Pesona Duren, Ayah Temanku

Pesona Duren, Ayah Temanku
Bab 30


__ADS_3

Tubuhku menegang seketika saat sesuatu yang hangat mendarat di keningku. Aku tidak tau apa yang barusan terjadi tapi aku yakin kalau om Edward baru saja mencium keningku. Aku sampai berkeringat dingin, takut ketahuan kalau sebenarnya aku pura-pura tidur. Hampir saja aku mendorongnya menjauh, untunglah kejadian itu tidak berlangsung lama. Pria itu kembali menjauh setelah mencium keningku.


Lalu sekarang, setelah beberapa saat. Aku mendengar suara dengkuran halus dan teratur dari seseorang. Aku coba membuka mata perlahan memastikan kalau om Edward sudah tidur.


"Hah ... astaga!" Aku mengusap dada berulang kali, jantungku berdetak sangat kencang karena kejadian tadi. "Apa itu tadi, kenapa om Edward mencium kening ku. Apa maksudnya dia?" gumamku sambil memegang kening tempat om Edward mendarat bibir.


Aku melihat laki-laki itu pelan-pelan takut membangunkannya.


"Om ... Om Edward." Aku coba panggil tapi tidak ada jawaban. Sepertinya dia benar-benar tidur. Tapi kenapa dia jadi tidur di sini. Aarrggghhh!! aku semakin tidak mengerti dengan pria ini.


"Om, kenapa Om tidur di sini. Ihhh!! Kalau Om nggak mau pindah biar aku yang tidur di luar," omelku pada laki-laki itu. Aku yakin tidurnya belum terlalu nyenyak.

__ADS_1


Ternyata aku salah, om Edward sama sekali tidak bergerak saat aku membangunkannya. Aku menghela nafas panjang. Lebih baik aku yang mengalah dari pada kesal sendiri.


"Aaakkk!!" Baru saja aku mau turun dari ranjang tapi tiba-tiba tangan om Edward melingkar di perutku. "Om, lepas! Aku mau pindah," tukas ku sambil mencoba melepaskan diri.


"Tetaplah di sini, aku tidak akan macam-macam. Cuma mau tidur, tidur di sofa sama sekali tidak nyaman buatku," kata Om Edward yang enggan melepaskan pelukannya. Dia malah semakin merapatkan tubuhnya agar aku tidak pergi.


"Aku bisa tidur di sana, om tenang saja. Badanku kecil, pasti muat buatku."


"Nggak mau, Om. Lepas dulu, biar aku tidur di luar. Om!!" Ternyata tenagaku bukan apa-apanya. Sudah berusaha sekuat tenaga tetapi aku tidak bisa melepaskan diri.


Akhirnya aku pasrah menunggu pria itu sampai tertidur agar pelukannya sedikit longgar. Tapi kalau boleh jujur, rasanya sangat nyaman saat dipeluk seperti ini. Apa karena aku biasa tidur berpelukan dengan adik di rumah. Bahkan sekarang mataku mulai mengantuk, padahal tadi aku sama sekali tidak bisa tidur.

__ADS_1


...


Paginya. Bunyi-bunyian di pagi hari memaksaku untuk bangun dari mimpi indah semalam. Tidurku sangat nyenyak tidak seperti biasanya. Tidak ada hutang yang membayangi setiap malam. Aneh, aku rasa aku seperti meminum obat tidur.


"Eeuughhh." Tubuhku menggeliat melemaskan persendian ku yang kaku.


Mataku terbuka lalu aku melihat wajah seperti pria yang sangat tampan ada di depan mataku. Rambutnya berponi seperti boyband masa kini. Wajahnya juga sangat tampan. Aku tersenyum pada bayangan pria tampan itu.


"Apa aku masih bermimpi sekarang? Tampan sekali, member boyband mana pria ini, hehehe." Aku menyentuh hidung mancung itu dan menariknya. Ini mimpi, jadi pasti tidak akan sakit kan. Rasanya seperti nyata. Tapi kemudian aku tertarik pada sesuatu, sesuatu yang begitu indah dan berbentuk sempurna. Bibir yang selalu aku impikan kalau punya pacar.


"Tampan sekali sih, ya ampun gemas."

__ADS_1


Saat aku asyik bermain dengan bayanganku, tiba-tiba pria itu membuka mata. Aku hanya tersenyum karena masih yakin kalau itu hanya mimpi. Melanjutkan toel-toel wajah tampan itu.


__ADS_2