Pesona Duren, Ayah Temanku

Pesona Duren, Ayah Temanku
Bab 50


__ADS_3

Keesokan harinya. Di hari Sabtu akhir pekan. Akhirnya aku punya waktu untuk untuk keluargaku. Hari ini aku mau di rumah seharian mumpung Om Edward sedang ada di luar kota jadi dia tidak mungkin memintaku untuk menemuinya. Begitupun dengan Lila, dia juga bilang tidak akan kemana-mana. Aku bisa tenang akhirnya.


Aku menghabiskan waktu dengan adik dan juga ibuku. Kami berjalan-jalan sekitar rumah dan membawa adik ke arena permainan yang ada di taman hiburan dekat rumah. Melihat adikku sudah lebih baik dan bisa berinteraksi dengan orang lain rasanya sangat bahagia. Akhirnya pengorbananku tidak sia-sia. Kami bisa hidup tanpa hutang dan Adik bisa berobat dengan benar. Ditambah kakak juga dapat pekerjaan yang lumayan di perusahaan om Edward.


Oh ya, aku tidak pernah ketahuan oleh kakakku saat datang ke perusahaan karena Om Edward memintaku datang saat sebagian karyawan sudah pulang. Tentunya juga termasuk kakakku.


Walaupun mungkin om Edward memang serius padaku tapi tidak baik kalau sampai ada gosip yang menyebar kalau CEO perusahaan itu berpacaran dengan gadis SMA.


Dari pagi hingga sore aku bersama ibu dan adikku. Kami senang sekali bisa memiliki waktu santai bertiga seperti ini. Kakakku entah kemana perginya, biarkan saja dia kembali bergaul dengan teman-teman barunya di kerjaan. Ibu dan aku tidak terlalu mengekang kak Indra agar dia bisa benar-benar melupakan mantannya.


Sorenya saat aku sedang bersantai di teras rumah Om Edward menghubungiku katanya dia akan pulang besok.


"Aku akan pulang besok, apa kamu sudah merindukanku?" tanyanya percaya diri.


"Enggak, aku nggak merindukan Om."


"Benarkah, tapi kenapa aku mendengar suara hatimu berbeda dengan yang kamu ucapkan."


Mulai deh dia menggodaku.


"Aku matikan yang teleponnya," kataku sedikit mengancam.


"Tunggu, kau belum memberikan ciuman."


Keningku seketika berkerut, tidak jauh dari tempatku ada ibu yang sedang menyuapi adik. Aku tidak enak kalau ibu dengar.


"Hei, kenapa diam."


"Ada ibu," kataku pelan.


"Baiklah, kalau begitu sampai ketemu besok. Aku akan menagihnya saat bertemu besok."


Mana mungkin dia hanya akan menagih ciuman pasti minta yang lain juga. Astaga, kenapa aku jadi berpikiran aneh-aneh seperti ini. Pasti gara-gara Om Edward yang membuat ku seperti ini.

__ADS_1


Malamnya setelah makan malam aku langsung masuk ke kamar. Rasanya aku sudah rindu sekali dengan kasurku. Aku ingin segera berguling-guling di sana dan bermimpi indah. Walaupun tidak seempuk Karus di apartemen Om Edward tapi aku masih lebih suka kasurku sendiri.


Drrrrtt. Suara bunyi ponselku mengagetkan aku yang tadi sudah mau tertidur. Entah siapa yang mengirim pesan mungkin saja itu hanya dari operator. Tapi karena penasaran lantas aku pun membuka pesan itu. Ternyata om Edward yang mengirimku pesan.


"Apa Lila bersamamu? Tadi dia minta ijin mau pergi denganmu."


Hah, Lila pergi dan bilang pergi denganku. Ini pasti ada yang tidak beres, bagaimana ini aku harus membalas pesan om Edward apa? Apa aku jujur saja kalau aku tidak bersama Lila. Tapi nanti kalau Lila marah bagaimana dan curiga mengapa aku bisa berkirim pesan dengan papahnya.


Akhirnya aku pun membalas.


