
Akhirnya aku bisa makan juga. Makanan di pesta itu sangat lezat, aku mencoba semuanya satu persatu.
"Ya ampun, ini enak sekali," gumamku saat memakan kue yang sangat lembut. Aku sampai mengambil kue yang sama beberapa kali. Kunyah-kunyah semaunya, mumpung tidak ada om Edward di sini. Terserahlah dia kemana, nanti aku akan mencarinya setelah kenyang.
Namun, sesuatu terjadi. Saat aku sedang asyik memakan kue. Tak sengaja aku menabrak seseorang hingga kue yang ada di atas piring pun tumpah dan mengenai gaun wanita itu.
"Astaga!! Mati aku." Perasaanku sudah tidak enak. Berurusan dengan orang kaya adalah hal yang memuakkan.
"Aaakk!! Kau mengotori gaunku!! Apa kau tidak tau berapa harganya gaun yang aku pakai. Aku yakin wanita sepertimu tidak akan mampu membelinya." Wanita itu marah besar, ini kesalahanku yang sudah membuat gaunnya kotor.
"Maafkan saya Nyonya, saya benar-benar tidak sengaja melakukannya. Maafkan aku."
"Maaf-maaf!! Kau kira maaf saja sudah cukup untuk mengembalikan gaunku seperti semula." Wanita itu marah-marah dan menakutkan, wajahnya saja yang cantik tapi sikapnya buruk.
Seketika keributan kami pun menjadi tontonan. Wanita itu yang tidak mau memaafkanku dan terus marah-marah. Parahnya dia menyuruhku untuk berlutut meminta maaf di hadapan semua orang.
"Nyonya, saya rasa ini berlebihan. Kalau Anda menyuruhku untuk membersihkan gaun Nyonya saya mau tapi berlutut ... saya rasa tidak perlu," kataku dengan berani.
"Heh!! Kamu berani padaku, kamu tidak tau siapa aku?!"
__ADS_1
Aku menggeleng dengan polosnya, ya memang aku tidak tau siapa dia. Bahkan semua orang di pesta itu aku tidak kenal, hanya om Edward saja yang aku kenal.
"Pantas kamu berani ya. Biar aku beri tau siapa aku. Pengawal, seret dia keluar dari sini!" perintahnya pada orang-orang seragam hitam.
"Astaga, apa aku dalam masalah sekarang."
Dua laki-laki bertubuh besar menghampiri ku, lalu memegang pergelangan tanganku dengan paksa.
"Nyonya, Nyonya ... maafkan saya, saya benar-benar tidak sengaja melakukannya. Saya akan mencucinya untuk Anda." Aku berteriak berusaha melepaskan diri.
"Cihhh, aku sudah tidak membutuhkan gaun kotor ini lagi. Untuk apa kau mencucinya," ucap wanita itu dengan sombong.
Tubuhku di seret keluar meski aku sudah berusaha menahannya. Tapi kekuatanku tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan mereka.
Itu suara Om Edward, aku selamat.
Om Edward keluar dari kerumunan orang-orang. Dia terlihat tampan saat aura dinginnya keluar.
"Lepaskan wanitaku!" titahnya pada kedua laki-laki yang memegangi ku.
__ADS_1
"Woyy lepas, kalian nggak denger apa," ejekku pada mereka.
Setelah tanganku terlepas, aku segera berlari ke belakang punggung om Edward. Malu sekali saat semua orang melihatku.
"Edward!" panggil wanita yang tadi menindasku. "Siapa wanita itu? Kenapa kau ikut campur urusanku!"
"Dia tunanganku, jadi aku harap kamu tidak memperpanjang masalah ini," kata Om Edward sambil menarik pinggangku agar berdiri sejajar dengannya.
"Tunangan?! Sejak kapan kau bertunangan, dan seleramu kenapa jadi seperti ini?" Wanita itu terlihat sedang mengejekku. Memangnya ada apa dengan ku, aku cantik dan seksi.
"Dia tunangan yang akan cintai jadi aku mencintai dia apa adanya. Dia juga cantik dan pintar, itu sudah cukup bagiku." Om Edward memujiku.
Wanita itu terlihat tidak suka saat om Edward menatapku penuh cinta. Sebenarnya siapa dia, apa salah satu yang mengejar-ngejar Om Edward.
"Lihat, dia sudah mengotori gaunku. Seharusnya dia bertanggung jawab bukan. Ini gaun mahal dan kesayangan ku. Sekarang aku sudah tidak bisa memakainya lagi." Wanita itu kembali terlihat sedih. Padahal menurutku itu hanya gaun.
"Aku akan menggantinya, katakan pada sekretarisku. Kemana aku harus membayar." Om Edward sangat keren. Uang memang kadang bisa membalikkan keadaan. "Kau sudah kenyang kan?" tanya om Edward padaku dan akupun mengangguk meski masih belum cukup.
"Baiklah, ayo pergi." Dia kemudian mengajakku pergi dari sana.
__ADS_1
"Tunggu Edward!! Kau tidak bisa pergi begitu saja."
"Sorry, urusan kita sudah selesai."