
Saat sampai di rumah. Aku melihat mobil yang tidak asing terparkir di depan rumah ku. Aku membeliak saat menyadari siapa pemilik mobil itu. Aku harus segera turun.
"Pikirkanlah baik-baik tawaranku," ujar laki-laki itul lagi.
Aku sudah tidak mendengarkan, aku terlalu panik memikirkan keluargaku. Pikiranku saat ini adalah harus segera turun sebelum mereka melakukan sesuatu yang buruk pada keluargaku.
"Om, berhenti cepat Om. Hentikan mobilnya." Aku menyuruh Om Edward untuk menghentikan mobilnya karena aku ingin berlari agar lebih cepat. "Om cepat, hentikan mobilnya."
"Kenapa, itu rumahmu yang di depan kan."
"Berhenti di sini saja Om, cepatlah. Keluargaku dalam bahaya," kataku sambil berkaca-kaca.
Om Edward langsung menghentikan mobilnya saat itu juga. Aku langsung melepaskan sabuk pengaman dan bergegas turun sampai lupa mengucap terimakasih.
"Hai tunggu, pakailah payung ini!" teriak Om Edward dari dalam mobil tapi aku tidak perduli lagi kalau aku kehujanan. Yang penting aku mau menyelamatkan keluargaku dari para penagih hutang yang kadang bertindak kasar kalau tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Minggu ini aku memang belum membayar cicilan hutang ayahku. Karena kejadian tadi dan aku tidak berangkat bekerja aku jadi belum punya uang.
Aku berlari ke rumah, langsung membuka pintu lalu aku mendengar suara tangisan ibu dan adikku. Siapa lagi pelakunya kalau bukan mereka. Rentenir yang kejam, lintah darat yang semaunya sendiri.
"Berhenti !!" teriakku pada mereka semua. Aku sangat mendidih dan marah melihat mereka semena-mena.
"Hiks hiks hiks ... ampunilah kami Tuan. Tolong jangan tekan putriku lagi."
"Hahaha, lihatlah. Putrimu yang cantik sudah datang. Ohh sayang sekali kalau tidak memanfaatkan kecantikannya ini kan. Kemarilah sayang, datanglah padaku dan menikahlah denganku maka aku akan menganggap hutang ayahmu lunas. Hahaha." Pria yang duduk sambil menikmati rokoknya itu adalah bosnya. Dia selalu mengatakan hal itu jika bertemu, ingin menjadikan ku istrinya yang ke lima dan menganggap hutang ayahku lunas.
Cuuiihh, memangnya aku bod0h. Dia itukan Lintah darat yang akan mengh1sa4p dar4h siapapun sampai kenyang. Sebelum Kenyang, dia tidak mungkin melepaskan mangsanya. Tidak ada jaminan jika aku menikah dengan pria seperti dia lalu hutang ayahku lunas. Dia bisa saja berbohong lalu aku yang sudah terjerat dengannya tidak bisa terlepas begitu saja.
__ADS_1
"Heh pria tua, kamu nggak punya cermin di rumah kah? Kau itu sudah seperti kakek-kakek, mana mungkin aku menikah denganmu. Aku lebih pantas menjadi cucumu," kataku menantangnya.
"Kurang ajar kau! Sudah aku berikan penawaran yang bagus agar kamu tidak perlu bersusah payah bekerja untuk melunasi hutang yang akan terus bertambah bunganya. Tapi kamu tidak mau. Kamu cukup jadi gadis yang baik dan penurut, jadi istriku maka hutang semuanya lunas. Bagaimana, menarik bukan." Lihatlah wajah keriputnya benar-benar tidak tahu malu. Tidak ingat umur dan anehnya orang seperti itu malah berumur panjang.
"Lebih baik aku membayar hutang sampai aku mati dari pada aku harus menikah dengan kakek peot seperti mu."
Aku menghampiri ibu dan adikku yang sedang berlutut di lantai sambil menangis.
"Ibu, apa yang ibu lakukan. Untuk apa berlutut di depan lintah seperti dia."
"Biarkan, ibu nak. Ibu sedang meminta belas kasihan pada tuan Karto." Ibu tidak mau mendengarkan ku.
"Tuan, aku mohon lepaskan putriku. Biar aku saja yang menikah dengan mu. Aku mohon tuan."
"Ibu!! apa yang ibu katakan!" Aku benar-benar tidak habis pikir dengan ibu. Apa yang dia pikirkan, kenapa dia menawarkan hal seperti itu.
