
Untungnya pria itu masih punya perasaan, dia membantu Fanya ke kamar mandi dan membantunya mandi juga walaupun dia juga sedikit mengambil kesempatan raba-raba semaunya.
"Om, jangan di situ!!" lagi-lagi Fanya berteriak karena tangan pria itu dengan sengaja menyentuh area terlarang.
"Maaf, tidak sengaja," katanya beralasan.
"Hufftt, om sengaja kan. Aku sudah kesakitan seperti ini, aku nggak mau lagi!" ujar Fanya to the point.
"Iya, iya aku tau."
Adegan mandi dan memandikan itupun selesai juga mesti agak lama karena pria itu terus saja membuat Fanya kesal. Mereka sedang sarapan sekarang, dari makanan yang dipesan dari luar karena sudah tidak ada waktu lagi untuk memasak.
"Yang aku katakan semalam itu serius, setelah kau lulus nanti kita akan menikah. Jadi kau punya waktu satu tahun lebih untuk meyakinkan Lila. Aku tidak menerima penolakan, kau harus bertanggungjawab karena sudah membuat aku kecanduan tubuhmu."
Fanya sampai tersedak makanan yang sedang dia makan.
"Uhuukk uhukkk uhhukk!"
Edward pun dengan cekatan mengambil minum dan membantu menepuk punggung Fanya.
"Pelan-pelan saja makannya."
__ADS_1
Gluk. Fanya meminum air hingga tandas. Rasanya dia sangat kesal dengan ucapan pria itu. Apanya tanggung jawab, kenapa jadi dia yang harus tanggung jawab.
"Aku nggak mau, aku masih mau kuliah dan kerja untuk membahagiakan keluarga ku."
"Kamu tidak perlu memikirkan itu semua, keluarga mu akan aku jamin semuanya. Kau juga masih bisa kuliah nantinya dan bekerja. Aku tidak akan melarangmu. Kita hanya perlu menikah itu saja dan kau jadi ibu baru Lila sekaligus istriku."
Gampang sekali pria itu mengatakan hal itu.
"Om, kenapa harus aku. Aku nggak pantas buat Om, pasti banyak wanita yang lebih cocok untuk om di luar sana kan."
"Hhmm iya banyak tapi tidak ada yang bisa mengambil hati Lila. Berbeda denganmu."
"Hmm, itu tugasmu selama setahun ini."
Fanya ingin sekali meninju wajah pria itu dan menghancurkan ketampanannya. Dia itu berpikir bagaimana cara Fanya harus meyakinkan Lila.
"Kalau nanti Lila nggak mau juga bagaimana?"
"Pasti dia mau."
Fanya benar-benar dibuat kesal.
__ADS_1
"Terserah Om laah." Fanya makan lagi, dia harus mengisi energinya yang sudah terkuras habis. Setelah ini dia akan membersihkan sisa-sisa semalam yang berserakan di lantai sebelah pergi. Rasanya tidak enak kalau sampai ada yang lihat.
Selesai makan, Fanya pergi ke kamar tapi ternyata benda seperti balon yang bisa ditiup itu sudah tidak ada. Padahal ada banyak tadi. Astaga, dia malu sendiri melihat ada banyak bekas itu. Bisa di bayangkan berapa banyak mereka melakukannya.
"Kau cari apa?" tanya Edward mengagetkan Fanya yang sedang melamun.
Huh, hampir saja jantungnya mau loncat.
"Ini kamarnya kok sudah bersih Om. Siapa yang membersihkan nya." Setau Fanya tidak ada siapapun yang datang ke apartemen itu.
"Aku, kenapa? Apa kau mau menghitung jumlahnya?" Tawa laki-laki itu pecah melihat Fanya panik dan malu.
"Aku cuma mau membersihkannya, takut ada yang lihat." Fanya membuang muka.
Tiba-tiba Edward mendekat dan berbisik di telinga Fanya. Membisikkan sesuatu yang membuat Fanya melebarkan matanya.
"Kita bahkan sudah menghabiskan satu kotak semalam."
"What's!! Om gilaaa, singa gilaaa!!"
"Hahahaha...."
__ADS_1