Pesona Duren, Ayah Temanku

Pesona Duren, Ayah Temanku
Bab 36


__ADS_3

Edward tidak menjawab lagi. Dia hanya asal bicara tadi.


"Apa sih Om, jangan mengada-ada deh. Lila itu nggak mau punya ibu tiri. Aku juga nggak mau jadi ibu tiri temanku sendiri. Umurku masih muda begini, belum pantes jadi ibu-ibu."


"Padahal banyak yang mengantri mau jadi ibu tiri Lila. Kau benar-benar tidak mau?" goda Edward.


"Hmm, aku nggak mau membuat Lila kecewa."


"Apa kamu tau kenapa sikap mantan istri ku seperti itu pada Lila?"


Fanya menggeleng, "Karena nggak sayang anak anaknya sendiri, egois dan nggak punya perasaan."


"Hahaha, ya kau benar. Tapi ada satu hal yang pasti membuat dia seperti itu. Karena dia sudah punya anak lagi dari suaminya yang sekarang. Jadi dia mungkin lebih sayang pada anak itu. Jadi kenapa Lila selalu bilang tidak mau punya ibu tiri, tidak mau aku menikah lagi itu karena dia takut setelah aku menikah, sikapku akan berubah seperti ibunya. Lebih sayang pada orang yang baru baru, apalagi kalau sampai aku memiliki anak lagi dengan istri ku nanti. Lila pasti akan jauh lebih terluka."


"Sebenarnya aku bukan mengalah begitu saja, aku juga masih tetap mencari wanita yang mungkin bisa membuat Lila merubah mindset nya. Bisa menyayangi Lila selayaknya seorang ibu dan memberikan apa yang tidak Lila dapat selama ini."

__ADS_1


Fanya mengangguk mengerti, pasti susah mencari wanita yang benar-benar menyayangi Lila. Kebanyakan pasti hanya suka pada papahnya saja, tidak dengan putrinya. Padahal kebanyakan orang pasti sudah tau kalau Edward adalah duda dengan satu putri.


...


Beberapa hari setelah pesta. Edward benar-benar menepati janjinya untuk membayar semua hutang dan membantu biaya pengobatan adik Fanya bahkan mencarikan dokter yang lebih baik. Khusus didatangkan dari luar negeri. Serta memberi Indra pekerjaan. Ya, baru kemarin Indra tiba-tiba mendapat panggilan kerja. Ini karena Fanya menyuruhnya memasukkan lamaran pekerjaan ke perusahaan om Edward, tentu saja atas perintah pria itu. Karena Fanya tidak ingin keluarga nya tau tentang perjanjiannya dengan pria itu. Jadi dia ingin semuanya berjalan senatural mungkin.


Fanya akhirnya bisa bernafas lega setelah sekian lama. Dia juga tidak rugi apapun menjalin hubungan dengan lelaki itu, malah lebih banyak untungnya. Lelaki itu hanya memanggilnya jika ada pertemuan bisnis atau perjamuan seperti waktu itu. Setelah hari itu, belum ada lagi panggilan dari om Edward.


Namun, ada satu hal yang masih mengganjal hati Fanya. Ya, ini tentang Lila. Dia jadi harus berhati-hati sekali saat berada di depan temannya itu. Seperti seorang pencuri yang takut ketahuan.


Fanya tersadar dari lamunannya. "Ehh enggak, kamu ngomong apa tadi?"


"Hufftt, malas ah. Nanti kamu nggak dengerin lagi." Masih cemberut.


"Maaf-maaf, aku nggak sengaja tadi. Tiba-tiba kepikiran sesuatu jadi ngelamun. Kamu cerita apa tadi? Kenapa ada masalah?" tanya Fanya.

__ADS_1


"Hmm kamu tau nggak, aku kemarin ketemu sama Mamahku."


"Uhuukk!!" Fanya tersedak tiba-tiba.


"Kamu nggak apa-apa, Nya? Ya ampun, pelan-pelan dong." Lila berdiri dan menghampiri temannya untuk menepuk punggung gadis itu.


"Udah, nggak apa-apa." Fanya tersenyum kaku. "Tadi sampai mana? Kamu ketemu siapa kemarin?"


"Ketemu Mamah, tumben banget dia ngajakin ketemu duluan. Hufftt!!"


"Bukannya bagus ya, mungkin mamahmu sudah berubah."


"Nggak, dia sama sekali nggak berubah Nya. Dia sama sekali nggak nanyain kabarku bagaimana, apa aku makan dengan baik, sekedar basa-basi juga enggak. Dia malah ngomongin tentang papah, aneh sekali."


Jantung Fanya mulai berdetak tak karuan.

__ADS_1


__ADS_2