
Setelah jam pelajaran berakhir, mereka mengemasi peralatan sekolah yang tadi digunakan dan bersiap untuk pulang.
Sejak tadi, Fanya hampir tidak konsentrasi dalam menyimak pelajaran karena terus memikirkan Lila yang akan pergi berkencan. Dia tidak punya kuasa untuk melarang temannya pergi tapi Dia juga tidak bisa membiarkan mereka pergi berdua. Wajar juga memang, diusia Lila untuk berpacaran tapi masalahnya dia terlalu polos dan Fanya hanya takut kalau Kevin itu memiliki niat yang tidak baik pada Lila.
Sepanjang pelajaran, Fanya terus memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa mencegah mereka pergi.
"Lila, kamu jadi pergi dengan anak itu?" tanya Fanya.
"Iya, kami mau pergi nonton." Lila terlihat begitu gembira.
"Oh ya, nonton apa? Apa ada film baru, aku ikut dong. Aku janji nggak akan mengganggu kalian. Boleh tidak?" Fanya memohon, dia berharap bisa pergi dengan mereka. Tidak apa-apa kalau tidak dianggap yang penting bisa mengawasi mereka.
"Tentu saja boleh, ayo kita pergi bertiga. Aku awalnya memang mau ajak kamu tapi takutnya kamu nggak nyaman kalau pergi dengan Kevin juga."
"Aku ikut, aku ikut. Kalian anggap aku tidak ada saja. Kalian bisa berkencan berdua. Aku cuma mau ikut nonton."
__ADS_1
"Hahaha, kamu itu apaan sih. Mana mungkin aku seperti itu. Ayo pergi."
Syukurlah, Lila masih begitu baik. Memang pada dasarnya dia sangat baik dan sayang pada Fanya. Jadi dia tidak mungkin melupakan temannya walaupun sudah punya pacar.
...
Mereka pun pergi bertiga. Menggunakan mobil Kevin. Pria itu menyetir sendiri. Lila duduk di depan dan aku sendirian di belakang. Pura-pura mengabaikan mereka berdua di depan dan sibuk berkirim pesan dengan om Edward. Pria itu memang rutin menganggu Fanya.
"Apa Lila bersamamu, tadi dia meminta ijin mau pergi menonton denganmu katanya."
Fanya cukup mengerti mengapa Lila meminta ijin pada papahnya dan menggunakan namaku sebagai alasan. Dia tidak mungkin mengatakan kalau dia pergi dengan pacarnya juga. Tidak apa-apa karena faktanya memang Fanya juga ikut kecuali jika dia menggunakan nama temannya tapi nyatanya tidak dengan Fanya.
"Ya sudah, padahal aku mau menyuruh kamu datang kemari tapi tidak apa-apa, kamu bersenang-senanglah dengan Lila. Aku harap hubungan kalian makin dekat karena waktumu tinggal sebentar lagi."
Fanya hanya membalasnya dengan emoticon.
__ADS_1
Mereka sampai di sebuah mall terbesar di sana. Seperti yang Fanya katakan, dia tidak akan mengganggu mereka. Dia berjalan di belakang seperti tidak mengenal mereka. Dia dalam bioskop pun dia duduk di sebelah Lila dan fokus menonton film yang diputar sambil sesekali melirik ke samping. Dilihatnya mereka masih berpegang tangan seperti biasa. Ok masih aman.
Sampai adegan di dalam film mulai menunjukkan adegan romantis. Fanya mulai was-was. Bukan hanya itu, beberapa pasangan di depan mereka juga terbawa suasana dan saling memagut b1bir.
Fanya melirik ke samping dan ternyata tangan Kevin sudah merangkul pundak Lila. Entah kapan dia meletakkan tangannya di sana, Fanya tidak menyadari itu.
"Astaga!!" panik Fanya, dia takut Kevin akan lancang melakukan hal seperti yang ada dalam adegan itu. Dia harus segera memikirkan cara agar dia tidak berhasil.
"Aduh, awww!!" Fanya mengaduh kesakitan. Membuat Lila dan orang-orang di dekatnya pun menoleh.
"Fanya, kamu kenapa?" tanya Lila cemas apalagi saat melihat wajah Fanya seperti menahan sakit.
"Perutku sakit sekali, Lil. Sepertinya aku datang bulan," bisik Fanya.
"Aku kira kenapa. Ya sudah, ayo aku temani ke toilet."
__ADS_1
Fanya mengangguk.
Lila pun berpamitan pada Kevin dan memapah Fanya pergi dari sana. Lagi-lagi pria itu kehilangan kesempatan. Tapi dia menyeringai, dia seperti tau kalau teman pacarnya itu sengaja melakukan hal itu.