Pesona Duren, Ayah Temanku

Pesona Duren, Ayah Temanku
Bab 45


__ADS_3

POV Fanya


Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat. Sekarang aku sudah kelas dua belas di sekolah menengah atas. Begitupun dengan Lila. Kami masih duduk di kelas yang sama. Hubunganku dengan Lila sejauh ini baik-baik saja, kami juga masih belajar bersama sampai sekarang. Nilai Lila di sekolah juga banyak kemajuan. Aku bangga padanya yang mau belajar dengan giat hingga memiliki nilai yang jauh lebih baik.


Lalu bagaimana dengan hubunganku dengan papahnya Lila? Kami masih menjalin hubungan diam-diam di belakang Lila. Pernah beberapa kali hampir ketahuan tapi rupanya kami masih selamat. Aku sudah beberapa kali meminta pada Om Edward untuk menyudahi hubungan kita tapi dia tidak mau. Laki-laki itu sekarang sangat bucin padaku.


Ya, aku bilang dia sangat bucin padaku. Dia terus menempel padaku jika ada kesempatan. Bahkan saat aku sedang berada di rumahnya dan belajar dengan Lila, dia sering sekali mencuri kesempatan untuk berduaan denganku. Dia seperti orang yang berbeda dari orang yang pertama yang aku kenal. Aku hampir gilaa meladeni sikapnya yang sekarang. Kemana perginya laki-laki tampan yang dingin dan cuek itu kenapa dia sekarang jadi seperti ini.


"Fanya, kamu ngelamun apa?" Lila mengagetkanku. Aku sedang memikirkan Papahmu, Lila. Sayangnya aku hanya bisa berkata dalam hati.


"Nggak apa-apa, mana pesananku?"


"Nih baksonya."


"Makasih sayang," kataku sambil menggodanya.


"Ihh jijay deh..."


Kami sedang makan di kantin hanya berdua karena memang tidak banyak yang mau berteman denganku. Bisa dibilang hanya Lila yang mau berteman dengan ku. Aku sadar kalau aku bisa sekolah di sana karena beasiswa, jadi aku tidak masalah kalau mereka tidak mau berteman dengan ku karena aku miskin. Aku juga tidak butuh mereka, awalnya aku juga tidak mau berteman dengan Lila tapi karena dia terus mengganggu ku, entah mulai kapan kita jadi dekat.


"Kamu kenapa, sekarang gantian kamu yang melamun?" tanyaku sambil kunyah-kunyah.


"Nggak apa-apa, hehehe."


Aku melihat Lila penuh curiga, sepertinya belakang ini ada yang aneh dengan dia. Jadi sering melamun sambil senyum-senyum sendiri.


"Bener, nggak ada apa-apa? Kok aku nggak percaya."


"Beneran Nya," jawab Lila sambil tersenyum malu.

__ADS_1


Ya sudahlah, asalkan bukan masalah yang berarti. Aku tidak mau ikut campur terlalu jauh. Walaupun begitu kadang aku mengkhawatirkan Lila, sebagai teman yang melihatnya tumbuh dewasa. Dari kelas satu SMA kami sudah saling mengenal dan sekarang Lila tumbuh dengan baik dan semakin cantik. Apalagi dia anak dari seorang pengusaha pasti banyak laki-laki yang mengincarnya. Aku perhatikan memang banyak laki-laki di sekolah ini yang sering melihat Lila diam-diam. Asalkan mereka tidak menganggu Lila, aku tidak akan maju.


Bagaimanapun om Edward juga berpesan padaku untuk memperhatikan Lila. Dia terlalu polos dalam hal itu. Aku takut dia hanya dimanfaatkan atau dipermainkan oleh para lelaki itu. Aku yang pernah bekerja di tempat hiburan malam, tau sekali wajah-wajah laki-laki hidung belang yang sukanya main-main saja.


"Permisi."


Suara seseorang laki-laki menyita perhatian kami. Aku yang sedang makan pun berhenti lalu melihat siapa itu datang ke meja kami.


Siapa dia, aku tidak pernah melihatnya di kelas. Berarti dia dari kelas lain. Tapi kenapa dia terus melihat Lila.


"Maaf, ada apa ya?" tanyaku agar dia berhenti memandangi Lila.


"Ohh hehe, ini aku membelikan kalian Boba. Kalian mau?" tangannya.


