Pesona Duren, Ayah Temanku

Pesona Duren, Ayah Temanku
Bab 38


__ADS_3

Om Edward menarikku ke dalam ruangan yang di dalamnya berisi rak-rak buku dan ada meja serta kursi, juga ada satu sofa. Sepertinya itu ada ruang kerjanya di rumah.


"Duduklah."


"Ada apa sih Om. Apa nggak bisa lewat telepon saja nanti. Aku takut Lila curiga," kataku. Aku benar-benar berdebar sekarang, seperti maling yang takut ketahuan.


Om Edward menatapku dengan tajam. Aku duduk seperti yang ia suruh. Di kursi yang ada di depannya.


"Apa Lila mengatakan sesuatu padamu?"


Sepertinya om Edward juga sudah tau tentang wanita itu yang mengadu pada Lila.


Aku mengangguk. "Dia bilang Mamahnya melapor kalau papahnya punya kekasih."


"Lalu apa kata Lila?"


"Dia nggak percaya, katanya Om nggak mungkin mengingkari janji," kataku.


"Baguslah, belum saatnya dia tau. Aku punya satu misi lagi buat mu."


"Apa itu Om?" Aku mulai was-was, sepertinya tidak mudah kali ini.


"Kami harus membantuku meyakinkan Lila kalau ibu tiri itu tidak semuanya menyeramkan. Aku juga tidak akan berubah kalau sudah menikah lagi. Bisa kan."

__ADS_1


"Hah, tapi kenapa aku. Kenapa nggak om sendiri. Apa Om sudah ada calon, kalau begitu lebih baik dikenalkan pada Lila biar mereka saling mengenal, minimal bisa berteman lebih dulu. Harusnya pinter-pinternya calon Om membujuk Lila."


"Siapa bilang aku sudah punya calon. Tidak ada, aku hanya ingin Lila membuka diri untuk orang lain lebih dulu sebelum mencari calon istri."


"Baiklah, aku akan coba tapi aku tidak berjanji akan berhasil. Kalau begitu aku akan kembali ke kamar Lila sekarang, sebelum dia curiga." Aku bangun dari kursi tapi om Edward kembali menahanku.


"Tunggu!"


"Ya. Apa ada yang mau Om bicarakan lagi."


"Besok malam datanglah ke apartemen," katanya.


"Apa Om ada acara besok malam ?" tanyaku.


"Baiklah, aku akan datang besok. Kalau begitu aku permisi Om."


Untungnya aku kembali sebelum Lila kembali ke kamar. Jantungku hampir melompat keluar karena takut. Kalau sampai Lila tau aku bertemu papahnya, aku harus mencari alasan apa. Huh.


"Maaf ya lama, tadi aku minta bibi siapkan cemilan juga sekalian."


"Iya nggak apa-apa Lil. Tapi kamu jadi ketinggalan jauh kan dramanya."


"Nggak apa-apa, nanti aku nonton ulang."

__ADS_1


Malam itu aku masih selamat. Sebenarnya selama kami hanya bertemu di luar, akan aman. Tapi kadang-kadang, pria itu suka sekali membuat aku jantungan.


...


Esok malam pun tiba. Setelah dari rumah Lila. Aku langsung datang ke apartemen Om Edward. Untungnya Lila percaya saat aku bilang mau langsung pulang setelah selesai dan tidak banyak bertanya.


Sampai di depan apartemen, aku langsung memasukkan kode yang om Edward kirimkan lewat pesan.


Klek. Pintu terbuka setelah aku memasukkan kode. Apartemen orang kaya memang beda, tidak perlu bawa kunci kemana-mana.


"Om ...." Aku mencari keberadaan orang itu. Di ruang tamu tidak ada. Mungkin ada di kamar. Aku memutuskan untuk menunggu di ruang tamu saja.


Tak berselang lama terdengar suara langkah kaki. Om Edward keluar dari ruangan yang lain. Bukan kamar yang saat itu pernah aku masuki.


"Kau sudah datang?"


"Iya, sekarang apa yang harus aku lakukan Om?" tanyaku.


"Tidak perlu buru-buru, kau duduk saja. Sebentar lagi akan ada pengirim makanan datang. Aku akan menyelesaikan pekerjaanku sebentar."


"Ehh kita makan malam di rumah? Apa tidak jadi pergi?"


"Aku tidak bilang akan pergi. Kau hanya perlu menemaniku saja malam ini. Kau mau mandi atau ganti pakaian, ambil saja di kamarku."

__ADS_1


"Ah iya." Aku mengangkat ke dua bahu. bingung sendiri dengan yang pria itu lakukan. Dia memintaku datang hanya untuk menemaninya. Kenapa dia tidak pulang saja lalu makan malam dengan Lila.


__ADS_2