
"Lihatlah dia, katanya nggak mabuk tapi tadi menari-nari seperti orang gilaa, nyanyi-nyanyi sendiri terus sekarang sudah seperti orang pingsan."
Aku menghela nafas saat melihat kekacauan yang terjadi di dalam apartemen itu. Tempat yang tadinya rapi dan bersih sekarang penuh sampah dan barang-barang juga berserakan di mana-mana. Tentu saja itu karena perbuatan pemiliknya yang kehilangan kesadaran.
Tapi aku cukup terhibur juga melihat om Edward seperti itu. Sepertinya banyak orang yang tidak tau kalau laki-laki akan bertingkah seperti ini kalau mabuk. Aku seperti punya hiburan dadakan. Xixixi.
Beberapa saat kemudian. Akhirnya aku selesai juga membereskan apartemen itu.
"Hah, akhirnya selesai juga," ucapku sambil mengelap keringat yang membasahi kening.
Aku beristirahat sebentar, duduk bersandar di sofa sambil memandangi laki-laki yang tertidur tertelungkup di atas sofa. Dia tertidur sangat pulas setelah mabuk berat. Padahal masih menggunakan kemeja kerjanya.
"Apa aku pindahkan ke kamarnya saja ya. Kasihan juga kalau dia tidur seperti itu. Ya, biar aku saja yang tidur di sofa nanti."
Perlahan aku menggoyang lengan om Edward yang menjuntai ke bawah agar dia bangun karena tidak mungkin aku menggotong tubuhnya yang tinggi dan besar.
__ADS_1
"Om, Om bangun Om. Pindah ke kamar gih." Si Om sama sekali tidak terbangun, hanya menggeliat sebentar tapi setelah itu tidur lagi.
"Om ... ayo bangun, Om juga belum mandi. Bangun ayo, Om bau alkohol." Kali ini aku mengguncang nya dengan cukup keras.
"Eeuughhh, ada apa??" Dia berbalik jadi terlentang tapi tetap tidak bangun juga.
Kalau dia tetap tidur di sini aku harus tidur di mana? Tidak sopan kan kalau aku masuk begitu saja ke dalam kamarnya.
"Om ...." Aku menarik tangannya tapi tenagaku yang kecil tak cukup kuat untuk membuat tubuhnya terbangun. "Eh ehh Om!" Aku memekik saat tubuhku tidak seimbang dan malah terjatuh ke atas tubuh pria itu.
"Sedang apa kamu? Apa kau mau mencuri kesempatan saat aku sedang tidur!"
"What's!! Apa maksud Om. Aku tadi sedang membangunkan Om tapi aku malah terjatuh." Seenaknya saja bilang aku memanfaatkan kesempatan.
"Ohh ya, kalau begitu kenapa masih di sini. Apa kau menikmatinya?"
__ADS_1
"Hah." Aku bergegas bangun tapi tangan Om Edward menahannya. "Lepas Om, aku mau bangun," pintaku sambil berusaha melepaskan diri.
"Sudah terlambat. Kamu yang mulai."
"Ya ... hemppp!" Mataku melebar saat tiba-tiba Om Edward mencium bibirku. Menahan tengkukku dan memeluk pinggangku. Aku benar-benar tidak bisa lepas dari jeratan duda keren ayah dari temanku ini. Oh astaga, bagaimana aku bisa melakukan ini. Aku sudah mengkhianati Lila.
"Om ... mmmppp." Aku memukulinya agar melepaskan ku tapi dia malah semakin gencar melakukan aksinya. Tangannya mulai masuk ke dalam baju dan mengusap punggung ku.
Pria itu sudah terlalu mabuk, sepertinya dia tidak tau apa yang sedang dia lakukan saat ini. Aku harus melepaskan diri.
"Aakk, Om! hah hah ..." Akhirnya aku bisa melepaskan diri. Pasti wajahku saat ini sudah memerah. Anehnya jantungku juga berdebar-debar. Perasaan apa ini.
Kami sudah sama-sama duduk di sofa. Pria itu seperti tidak melakukan kesalahan, wajahnya biasa saja. Sementara aku dibuat berdebar seperti ini. Sepertinya hanya aku yang merasa seperti itu. Atau dia sudah biasa berciuman dengan wanita manapun.
"Isshh dasar keterlaluan," umpatku sambil mengerutkan bibir saat pria itu berlalu begitu saja, hilang ditelan pintu kamar. "Dasar nggak sopan santunnya sudah cium orang sembarangan!" Aku segera mengambil tisu untuk menghapus bibirku dari bekas laki-laki itu karena kesal.
__ADS_1