Pesona Duren, Ayah Temanku

Pesona Duren, Ayah Temanku
Bab 25


__ADS_3

Aku terkejut mendengar kalimat yang diucapkan om Edward. Mungkinkah aku salah dengar atau dia sedang mabuk sampai mengucapkan kalimat itu tanpa sadar.


"Om mabuk ya?"


"Aku aku terlihat mabuk. Aku serius. Jadilah pasangan kencanku, aku sedang butuh pasangan. Bagaimana?"


"Oh bercanda? Om tau kan kalau aku dan Lila berteman. Bagaimana kalau dia tau. Lila pasti akan kecewa dan marah padaku," sungut aku pada laki-laki itu.


"Kalau begitu kau tidak perlu mengatakannya pada Lila. Kamu hanya perlu menyembunyikannya dari Lila."


"Hah ...."


"Aku akan melunasi hutangmu dan membiayai adikmu. Aku juga akan memberikan Kakakmu pekerjaan. Ohh ya, dan satu lagi aku akan menjamin kehidupan keluargamu. Bukankah itu yang kamu harapkan." Om Edward berdiri, sepertinya dia sudah mau pergi.


"Pikirkanlah baik-baik! Tawaran sebaik ini tidak datang dua kali. Apa kau tidak ingin melihat keluargamu hidup bahagia dan damai."


Tentu saja aku ingin, untuk itulah aku bekerja keras karena ingin membuat keluargaku bahagia. Walaupun sulit karena kami harus dikejar-kejar hutang setiap saat. Mau makan enak, mau pergi jalan-jalan atau sekedar jajan di pinggir jalan saja harus mikir berulang kali. Masih memilih untuk menyisihkan uang untuk membayar cicilan hutang dan berobat adik.


"Tapi kenapa harus aku? Kenapa Om pilih aku?" tanyaku ingin penjelasan. Rasanya aneh, om Edward kan bisa mendapatkan wanita dengan jenis apapun kalau mau.


"Kau mau tau, ayo ikut." Om Edward menyeret tanganku.


"Ehh mau kemana kita Om. Tunggu! Pekerjaanku belum selesai." Aku berteriak pada laki-laki itu. Tanganku ditarik menuju pintu keluar. Orang-orang yang melihat kami, menatap dengan wajah heran.


"Nanti saja biar aku yang ijin pada bosmu."


"Hah."


Ternyata om Edward membawaku keluar dari sana ke mobilnya yang terparkir di luar club.


"Masuklah."


Aku menurut dan masuk ke dalam mobil tanpa perlawanan. Beberapa kali, bos meneleponku tapi kuabaikan.


"Om, sebenarnya kita mau ke mana?" tanyaku saat mobil keluar dari parkiran.


"Ke apartemenku. Tadi kau bertanya kenapa harus kamu yang jadi pasanganku kan? Nanti aku jelaskan di sana."

__ADS_1


"Kenapa nggak dijelaskan di sini saja sekarang? Kenapa harus ke apartemen?"


"Bawel. Kita cari tempat yang lebih nyaman, aku masih mau minum."


Bibirku mengerucut dan membuang muka. Kesal sekali bicara dengan orang yang seenaknya sendiri seperti om Edward itu. Dalam perjalanan, ponselku berbunyi pagi. Tentu saja itu dari bosku, dia pasti mencariku mungkin karena ada pelanggan yang datang mencari atau karena dia khawatir.


"Siapa yang menelepon?"


"Bos meneleponku, Om sih pergi gitu aja tadi," sungutku menyalahkannya.


"Sini biar aku yang bicara."


"Nih." Aku menyerahkan ponselku pada laki-laki itu setelah menggeser tombol hijau untuk mengangkat panggilan dari bos.


"Hallo, Ima ... kamu di mana? Aku sangat cemas saat anak buahku bilang kamu pergi dibawa orang. Apa kamu baik-baik saja, di mana kamu Ima. Aku akan mengirimkan orang kalau terjadi sesuatu padamu." Bos memanggilku Ima, dari kata Delima. Dari nada bicaranya dia sepertinya benar-benar khawatir, mungkin karena kejadian saat itu membuat dia merasa sangat bersalah padaku. Aku bisa mendengarnya karena bos bicara sangat keras.


Aku tunggu Om Edward mau bicara apa pada bos.


"Delima ada padaku, malam ini dia akan menemaniku jadi dia tidak akan kembali ke sana. Nanti aku kirim uangnya."


Mataku melebar mendengar pria itu mengatakan hal semacam itu. Bos pasti mengiranya aku mulai menjajakan diri.


