Pesona Duren, Ayah Temanku

Pesona Duren, Ayah Temanku
Bab 48


__ADS_3

POV Fanya


Setelah hari itu aku tidak membiarkan Lila pergi atau ketemuan berdua dengan laki-laki itu. Setelah aku perhatikan gelagat pria itu mulai aneh dan tidak biasa. Tidak seperti laki-laki baik yang sekedar pacaran tapi seperti menginginkan hal lebih. Itu dari caranya melihat Lila dan kadang matanya juga ketahuan sedang melirikku. Entah kenapa kadang aku merasa sedang diperhatikan karena itu aku tidak nyaman jika ada Kevin bersama kami.


Sampai sekarang aku juga belum mengatakan perihal Lila yang mempunyai kekasih pada Om Edward.


Hari ini rencananya aku akan ke kantor om Edward sore nanti. Kebetulan tidak ada jadwal mengajari Lila. Nanti aku akan coba mengatakannya perlahan, aku takut pria itu akan marah dan langsung menghajar Kevin. Ini akan buruk untuk hubungan om Edward dan Lila. Nantinya Lila akan semakin berontak kalau semakin dikekang.


"Bye Lila, jangan mampir-mampir ya. Ingat, langsung pulang," pesanku pada Lila saat kami berpisah di parkiran sekolah.


"Iya, dah... Kamu hati-hati bawa motornya." Mobil yang dinaiki Lila pun pergi.


Aku menuju motorku, motor yang om Edward belikan beberapa hari yang lalu. Sebenarnya aku membutuhkan motor ini untuk melakukan penyelidikan tentang Kevin. Ya, belakangan ini aku sibuk mengikuti Kevin ke tempat tongkrongannya untuk mencari tau sebanyak mungkin. Memang tidak ada informasi yang berarti sejauh ini. Aku juga berharap dia memang tidak sedang bermain-main dengan Lila. Apa dia tidak tau kalau papahnya Lila orang yang cukup berkuasa.


Sorenya. Setelah berpamitan pada ibu, aku pun pergi untuk menemui om Edward. Oh ya, keadaan adikku sekarang lebih baik. Dia sudah lebih mudah diajak berinteraksi dan berbicara dia juga sudah mulai menekuni hobinya yaitu melukis. Ibu jadi ada kesibukan baru, yaitu menemani adik terapi.


Aku mengendarai motor dengan kecepatan sedang. Di jalan aku juga mampir untuk membeli makanan untuk nanti aku makan di kantor Om Edward. Aku sudah beberapa kali datang ke sana, tentu saja datang diam-diam. Biasanya sore atau jika hari sudah petang dan karyawan sudah pada pulang. Hanya tinggal beberapa orang yang lembur. Aku tidak tau ada yang curiga atau tidak saat aku datang ke sana, dia sendiri yang minta jadi aku tidak perlu khawatir.


Beberapa saat kemudian, aku sampai di tempat tujuan. Penjaga di sana sudah hapal padaku dan langsung membukakan palang pintu yang ada di area masuk perusahaan. Mungkin Om Edward yang memberitahu.


Aku langsung naik ke lantai atas. Walaupun aman aku tetap menggunakan masker dan topi untuk menutupi wajahku.


Ting. Sampai juga di lantai atas.


Di sana hampir tidak ada orang yang bekerja. Di meja sekretaris juga tidak ada penghuninya. Sepertinya mereka sudah pulang. Ada beberapa orang yang masih bekerja tidak memperdulikan urusanku datang kemari. Ya, mungkin mereka memang sudah di beri bayaran lebih untuk tutup mulut.


Tok tok tok


"Om ...." Aku membuka sedikit pintu itu sebelum masuk. Walaupun aku sudah biasa datang tapi aku tidak lancang masuk begitu saja ke dalam kantor om Edward.


Om Edward yang sedang bekerja menoleh padaku. "Sudah datang, masuklah. Kenapa berdiri di situ."

__ADS_1


"Iya." Aku masuk lebih dalam ke ruangan itu. Sambil memperhatikan om Edward yang seperti biasa tampan, apalagi saat sedang serius.


