
POV author.
Paginya saat matahari mulai terbit di sebelah timur. Sinar keemasannya mulai menerpa dedaunan. Dua orang insan manusia yang semalam telah bekerja keras masih berada di bawah selimut yang sama. Mereka kelelahan setelah semalam bertempur dan baru bisa memejamkan mata belum lama ini. Tapi mereka pun terpaksa harus terbangun karena hari ini bukanlah hari libur.
Fanya terbangun lebih dulu dengan tubuh yang terasa sakit semua. Entah berapa kali semalam pria itu menggempurnya. Mungkin karena menduda terlalu lama jadi dia sangat buas seperti singa yang sudah berhari-hari tidak makan. Fanya mau istirahat sebentar saja tidak dibiarkan. Teringat kejadian semalam saat Fanya memohon karena sudah sangat lelah dan mengantuk.
"Om, sudah ya. Aku capek."
"Satu kali lagi, nanggung."
Laki-laki itu kembali menyerang Fanya dengan menyentuh titik sensitifnya. Fanya yang sudah mengantuk sekali pun kembali terpancing. Akhirnya bukan hanya sekali lagi tapi tiga kali lagi mereka lakukan.
"Aaakkk kenapa aku bisa seperti itu, kenapa aku sangat menikmatinya tadi malam." Fanya menutup wajahnya malu sendiri.
__ADS_1
Seharusnya dia tidak melakukan itu semalam tapi setelah mendengar laki-laki itu seperti serius menginginkan dia jadi istrinya, Fanya jadi terbuai. Sekarang dia seperti menyesali nya. Bagaimana kalau semalam dia hanya karena terbawa suasana dan tidak benar-benar menginginkan Fanya untuk jadi istrinya. Mau menyesal rasanya percuma karena sudah terjadi. Fanya juga tidak bisa apa-apa karena laki-laki itu sudah banyak membantu keluarganya. Anggap saja itu sebagai gantinya, dari pada dia harus menjajakan diri dengan banyak laki-laki lebih baik dengan satu laki-laki saja.
'Ya, aku anggap itu sebagai balas budi karena om Edward sudah baik sekali pada keluargaku.'
Jika nanti pria itu sudah bosan, Fanya akan kembali menjalani kehidupannya. Meski sudah tidak lagi memiliki kehormatan, tidak masalah jika tidak ada yang mau dengannya. Dia akan hidup untuk keluarganya saja.
Fanya melihat jendela, sudah mulai terang di luar sana tapi pria itu masih memeluknya, Bagaimana dia bisa bangun dan mandi. Dia kan harus sekolah.
"Om, lepas dulu Om. Aku mau mandi," rengek Fanya.
"Hmmm ... sebentar lagi saja."
"Ini sudah siang Om, aku bisa ketinggalan bus nanti." Di ibu kota yang cukup padat penduduk nya dan di kenal dengan kemacetannya, tentu saja Fanya harus berangkat lebih pagi karena dia harus berdesakan di dalam bus untuk berangkat ke sekolah. Belum lagi jalanan macet.
__ADS_1
"Nanti aku antar."
"Hah. Ih nggak mau nanti Lila lihat bagaimana. Enggak ah, aku naik bus aja." Fanya berusaha melepaskan pelukan pria itu tapi tubuhnya terlalu lemas dan habis tenaga buat semalam.
"Kau yakin mau naik bus. apa tubuh mu tidak sakit."
Membahas hal itu tentu saja membuat Fanya malu setengah mati. Ini kan gara-gara kamu Om, dia merutuki pria itu dalam hati.
Edward melepaskan pelukannya karena kasihan, dia ingin lihat apa gadis itu masih punya tenaga untuk bangun. Terang saja seperti dugaannya, Fanya kesusahan bangun dan berjalan.
"Aaawww!! Apa yang Om lakukan sebenarnya, kenapa pinggang ku sakit sekali." Fanya menggerutu. Rasanya seperti mau patah saja.
Edward malah tertawa melihat Fanya kesakitan.
__ADS_1
"Bukankah sudah aku bilang, kau akan kesakitan."
"Ini karena Om, Om seperti singa semalam. Huaaa!!!" Fanya menangis.