"Sudah kan, jangan ganggu Delima lagi dengan menghubunginya. Aku yang akan menjaganya malam ini," kata om Edward.


"Ohh iya iya, maafkan aku Tuan. Kalau begitu aku tidak akan menganggu lagi, sudah tenang kalau Delima ada bersama Anda. Baiklah, have fun Delima."


Panggilan sudah terputus, padahal masih ada yang mau aku bicarakan pada Bos.


"Sudah kan."


"Huft, Om bikin semuanya runyam!"


Mobil yang kami tumpangi berhenti di basemen sebuah apartemen.


"Ayo turun," ajak pria itu. Dia membukakan pintu karena aku tidak kunjung turun. "Mau aku gendong?" Dia sudah menunduk tapi aku buru-buru mendorong tubuhnya.


"Apa sih, aku bisa jalan sendiri."

__ADS_1


"Pakai ini, jangan biarkan banyak orang yang melihat tubuhmu."


Om Edward menyerahkan jasnya yang kebesaran padaku. Menyuruhku menggunakannya. Pakaian yang dikenakan memang minim, ya karena aku sedang bekerja tadi.


Kami naik lift yang ada di basemen menuju ke lantai lima belas. Aku berdiri agak jauh dari laki-laki itu. Bersandar pada dinding lift. Kami sama-sama tidak membuka suara sampai pintu lift terbuka. Aku hanya mengikutinya dari belakang sampai di depan sebuah unit apartemen.


Om Edward menekan password lalu pintu terbuka.


"Masuklah," katanya memerintah.


"Hmmm." Aku masuk ke dalam. Melihat isi apartemen itu dari depan pintu.


"Gantilah sepatumu dengan sandal ini." Om Edward menyuruhku menggunakan sandal rumahan yang ukurannya jauh lebih besar dari kakiku. "Tidak ada yang datang kemari selain aku dan teman-temanku, jadi tidak ada sandal untuk wanita."


Kenapa rasanya aku tidak percaya kalau om Edward tidak pernah membawa wanita ke tempat itu. Apalagi jika sudah berkumpul dengan teman-temannya.


Aku berjalan pelan lebih dalam, sambil melihat-lihat. Apartemen itu bahkan terlihat lebih luas dari rumah yang aku tinggali. Tempatnya tertata rapi dan bersih, baunya juga harum. Apa mungkin laki-laki itu membersihkan tempat itu sendiri.


"Duduklah, aku akan mengambil minuman."


"Hmm."


Karena sudah masuk ke dalam apartemen, aku melepaskan jas yang aku pakai dan meletakkannya di sofa. Baru aku duduk. Masih dengan mengedarkan pandanganku melihat sekeliling.


Apa mungkin pria itu sering ke tempat ini untuk bersenang-senang dengan teman-temannya. Sangat disayangkan, dia lebih memilih untuk meninggalkan putrinya yang kesepian dan lebih memilih untuk bersama teman-temannya.


Om Edward datang membawa sebotol wiski dan air sofa untukku.


"Aku tau yang kau pikirkan. Tempat ini jarang aku datangi, hanya saat aku sedang banyak pikiran dan teman-temanku mengajak berkumpul saja. Aku tidak ingin Lila melihat aku banyak pikiran dan dia jadi terbebani. Lalu aku juga tidak mau mengajak teman-temanku ke rumah karena mereka pasti akan mabuk. Lebih baik di sini. Jika di rumah, aku tidak ingin Lila terganggu."


"Ohh baguslah, aku kira Om sering meninggalkan Lila karena bersenang-senang. Kasihan Lila kesepian di rumah."


"Ya, aku tau. Semua karena ibunya yang serakah dan meninggalkan putrinya. Dia jadi tumbuh dengan kekurangan kasih sayang. Tapi aku bangga karena dia sangat pengertian, jarang mengeluh padaku."


"Walaupun begitu, Om seharusnya peka donk. Kasihan Lila, dia kan ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan papahnya. Setidaknya, beri dia sedikit perhatian walaupun dia tidak pernah mengeluh." Aku sedikit emosi. Kalau mengingat bagaimana wajah Lila yang polos saat membicarakan orangtuanya, aku sangat prihatin.


"Iya, aku akan mencoba lebih dekat dengan putriku." Om Edward meneguk minumannya lagi.

__ADS_1


"Jadi apa yang mau Om bicarakan? Kita sudah sampai kan, jadi cepat katakan?" ucapku sambil melipat tangan.


__ADS_2