"Cihh, untuk apa aku menikah dengan janda tua seperti mu. Kau sama saja dengan istri-istri ku. Yang aku inginkan adalah putrimu yang masih segar dan masih muda. Coba pikirkanlah, serahkan putrimu padaku agar kalian terbebas dari hutang. Tidak ada ruginya menikah denganku, nanti kalian juga akan terciprat bagian . Hahaha." Aku benar-benar ingin memukul wajahnya yang peot itu. Kalau saja dia tidak datang bersama para bodyguard nya.
Aku membelalak saat tiba-tiba seseorang memukul wajah pria itu. Padahal aku baru memikirkannya. Itu kakak.
"Sialan kau!! Mau sampai kapan kau menekan adikku. Dia sudah membayar hutang beberapa tahun ini tapi kenapa jumlahnya masih banyak juga hah!! Sini maju kalau berani, kau sebenarnya nggak akan berniat membuat hutang ayah lunas kan, karena kau ingin adikku."
Pria tua yang sedang duduk itu sampai tersungkur terkena pukulan kakak. Aku sudah lama sekali tidak melihat kakak yang peduli dengan keluarganya. Akhirnya aku bisa melihat kakak yang seperti dulu.
"Brengs33k!! Pagangi dia!" perintah laki-laki tua itu.
"Kakak!!" aku memekik saat melihat dua orang bertubuh besar memegangi kedua tangan kakakku. Laki-laki itu pasti dendam pada kakak. Apa yang harus aku lakukan.
__ADS_1
"Lepaskan kakakku, aku akan melapor polisi kalau kalian berani macam-macam pada keluargaku."
"Hahaha, kau kira polisi akan mendengarkan kalian. Kerabat ku saja seorang aparat, kalian tidak akan bisa memasukan ku ke dalam penjara. Dan Kakakmu ini yang sudah kurang ajar padaku jadi aku harus memberinya pelajaran agar tidak kurang ajar!" Bug. laki-laki itu memukul perut kakak.
"Jangan!! Jangan sakiti kakak." Aku mau menyelamatkan kakak ku tapi beberapa orang menghalangi ku. Begitu pun dengan ibu yang meraung melihat putranya jadi bulan-bulanan lintah darat itu.
Aku segera berlari ke kamar untuk mengambil uang cicilan. Masih kurang sebenarnya, jadi aku tambahkan dengan uang yang mau aku gunakan untuk biaya studi tuor rencananya. "Ini dia uangnya." Padahal uangnya sudah terkumpul tapi sepertinya aku tidak bisa ikut studi tour.
"Nggak apa-apa lah, bayar hutang lebih penting."
Aku segera keluar untuk menyerahkan uang itu.
"Lepaskan kakakku, ini uang yang kau inginkan." Aku berteriak.
"Nak, uang dari mana? Nak apa kau memakai uang tabungan mu?" tanya ibu khawatir. Dia tau kalau aku belum punya uang untuk membayar cicilan Minggu ini.
"Nggak apa-apa Bu, kakak lebih penting sekarang," kataku.
"Ya ampun nak ... maafkan ibu ... lagi-lagi kamu harus berkorban untuk keluarga ini. Hiks hiks." Ibu ku menangis merasa bersalah. "Maafkan ibu yang tidak berguna nak."
"Ibu ... aku nggak apa-apa, uang bisa dicari lagi besok." Aku menenangkan ibu.
"Hai kalian! Lepaskan kakakku!" mereka berhenti memukuli kakak. "Ini cicilan Minggu ini, kalian bisa pergi."
Pria tua itu langsung menyambar uang yang aku berikan. "Nah begini, kenapa tidak dari tadi. Lepaskan dia."
Tubuh kakak ku pun terjatuh di lantai. Wajahnya sudah babak belur. Sangat kasihan. Tapi aku tidak bisa melawan balik mereka. "Kenapa kakak melakukan ini. hmmm"
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu kami akan pergi dan kembali lagi Minggu depan. Ingatlah kalau tawaranku masih berlaku, kau bisa datang kapanpun kalau kau sudah siap menjadi istriku. ingatlah hutang ayahmu masih dua ratus lima puluh juta. Kalau kau telat membayarnya, maka bunganya akan terus bertambah. Hahaha."
Kami semua lemas mendengar jumlah hutang yang bukannya berkurang setelah diangsur tapi malah semakin membengkak. Kalau begini seumur hidup aku hanya akan hidup dengan membayar hutang. Apa aku harus menerima tawaran om Edward? Tapi aku tidak tau apa maunya.