Pesona Duren, Ayah Temanku

Pesona Duren, Ayah Temanku
Bab 26


__ADS_3

"Kau tau aku sudah lama tidak menyentuh wanita setelah bercerai. Aku terlalu kecewa pada wanita dan tidak ingin berhubungan dengan mereka. Sampai pada malam itu kita melakukan hal itu, setelah itu aku selalu teringat malam panas kita. Lalu saat kedua kalinya kita menghabiskan waktu bersama, aku yang dalam keadaan sadar cukup menikmatinya."


"Lalu?" tanyaku masih bingung dengan arah pembicaraan laki-laki itu. Kenapa membahas malam seperti itu juga.


"Karena itu jadilah pasanganku, sebenarnya aku sedang membutuhkan seseorang pasangan karena berkaitan dengan proyek baru di perusahaan. Calon investor yang akan berinvestasi suka dengan kesan keluarga atau hubungan yang harmonis, sementara aku hanya seorang duda anak satu. Duda karena perceraian lebih tepatnya. Mereka pasti tidak akan suka mendengarnya. Jadi aku minta padamu untuk menjadi pasanganku hanya sampai mereka setuju untuk berinvestasi."


"Om kan bis membawa Lila, mereka pasti kagum kalau melihat Om membesarkan anak seorang diri."


"Tidak bisa, mereka akan banyak bertanya mengenai mantan istriku. Jadi kamu saja, kita akan berpura-pura menjadi pasangan."


"Maksud Om, kita pura-pura pacaran?" tanyaku.


"Bukan, kita akan menikah."


"Hah? Om bercanda!" Aku melotot mendengar candaan pria itu.

__ADS_1


"Aku tidak bercanda, kita akan menikah." Om Edward memang tidak terlihat seperti sedang bercanda tapi apa sebenarnya tujuan dia.


"Pernikahan bukan untuk main-main Om. Aku nggak mau mempermainkan pernikahan. Om cari wanita lain saja." Aku menolak dengan tegas.


"Tidak bisa, tidak ada yang bisa membuatku nyaman seperti mu. Bagaimana aku akan berakting kalau tidak nyaman, pasti akan mencurigakan."


"Tapi bagaimana dengan Lila, Om. Bagaimana kalau dia tau. Dia pasti akan membenciku." Membayangkan bagaimana perasaan Lila yang kecewa padaku saja aku tidak bisa. Dia sudah sangat baik padaku. Bagaimana aku bisa melakukan hal itu. Menjadi ibu tiri temanku sendiri, aku tidak bisa membayangkan.


"Tidak perlu khawatir, dia tidak perlu tau. Ambil cek ini, aku akan mengurus sisanya." Om Edward mengangkat gelasnya untuk bersulang denganku. "Minumlah, itu tidak beralkohol."


"Tapi aku belum bilang Setuju," kataku.


"Ehh Kenapa cepat sekali waktunya."


Malam semakin larut, om Edward hampir menghabiskan sebotol minuman.

__ADS_1


"Sudah Om, nanti Om mabuk. Apa Om nggak pulang ke rumah lagi malam ini?" Aku coba mencegah om Edward saat mau minum lagi.


"Tidak apa-apa, aku belum mabuk. Aku masih bida menyetir."


Belum mabuk apanya, dilihat saja sudah jelas kalau dia sudah mabuk. Apa aku tinggalkan saja dia di sini. Sudah lewat tengah malam juga, lebih baik aku pulang saja.


"Om, aku pulang ya. Sudah sangat malam. Om nggak apa-apa kan, aku tinggal sendiri?" Bagaimana pun orang yang terakhir dengan si om adalah aku, kalau sampai terjadi sesuatu aku yang akan disalahkan.


"Tunggu, siapa yang mengijinkan kamu pergi."


"Laah, terus! Apa aku harus menginap. Om yang benar saja." Aku protes pada laki-laki setengah sadar itu.


"Hmm aku kan sudah membayar untuk semalam penuh. Jadi kau harus menemaniku malam ini. Tenang saja, aku tidak akan macam-macam. Jangan pergi, temani aku disini."


Astaga, mana mungkin aku percaya pada ucapannya. Terakhir kita bersama saja terjadi sesuatu. Apa mungkin kalau malam ini aku tinggal tidak akan terjadi sesuatu.

__ADS_1


"Om janji ya, nggak macam-macam."


"Hmmm."


__ADS_2