Pesona Duren, Ayah Temanku

Pesona Duren, Ayah Temanku
Bab 35


__ADS_3

POV author


Mereka pergi sebelum perjamuan itu selesai. Fanya yang terkena masalah dengan orang yang cukup berpengaruh. Jadi Edward memutuskan untuk membawanya pulang karena tidak ingin ribut-ribut dan mempengaruhi reputasinya.


"Kita nggak apa-apa pulang duluan Om?" tanya Fanya merasa bersalah. Seharusnya dia lebih hati-hati agar tidak membuat malu om Edward.


"Hmm, kamu kira wanita itu akan diam saja setelah kau membuat masalah dengannya. Lebih baik kita pergi sebelum dia membuat masalah semakin melebar kemana-mana. Sudah aku kan bilang berhati-hati dan jangan jauh dariku," ujar Edward sedikit kesal karena gadis itu mengabaikan peringatannya.


"Maaf Om, aku cuma mau makan tadi. Aku benar-benar nggak sengaja ngelakuin itu. Tadi sebenarnya wanita itu yang menabrakku saat aku berbalik," terang Fanya jujur, sebenarnya memang seperti itu tapi dia tidak mengatakan yang sebenarnya tadi. Dia hanya meminta maaf dan mengakui kesalahannya karena ia rasa percuma menjelaskan, mereka sudah pasti tidak akan percaya.


"Lalu kenapa kamu meminta maaf kalau tidak bersalah. Apa kamu sudah bod0h!! Seharusnya kamu tidak membiarkan orang lain menginjak harga dirimu."

__ADS_1


"Om bisa bilang begitu, tapi aku mana mungkin punya keberanian seperti itu. Memang nya siapa aku, mereka pasti akan menganggap ku tetap salah walaupun menjelaskan."


"Kamu pasanganku, apa kau lupa. Kau datang ke sana bersama ku, itu artinya kau tidak harus menundukkan kepala pada orang lain."


Fanya hanya tersenyum tipis.


"Apa Om mengenal wanita itu, sepertinya dia mengenal Om?"


"Apa kau tidak merasa dia mirip seseorang?" Edward balik bertanya.


"Om, dia tidak mungkin—"

__ADS_1


"Sepertinya kamu sudah tau, ya memang seperti yang kamu pikirkan."


"Jadi benar, dia ibu kandung Lila? Pantas wajahnya mirip sekali. Mata, hidung dan bibirnya seperti Lila." Fanya sangat terkejut mengetahui hal ini. Jadi dia baru saja bertemu dengan ibu kandung Lila yang sudah bercerai om Edward, wanita yang meninggalkan putri dan anaknya hanya demi harta.


"Mereka memang sangat mirip, tapi untungnya hanya wajahnya saja yang mirip karena sifat Lila lebih banyak menurun dari ku. Kau sudah lihat sendiri bagaimana sikapnya kan, aku juga menyesal pernah mencintainya." Edward terkekeh sendiri mengingat betapa bucinnya dia pada mantan istrinya dulu bahkan sampai menangis dan memohon saat wanita itu ingin pergi.


"Ohh, iya aku yang baru bertemu saja bisa merasakan sikapnya yang buruk. Apa Lila masih sering bertemu ibunya?"


"Aku tidak pernah melarang dia mau bertemu ibunya, mereka juga bebas berkomunikasi. Tapi yang aku lihat, wanita memperlakukan Lila seperti putrinya. Tidak pernah menghubungi duluan, jika bukan Lila yang menghubunginya. Bertemu juga sangat jarang. Jika dulu aku perhatikan Lila seperti selalu memohon pada sang ibu agar dia bisa kembali atau agar mereka bisa bertemu tapi lama kelamaan mungkin Lila lelah karena ternyata wanita itu selalu mencari alasan untuk menolak bertemu."


"Ya ampun, kasihan sekali Lila. Bisa-bisa ada ibu yang tega begitu pada anaknya sendiri." Fanya tidak habis pikir dengan wanita yang lebih mengejar dunia itu padahal tidak ia bawa mati. Malah menyia-nyiakan putri sebaik Lila. "Kalau aku jadi ibunya Lila pasti bangga sekali punya putri yang baik dan cantik seperti Lila."

__ADS_1


"Kalau begitu kamu saja yang jadi ibunya."


"Hah! Gimana maksudnya Om?"


__ADS_2