Pesona Duren, Ayah Temanku

Pesona Duren, Ayah Temanku
Bab 37


__ADS_3

POV Fanya.


Aku berdebar menunggu Lila menceritakan apa yang ibunya katakan. Aku takut wanita itu menceritakan hal yang bukan-bukan. Malam itu dia melihat kami bergandengan dan Om Edward juga membelaku di depannya. Dia yang kesal pasti mau membalas dendam padaku lewat Lila.


"A—apa yang mamahmu katakan, Lil? Kenapa kamu kelihatan sangat kesal."


"Gimana aku nggak kesal Nya. Masa Mamah bilang Papah punya pacar. Kamu tau kan aku paling nggak suka kalau papah dekat dengan perempuan."


Glek. Aku sudah menduganya, wanita itu pasti sengaja ingin membuat hubungan Lila dan om Edward bermasalah. Sepertinya dia tau kalau anaknya tidak suka melihat papahnya bersama wanita. Dia menggunakan celah itu untuk membalas dendam.


"Terus gimana reaksi kamu saat mendengarnya?" tanyaku.


"Aku ... marah laah sama Mamah. Dia nggak membahas apapun tentang aku tapi malah membahas Papah. Aku bilang saja kalau aku sudah tau dan sudah setuju, biar mamah kesal."


"Dia kesal dong, terus bilang yang jelek-jelek soal ibu tiri. Hidupku katanya akan menderita kalau papah menikah lagi. Banyak lagi yang lain. Aku kesal, lalu bilang padanya kalau pacar papah itu baik dan kami sudah kenal dekat. Aku juga bilang kalau aku nggak takut punya ibu tiri. Terus aku bilang, aku sudah biasa diperlakukan buruk oleh ibu sendiri. Wajah mamah langsung merah kesal karena aku nggak mendengarkan dia. Aku nggak peduli lagi, aku pergi dari sana," ujar Lila menceritakan apa yang terjadi.


Aku melongo mendengar jawaban dia tentang ibu tiri. Dia mengatakan itu semua karena kesal pada mamahnya ya. Tapi sebenarnya dia tidak ingin memiliki ibu tiri. Tapi yang membuat ku tercengang itu tentang dia yang bilang sudah kenal pacar papahnya karena memang benar dia sudah kenal denganku.


"Apa kamu percaya sama Mamah kamu? Kamu percaya Papahmu punya Pacar?"


"Nggak lah, Nya. Hemmm aku yakin Papah nggak akan mengingkari janjinya. Dia sudah berjanji nggak akan pernah dekat dengan wanita manapun kalau aku belum mengijinkan," kata Lila.


"Memangnya kenapa sih kamu nggak pengen punya ibu baru. Memang kamu nggak kasihan sama papah kamu, Lil. Bagaimana kalau dia sering jajan di luar karena nggak punya pasangan, kamu tau kan bahayanya kalau orang suka jajan di luar. Ups. Maaf-maaf Lil. Aku nggak bermaksud apa-apa."


Astaga kenapa aku harus menanyakan hal seperti itu pada Lila. Kenapa aku jadi kelihatan ingin sekali menjadi ibu tiri Lila. Tidak, bukan seperti itu maksudku.


"Kau benar, aku memang kadang kasihan pada Papah. Dia kesepian, pulang kerja nggak ada yang menyambut dia. Nggak ada yang melayani dia. Tapi aku takut punya ibu baru, Nya. Kau tau kan bagaimana Mamahku. Mamah kandungku saja seperti itu bagaimana dengan orang yang sama sekali nggak punya hubungan denganku."


"Aku mengerti Lil. Maaf ya, aku nggak bermaksud membuat kamu sedih."


"Nggak apa-apa, Nya. Aku lebih mendingan sekarang, setelah cerita ke kamu."

__ADS_1


...


Sekolah hari ini sudah selesai. Hari ini jadwalku untuk mengajari Lila. Jujur saja aku sangat gugup, takut bertemu dengan Om Edward.


"Lil, Papahmu di rumah nggak?" tanyaku. Aku memang tidak tau laki-laki itu ada dimana. Dia menghubungiku jika membutuhkanku saja. Akupun merasa tidak berhak untuk menanyainya. Hubungan kami kan tidak sungguhan.


"Papah, akhir-akhir ini sering lembur. Pulangnya malem. Kenapa, Nya? Jangan bilang kamu kangen sama Papahku ya. Aku tau Papahku ganteng, sudah aku bilang kan kamu pasti juga tertarik pada Papahku."


"Hahaha kau benar. Sepertinya aku memang mencintai Papahmu?!"


"What's!! Kau gila ya, aku nggak mau punya ibu tiri sepertimu."


Pak supir di depan sampai menegang tubuhnya mendengar perdebatan kami. Lalu sedetik kemudian kami pun tertawa.


"Hahaha dasar." Lila tertawa sambil memukuli lenganku.


Karena aku memang hanya bercanda mengatakan itu. Lila pun tau kalau aku hanya bercanda. Kami tertawa sepanjang jalan. Lila malah terus-terusan membayangkan aku jadi ibu tirinya.


Aku hanya tersenyum tipis. Dia bisa saja bicara seperti itu tapi aku tidak yakin kalau itu benar-benar terjadi. Dia pasti akan sangat marah padaku.


...


Malamnya, setelah belajar kami lanjutkan dengan menonton drama. Aku jadi tidak perlu buru-buru pulang karena sudah tidak bekerja di club. Aku ingin menghabiskan waktu lebih lama di rumah Lila. Om Edward juga belum pulang, Lila minta ditemenin sebentar lagi katanya.


"Nya, kamu benar-benar nggak punya perasaan apapun pada ketua OSIS. Dia kan naksir berat sama kamu, dia ganteng lohh. Apa kamu sama sekali nggak tertarik padanya?"


"Nggak, repot urusannya. Aku bisa dikeroyok satu sekolah kalau pacaran sama dia. Apalagi gengnya Jingga yang barbar itu. Aku nggak mau berurusan dengan mereka. Aku cuma mau sekolah dengan tenang, lulus terus kuliah deh."


Lila bertepuk tangan.


"Dua jempol buat kamu, Nya. Aku juga ingin seperti kamu, nanti kita kuliah di kampus yang sama ya."

__ADS_1


"Boleh kalau kau lulus ujian masuknya, hehehe," ledekku sambil bercanda.


"Tenang saja, kalau nggak lulus nanti aku minta Papah yang urus. Hihihi."


"Aahh kamu curang!" Aku mencubit pipi Lila.


Lila mengambil gelas, sepertinya dia mau minum tapi air di kamar sudah habis.


"Aku ambil minum dulu ya," kata Lila.


"Iya," kataku.


Lila pergi dan aku di kamar sendirian. Masih menonton drama yang sama. Aku terlalu fokus sampai tidak sadar kalau yang masuk ke dalam kamar bukan Lila.


"Cepet banget Lil."


"Ehheemm." Ehh Kenapa seperti suara berat laki-laki.


Aku mendongak dalam posisi tengkurap. Ternyata om Edward sudah ada di depanku.


"Om?!" pekikku terkejut.


"Ikut aku, ada yang mau aku bicarakan."


"Tapi Om, gimana kalau Lila kembali?"


"Tidak apa-apa, kamu bisa cari alasan."


Hah ....


Tanganku ditarik begitu saja oleh om Edward.

__ADS_1


__ADS_2