Pesona Duren, Ayah Temanku

Pesona Duren, Ayah Temanku
Bab 53


__ADS_3

Saat ini Lila sedang bermanja pada ibu dari Fanya. Sepertinya dia sudah merasa sangat nyaman berada di keluarga temannya itu. Ibunya Fanya juga tidak pernah membedakan siapapun, dia selalu bersikap baik pada semua orang.


Fanya tersenyum bahagia melihat semua orang di sana tersenyum. Termasuk kakaknya yang baru tau pemilik perusahaan tempat dia bekerja ternyata ayah dari teman adiknya. Dia pun berterima kasih karena diberi kesempatan untuk bekerja dan berjanji akan berusaha membuktikan kemampuannya.


Malam semakin larut, semua orang sudah selesai makan malam. Saat ini seseorang sedang mempersiapkan diri untuk mengatakan hal yang sangat penting pada semua orang. Dia memperhatikan sekitar, putrinya yang sedang asyik bercengkerama dengan teman dan ibu temannya serta ada seorang kakak yang sedang memanjakan adiknya juga.


Dia sudah berdiri di hadapan mereka bersiap untuk mengatakannya.


"Semuanya, ada yang ingin saya bicarakan mengenai hubungan saya dengan Fanya."


Semua orang langsung menghentikan aktivitasnya dan menoleh dengan wajah kebingungan. Kecuali Fanya, wajahnya tampak pias sekarang. Dia menggeleng, dan memasang wajah memelas agar pria itu tidak mengatakan apapun.


"Se—sebenarnya saya dan Fanya sudah lama menjalin hubungan dan kami saling menyukai. Saya juga sangat serius pada Fanya, rencananya setelah lulus nanti aku akan menikahinya." Om Edward berbicara tanpa terputus. Lega rasanya setelah mengungkapkan semuanya.


Semua orang memandang Fanya meminta penjelasan.


"Apa benar itu nak?" tanya sang ibu.


"Bu ... aku minta maaf, Lila aku minta maaf." Fanya tidak siap jika sekarang akan menerima kemarahan semua orang. Dia hanya bisa menangis menyesali perbuatannya yang sudah lancang mencintai papah temannya sendiri.


"Lila aku ... sungguh minta maaf."


Sekarang semua orang memandang wajah Lila. gadis yang bergeming tanpa menunjukkan ekspresi apapun.

__ADS_1


"Kenapa kau tidak mengatakannya dari awal? Sejak kapan kamu menjadi kekasih Papahku?" tanya Lila.


"Nak, papah bisa jelaskan. Papah yang memaksa Fanya untuk menjadi kekasih Papah. Fanya tidak bersalah, dia justru sangat memikirkanmu selama ini." Om Edward mulai cemas melihat reaksi putrinya.


"Fanya jawab aku! Sejak kapan kau menjadi kekasih Papah! Jadi benar kata mamahku kalau papah punya pacar dan itu kamu?"


"Lila ... maaf, aku nggak bermaksud bohong tapi aku takut kamu marah dan kecewa padaku," ujar Fanya.


Semua orang di ruangan itu tegang menunggu keputusan Lila. Fanya sudah pasrah jika dia diminta untuk menjauh dari hidup Om Edward.


"Fanya aku kecewa padamu, kenapa kamu tidak mengatakannya dari awal kalau kau menyukai papah. Bukankah sudah aku bilang aku mau punya ibu tiri asalkan itu kamu. Kalau aku tau, aku tidak akan bilang kalau aku papah menikah lagi. Tapi kalau denganmu, tentu saja aku mengijinkan."


Deg. Fanya tidak percaya dengan apa yang dia dengar barusan. Dia kira Lila marah padanya tadi tapi sekarang gadis itu mengatakan hal itu sambil senyum-senyum sendiri dan bahkan memeluknya.


"Aku senang kalau kamu yang jadi ibu tiri ku, kalau orang lain aku nggak akan biarkan papah menikah lagi."


"Nggak donk, buat apa marah dapat ibu tiri cantik, baik dan pintar," ucap Lila sambil cengengesan.


Akhirnya pembicaraan serius pun terjadi. Malam itu di ruang rawat inap rumah sakit ternama lelaki bernama Edward resmi melamar Fanya dan mereka pun bertunangan malam itu juga. Namun, karena Fanya masih sekolah jadi pernikahan di tunda sampai dia lulus sekolah.


Jari manis Fanya sudah terisi sebuah cincin yang entah kapan disiapkan pria itu.


"Bagaimana, kamu suka cincinnya?"

__ADS_1


"Om kapan menyiapkan ini, kok bisa pas di jariku."


"Saat kamu tidur aku mengukurnya. Hebat kan."


"Dihhh. tapi bagus, aku suka. Terimakasih Om."


Cup. Pria itu tiba-tiba menyambar bibir Fanya yang disaksikan oleh orang-orang di ruangan itu. Sontak Lila pun menjerit kegirangan melihat keromantisan mereka.


"Sabar Pah, belum resmi," ledek Lila.


Wajah Fanya pun Semerah kepiting rebus sekarang. "Om ..." protesnya.


"Kenapa, sekarang kamu sudah resmi menjadi milikku."


"Ihh belum, kan belum nikah."


"Isshh, apa tidak bisa nikah Agama dulu. Ini ularku rasanya pengin bersarang terus di l0bangnya," bisik pria itu tak tau malu.


"Ooommm!!" Fanya geleng-geleng kepala dengan tingkah pria itu.


"Hahaha."


...****************...

__ADS_1


......**TAMAT......


Terimakasih yang sudah mengikuti cerita si Om dan Fanya. 🥰🥰🥰**


__ADS_2