"Iya Om, kami pergi sebentar. Aku janji akan membawa pulang Lila dengan utuh dan selamat."


Itu bukan hanya sekedar ucapan. Aku akan pergi mencari Lila sampai ketemu. Aku hanya tidak ingin membuat om Edward khawatir, dia masih ada di luar kota dan berbahaya kalau pulang tergesa-gesa.


Sudah pukul sembilan malam. Aku memakai jaket kulitku, celana panjang dan sepatu bersiap untuk mencari Lila. Topi dan kacamata juga aku bawa untuk jaga-jaga. Lalu aku juga membawa senjataku, sebuah spray yang berisi air cabai. Ini sangat berguna di situasi yang mendesak.


...


Aku sudah menghubungi Lila beberapa kali tapi tidak ada yang mengangkat panggilan dariku. Pikiranku semakin kemana-mana, tapi aku harus tetap tenang agar bisa menemukan Lila.


Tunggu aku, Lila. Please, jangan pergi ke tempat yang hanya ada kalian berdua.


Aku sampai di tempat biasanya Kevin nongkrong dengan teman-temannya. Sampai di sana aku pura-pura membeli minuman lalu duduk untuk mencari informasi.


"Heh, kamu tau si Kevin lagi di mana? Tadi aku menelponnya dan katanya dia mau jalan berdua dengan pacarnya. Akhirnya dia bisa berduaan juga katanya. Kalian tau kan kalau selama ini ada yang selalu mengekori mereka."


"Waahh apa dia akan menang taruhan kali ini."


Waahh taruhan apa? Kenapa aku baru mendengarnya.


"Entahlah, aku nggak yakin kalau gadis itu masih perawan. Haha, tau kan gadis jaman sekarang pergaulan nya seperti apa. Paling dia juga sama saja."


"Tapi aku yakin dia masih ori, dia kan nggak pernah pacaran katanya."

__ADS_1


Mataku  semakin membulat sempurna mendengar hal itu. Aku tau kemana arah pembicaraan mereka.


"Heh kalian!" Aku membuka topi dan kacamata hitam yang aku pakai. Seketika mereka terkejut dan mau kabur. "Diam disitu, aku sudah merekam pembicaraan kalian. Aku akan melaporkannya ke polisi. Kalian tau kan papahnya Lila itu punya perusahaan besar. Kalian pasti akan mendekam di penjara." Aku mengancam mereka.


"To—tolong jangan laporkan kami. Kami nggak tau apa-apa."


"Aku nggak janji tapi kalau kalian mau memberi tauku di mana teman kalian berada sekarang. Aku akan mempertimbangkannya," kataku.


"Kami nggak tau Kevin di mana. Dia nggak bilang apa-apa sama kami."


"Kalian pasti bersekongkol kan! Baiklah, aku akan lapor polisi sekarang." Aku berpura-pura mengotak-atik ponsel.


"Tunggu! Jangan lakukan itu. Kami akan coba telepon dan bertanya."


"Ya sudah, cepat!!"


Aku harap bisa menemukan keberadaan Lila secepatnya sebelum Kevin berbuat sesuatu.


Nyatanya Kevin tidak mengangkat panggilan dari temannya dan aku sudah kehilangan kesabaran. Aku tidak mau terlambat sedikitpun.


"Kalian membohongiku!!"


"Nggak, sumpah kami nggak bohong. Kami di sini nggak ada yang tau kemana dia pergi. Dia cuma bilang mau kencan." Mereka sepertinya tidak berbohong tapi bagaimana caranya aku tua di mana mereka.


"Apa kalian tau di mana tempat yang biasanya didatangi Kevin kalau bersama pacarnya?" tanyaku.


"Aku tau, aku tau. Dia biasanya ke hotel Xx, ya ke sana."


Aku tau hotel itu, cukup jauh dari sini. Aku harus cepat.


"Aku akan ke sana, aku harap kalian nggak bohong. Kalau aku Kevin nggak ada di sana, kalian akan tau akibatnya," ancamku sebelum pergi.


Kali ini aku melakukan motorku dengan kecepatan penuh.

__ADS_1


__ADS_2