"Duduklah dulu, aku akan menyelesaikan pekerjaanku," kata Om Edward.


"Iya, om tidak perlu buru-buru." Aku memilih untuk duduk di sofa, membuka makanan yang aku beli. Untungnya aku membeli makanan tadi jadi tidak bosan menunggu.


Selang beberapa saat, aku sudah menghabiskan makananku dan ku lihat om Edward masih sibuk dengan pekerjaannya. Aku lanjutkan dengan bermain ponsel.


"Hoaamm." Aku sampai mengantuk menunggu om Edward selesai. Kenapa orang itu aneh sekali sih. Suka menyuruhku datang tapi dia sibuk dengan dunianya sendiri. Tapi aku tidak berani bicara seperti itu, dia kan sedang bekerja. Siapa aku menyuruhnya berhenti.


Lebih baik aku membaca buku saja. Aku lihat banyak sekali bahan bacaan di rak buku yang ada di belakang Om Edward. Ada buku-buku dari penulis terkenal di sana yang bahkan tidak ada di pasaran karena terbatas jumlahnya.


"Om, aku boleh pinjam bukunya?" tanyaku.


"Hmm, ambil saja."


Aku pun berjalan ke sana untuk mengambil buku itu. Sayangnya setelah aku lihat dari dekat, ternyata letaknya sangat tinggi dan tanganku tidak sampai untuk mengambilnya.


"Kenapa tidak bilang kalau butuh bantuan." Suara bariton milik seseorang yang aku sangat kenal mengagetkanku dan tiba-tiba tangannya meraih buku itu tanpa bersusah payah.


"Sebenarnya kemana saja makanan yang kamu makan kenapa tidak membuat kamu tumbuh tinggi," ejeknya.


Aku mencebikkan bibir kesal. "Makanan yang aku makan kemana, apa Om mau tau? Nih ke dada sama pant4tku," jawabku dengan sebal. "Sini bukunya," punyaku.


"Cium dulu, baru aku berikan."


Kan, aku sudah menduganya. Orang itu mana mungkin membantuku tanpa mengharapkan imbalan. Walaupun kesal tapi aku tetap melakukannya, berjinjit lalu mencium pipinya.


Cup.


"Sudah kan. Sini bukunya."

__ADS_1


Tapi om Edward memang tidak mudah, dia bukan hanya mau cium di pipi saja sekarang dia menunjuk bibirnya yang seksi itu. Bibir yang selalu membuat aku lupa diri.


"Isshh ...." Aku menggerutu tapi tidak bisa apa-apa selain mengikuti maunya. Kalau tidak dia pasti tidak akan melepaskanku.


Cup. Aku menempelkan bibirku perlahan. Setelah itu aku menarik kepalaku menjauh tapi bukan om Edward namanya kalau puas hanya dengan menempel saja.


"Apa kau lupa bagaimana caranya berciuman yang benar."


"Hah tunggu— hemmmpp."


Om Edward memojokkanku ke rak buku dan menciumi bibirku. Memaksaku untuk membuka mulut dan lid4hnya pun menerobos masuk menggodaku.


Hah hah ... aku selalu kewalahan menghadapi Om Edward.


Cukup lama kami berciuman hingga membuat kami berdua kepanasan. Tangan om Edward juga sudah tidak bisa dikondisikan dan mulai masuk kemana-mana.


"Om." Aku berusaha mendorong tubuh pria itu menjauh.


Aku melihat wajah om Edward yang sudah memerah.


"Kau yang menggodaku dulu, sejak tadi lompat-lompat. Apa kamu kira aku tidak melihatnya."


Apa sih, aku lompat-lompat kan mau ambil buku.


"Om mau apa?" tanyaku saat tangan om Edward mau mengangkat ujung kaos yang aku kenakan.


"Mau melihat yang katanya hasil makanmu berada di sana."


"What's." Kenapa sih dengan pria itu. Aku kan hanya bercanda. Ya memang ukuran dad4ku di atas rata-rata tapi itu bukan karena makan.


Wajah itu menyeringai puas sekali keinginannya terpenuhi.

__ADS_1


__ADS_2