Astaga, apa-apaan ini. Aku tidak suka boba, huhh. Aku mengerutkan kening, kenapa tiba-tiba dia membelikan kami boba. Tunggu, sepertinya aku tau. Boba itu kan minuman kesukaan Lila. Jangan-jangan mereka???


"Terimakasih," ujar Lila dengan melempar senyum manisnya.


"Nggak —"


"Boleh silahkan," ujar Lila. Dia membuat aku tercengang.


"Terimakasih."


Laki-laki itu duduk di kursi yang ada disebelah Lila. Agak jauh dan terlihat malu-malu. Sama halnya dengan Lila yang saat ini menunduk malu.


Ada apa ini, apa ada sesuatu diantara mereka? aku frustasi sendiri, bagaimana aku menjelaskan pada Om Edward kalau begini. Anak gadis kesayangannya mulai berani pacaran.


"Lila," panggilku sambil memberi kode. Aku butuh penjelasan Lila.

__ADS_1


"Ehh iya, Fanya perkenalkan dia anak kelas sebelah. Dia pacarku."


"What's!! Lila, kamu bercanda??" tanyaku sungguh terkejut. Bagaimana aku tidak tau kalau Lila sedang dekat dengan seseorang.


"Nggak, kami baru jadian kemarin," jawab Lila sambil tersenyum malu.


Rasanya kepalaku berdenyut sekarang, aku memang tidak berhak melarang Lila untuk dekat dengan siapapun tapi walau bagaimanapun om Edward sudah berpesan padaku untuk menjaga Lila. Lalu sekarang apa yang harus aku lakukan, aku sama sekali tidak mengenal laki-laki ini. Dilihat dari wajahnya sepertinya cukup bisa dikatakan pria baik tapi kita tidak bisa menebak hanya dengan melihat wajahnya saja.


"Lila, temenin ke toilet sebentar yuk. Aku kebelet," pintaku pada Lila. "Nggak apa-apa kan, kami tinggal sebentar. Oh ya, siapa namanya? Kita belum kenalan." Aku hampir tiga tahu bersekolah di sana tapi tidak banyak tau nama teman-temanku.


"Aku Kevin." Laki-laki itu memperkenalkan diri.


"Ok baiklah, aku pinjam Lila sebentar ya." Aku menarik tangan Lila.


"Tunggu sebentar ya." Lila melambaikan tangan pada anak bernama Kevin itu.


Sampai di lorong toilet yang sepi, aku berhenti dan menatap Lila dengan penuh pertanyaan.


"Katakan, sejak kapan kamu dekat dengannya? Kenapa mendadak sekali sudah pacaran, apa kamu sudah mengenalnya? Apa kamu tau dia seperti apa, suka bermain di mana, kelakuannya bagaimana? Apa kamu sudah mengenalnya sejauh itu sebelum memutuskan untuk berpacaran dengannya? Jelaskan Lila?" Aku frustasi karenanya. Aku seperti punya anak perempuan yang takut dibohongi oleh laki-laki.


"Hahaha, kau lucu sekali Nya. Sudah seperti orangtuaku saja, bahkan papah dan mamah saja nggak peduli aku mau berbuat apa. Huh."


"Kata siapa Lila, papah kamu itu sangat peduli dan menyayangi kamu," kataku sedikit meninggi.


"Kamu tau dari mana, Nya. Papah bahkan nggak pernah bertanya bagaimana sekolahku dan apa saja yang aku lakukan. Dia selalu sibuk bekerja dan bekerja. Tapi terimakasih kamu sudah peduli denganku. Aku memang belum mengenal dia lebih jauh karena aku pikir kami hanya pacaran bukan mau menikah. Hihihi." Lila terkekeh geli.


"Tapi tetep saja, bagaimana kalau dia hanya mau mempermainkan kamu Lila. Kamu itu sangat polos, apa kamu tau."


"Nggak apa-apa Nya. Aku juga nggak akan terlalu serius kok. Cuma buat senang-senang saja. Oh ya, kamu jangan bilang apapun pada papah ya. Aku akan marah kalau kamu bilang pada papah ku. Janji ya," pinta Lila.

__ADS_1


"Tapi kamu juga janji akan jaga diri dengan baik. Ingat Lila, jangan mudah percaya dengannya. Ok. Aku sayang padamu, Lila. Aku nggak mau kamu kenapa-napa." Baru pertama kalinya aku mengatakan hal seperti ini pada Lila. Aku benar-benar mengkhawatirkannya sekarang.


"Iya, aku janji."


__ADS_2