Pesona Duren, Ayah Temanku

Pesona Duren, Ayah Temanku
Bab 33


__ADS_3

Setelah berganti gaun beberapa kali akhirnya om Edward setuju juga dengan apa yang aku pakai. Entah seperti apa sebenarnya seleranya, membuat orang susah saja.


Kami sedang dalam perjalanan ke acara perjamuan yang dikatakan om Edward. Pria itu menggunakan setelan jas hitam, rambutnya di tata rapi ke atas memamerkan keningnya tapi itulah pesonanya. Jika saat pagi bangun tidur dia begitu imut seperti boyband, sekarang dia seperti CEO berkuasa yang ada di dalam drama yang kemana-mana jadi pusat perhatian.


Ah iya, dia kan memang CEO. Bodohnya kamu Fanya. Hihihi, Aku menertawakan kebodohanku sendiri.


"Nanti kamu tetap di sampingku, dan jangan kemana-mana. Jangan membuat masalah dan harus terlihat anggun di depan orang-orang. Mengerti?"


"Hmmm, iya iya." Sudah berapa kali dia bilang seperti itu. Memang aku sangat bod0h sampai tidak tau bagaimana harus bersikap di dalam pesta. Meski pun aku belum pernah datang ke pesta sekalipun tapi aku sering melihatnya di dalam drama.


"Oh ya, satu lagi. Jika ada yang bertanya padamu tentang usiamu bilang saja kau sudah kuliah saat ini. Jangan bilang kau masih SMA, atau aku akan ditertawakan karena memacari wanita yang begitu muda."


"Jadi aku harus bohong? Bagaimana kalau ada yang mengenaliku?"


"Sudah, percaya saja padaku. Oh ya, jangan panggil Om di depan orang-orang."

__ADS_1


"Iya." Banyak sekali peraturannya.


Akhirnya kami sampai juga di tempat acara. Om Edward turun lebih dulu lalu membukakan pintu untukku. Aku mulai berakting, memandang om Edward seperti pasangan yang saling jatuh cinta. Kami berjalan bersisian, dengan aku yang berpegang pada lengan Om Edward. Lumayan juga, aku jadi tidak perlu takut terjatuh karena sepatu hak tinggi yang aku pakai sangat tinggi.


"Ingat pesanku," bisik Om Edward saat kami sedang berjalan. Aku yang mendengarnya pura-pura tertawa bagai pasangan yang sedang bercanda di mata orang lain.


Om Edward menyapa rekan-rekan bisnisnya. Sesekali memperkenalkan aku sebagai tunangannya jika ada yang bertanya. Dia bilang hubungan mereka memang pura-pura tunangan bukan pacaran karena di umur om Edward yang sekarang tidak pantas rasanya pacaran-pacaran seperti anak muda. Kami bahkan memakai cincin tunangan yang baru tadi di pasang dadakan saat perjalanan ke tempat ini.


"Anda sangat pandai memilih pasangan Tuan, tunangan anda sangat cantik dan menawan. Putri dari pengusaha mana Nona ini Tuan?"


Aku hanya tersenyum tipis dan seadanya kalau tidak ada banyak orang. Sudah pasti kami seperti pasangan sungguhan.


Ternyata cukup melelahkan datang ke pesta orang kaya. Selain harus menjaga sikap aku juga tidak bisa bergerak bebas karena om Edward selalu mengawasiku. Padahal perutku sangat lapar. Banyak makanan di sini tapi aku hanya bisa memandang mereka dengan air liur yang menetes. Itu karena aku hanya makan sedikit tadi, takutnya gaung yang aku pakai tidak akan muat kalau aku makan banyak.


Ohh tidak, mengapa mereka melambaikan tangannya padaku. Aarrggghhh bagaimana aku bisa menolak rayuan mereka. Aku benar-benar sudah tidak tahan, aku bahkan sama sekali tidak bisa mendengarkan pembicaraan om Edward dengan koleganya karena makanan itu terus memanggilku untuk mendekat.

__ADS_1


Kruuukkk. Perutku sampai bergetar hebat.


"Om ... aku ke sana sebentar ya." Aku berbisik sangat pelan.


"Kemana?"


"Makan, hehehe. Ayolah Om, aku sangat lapar." Aku memohon.


"Baiklah, pergilah tapi aku tidak bisa menemani."


"Nggak apa-apa, aku bisa sendiri," jawabku tersenyum cerah. Kalau ada Om Edward, aku justru tidak bisa makan bebas.


"Ya sudah, jangan pergi jauh-jauh ."


"Siap."

__ADS_1


Ohh makanan, aku datang pada kalian.


__ADS_2