
Mandi yang kedua kalinya pun selesai, aku mematung di depan cermin setelah memakai kemeja Om Edward yang berwarna putih. Bagian dad4ku terlihat jelas karena tidak menggunakan br44.
"Astaga, aku malu. Bagaimana ini, jelas banget nggak dih?" Aku bingung sendiri bagaimana harus berhadapan dengan om Edward. Walaupun kami sebelumnya sudah pernah melakukan itu dan otomatis kami sudah pernah saling melihat semuanya tapi tetap saja itu terasa canggung. Apalagi kita hanya berdua di apartemen ini, bagaimana kalau terjadi sesuatu lagi. Ups, tidak. Aku bukan mengharapkan seperti itu, aku tidak mau mengkhianati Lila lagi.
Tok tok tok.
"Kenapa kau lama sekali, kau bisa sakit nanti."
"Ah iya sebentar Om."
Aku menarik nafas panjang lalu akhirnya memutuskan untuk keluar dari kamar mandi. Aku harap om Edward tidak menyadari kalau aku tidak memakai pakaian dal4m.
Aku keluar dari kamar. Dalam sekejap apartemen sudah dibersihkan atau aku yang terlalu lama di kamar mandi. Aku lihat om Edward juga sudah berganti pakaian dan sudah bersih kembali.
__ADS_1
"Om." Aku sangat canggung mau mendekat.
"Kau sudah selesai, duduklah." Om Edward menyuruhku untuk duduk di sofa bersamanya.
"Om, aku aku harus menginap lagi malam ini?" tanyaku.
"Kenapa, apa kau mau pulang sekarang? Kalau kau mau pulang akan aku antarkan."
"Baguslah, aku memang memintamu untuk menemani ku. Kau mau menonton sesuatu?"
"Boleh, terserah Om saja."
Om Edward memilih salah satu film yang dia punya lalu menyalakannya.
__ADS_1
Sepanjang menonton film aku selalu saja tidak nyaman karena pakaianku, sudah ku tutupi dengan bantal sofa untungnya lampunya juga dimatikan sebagian agar seperti ada di bioskop. Tapi nasibku begitu sial, ternyata film yang sedang diputar ternyata memiliki adegan yang cukup intim. Aku melotot melihat adegan yang begitu terbuka itu, pantaslah karena film itu film barat. Padahal dari awal aku sangat menikmati alur ceritanya yang bergenre thriller dan misteri tapi di tengah-tengah ternyata ada adegan seperti itu dan durasinya cukup panjang.
Aku melirik om Edward yang tampak tenang dan biasa saja melihat adegan itu. Aku pun sedikit tenang karena seperti dia sama sekali tidak terpengaruh. Namun, adegan itu bukan hanya satu tapi semakin ke belakang semakin banyak adegan tersebut. Dari yang sekedar ciuman sampai bergelut di atas ranjang.
Aku sampai berkeringat menonton film itu. Padahal di sana cukup dingin tapi rasanya seketika berubah jadi panas.
"Lebih baik kita lihat yang lain saja," ujar Om Edward. Rupanya dia juga merasa tak nyaman.
Om Edward pun menggantinya dengan film yang lain tapi sama juga, bahkan lebih dari yang tadi. Aku sampai melongo dan malu melihatnya. Apa jangan-jangan koleksi film om-om itu seperti itu semua ya.
"Maaf-maaf, ini semua milik temanku. Aku tidak tau kalau semua isinya seperti itu," ujar Om Edward gelagapan sambil memasukkan kembali kaset film itu ke dalam tempatnya.
"I—iya Om, sambungan lewat ponsel saja kalau begitu. Aku punya beberapa film bagus di ponsel. Sebentar, tapi di mana ponselku." Aku bangun dan mencari ponsel dan melupakan tentang pakaianku.
__ADS_1