daguku. “Buka mulutmu,”


perintahnya.


pandai melakukan ciuman, aku pun membalasnya. Dia juga menahan tengkuk dan


pinggangku sehingga kami makin berdekatan. Kali ini kami benar-benar sudah terbawa


suasana.


“Hah ….” Nafasku sampai habis karena om Edward yang terlalu bersemangat.


“Jadilah istriku dan ibu untuk Lila,” ujar Om Edward.


“Apa hah!” Aku sangat terkejut denga napa yang dikatakan om Edward. “Om bercanda.


Mana mungkin aku—”


Cup.

__ADS_1


Om Edward kembli menempelkan bibirnya sekilas.


“Jangan menolak. Bukankah kau menyukaiku juga.”


Astaga ada apa dengan pria ini, kenapa dia jadi narsis begini.


“Tidak, aku mana mungkin menyukai ayah dari temanku sendiri.”


“Jadi kalau aku bukan papahnya Lila, kau menyukaiku.”


“Bukan seperti itu om tapi aku, aku mana mungkin pantas jadi istri Om apalagi ibunya Lila.


Dia juga tidak mungkin setuju Om.” Aku tidak mau terlalu percaya diri, walaupun


Lila pernah berkata kalau dia mau aku jadi ibu tirinya tapi aku yakin dia hanya


bercanda.


“Maka dari itu kau harus meyakinkannya. Kau harus menerima lamaranku, kalau kau tidak


ingin Kembali ke club malam itu. Karena mereka itu belum benar-benar melepaskan


mu. Kalau kau tidak bersamaku maka mereka akan memaksamu agar Kembali bekerja


di sana.”


“Om, tapi aku—”


Om Edward tidak membiarkan ku menolaknya, dia Kembali membungkam mulutku dengan


ciumannya. Kali ini bahkan semakin panas, bukan hanya ciuman saja tapi tangannya


juga tidak tinggal diam. Entah sejak kapan kancin kemeja yang aku pakai sudah


terbuka Sebagian dan Om Edward sudah bermain di area itu meninggalkan


jejak-jejaknya di sana.


“Euugghh om.”

__ADS_1


Om Edward menggendongku ke kamarnya dan kami pun mengulang malam yang kesekian


kalinya. Kali ini kami dalam keadaan sadar dan sama-sama mau.


__ADS_2