
Banjir keringat pun terjadi sore ini, nafasku naik turun kelelahan setelah berolahraga yang mengurangi tenaga. Berkali-kali aku dibuat menger4ng oleh Om Edward, laki-laki itu selalu membuat aku kewalahan dan dia dengan seringai liciknya baru saja menggapai puncaknya.
Aku tergeletak di atas dada Om Edward yang tidak memakai apapun. Begitupun denganku, kalian tau laah apa yang terjadi. Si duda kesepian itu pasti akan melahapku jika ada kesempatan. Padahal tadi aku baru selesai makan tapi sekarang aku sudah lapar lagi gara-gara Om Edward yang memacuku berulang kali.
"Om! Bagaimana kalau ada orang yang masuk. Kenapa melakukannya di sini." Aku menggerutu karena kami baru saja bergelut di atas sofa ruang kerja om Edward. Aku takut kalau tiba-tiba ada yang datang atau mungkin Lila datang. Entah pikiran pria ini kemana.
"Kenapa, bukankah lebih seru di sini. Lebih menantang." Pria itu tertawa tanpa rasa bersalah.
Dia memang seperti itu, semaunya sendiri.
"Tenang saja, tidak akan ada yang berani masuk jika aku tidak mengijinkan."
"Bagaimana kalau Lila yang datang, dia kan anak Om. Bisa bebas keluar masuk di perusahaan ini."
"Lila tidak pernah datang kalau bukan aku yang minta," ujar Om Edward.
Aku mengangkat kepalaku dan melihat wajah om Edward. Sepertinya jika mendengar dia bicara tentang Lila ada sedikit berbeda, seperti merasa sedih.
"Om kenapa, kepikiran Lila?" tanyaku sembari mengelus rahangnya. Hanya kepalaku yang mendongak, tubuhku masih menempel di tubuh om Edward. Walaupun sudah sering melihat aku tetap malu jika pria itu melihat tubuhku yang tanpa pakaian.
__ADS_1
"Hmmm, aku merasa semakin jauh dengan Lila. Memang salahku, dulu saat dia masih suka manja dan menempel padaku. Aku menyuruhnya mandiri karena aku harus bekerja. Saat itu aku baru merintis bisnis dan tidak punya banyak waktu untuknya jadi aku menyuruhnya untuk mandiri. Sekarang setelah aku memiliki semua ini rasanya aku seperti kehilangan putriku."
Aku mengerti perasaannya, dia pasti merasa serba salah. Bukan hal mudah menjadi orangtua tunggal apalagi harus membagi waktu untuk bekerja juga.
"Bagaimana kalau Om lebih banyak meluangkan waktu untuk Lila mulai sekarang. Mungkin kalau om dan Lila banyak menghabiskan waktu bersama jadi hubungan kalian akan lebih baik dan lebih dekat dari sekarang." Aku coba memberikan saran, belakangnya ini Lila juga sering bilang kalau papahnya tidak peduli padanya. Dia salah besar, andai saja Lila tau kalau papahnya selalu memikirkan dia pasti Lila tidak akan bicara seperti itu.
"Coba ungkapan perasaan Om pada Lila, sesekali bilang sayang dan lebih peduli padanya."
"Aku tidak terbiasa dengan itu. Aku kira sudah memberikan apa yang dia mau bisa membuat dia bahagia."
"Enggak begitu Om, kita sebagai anak selain membutuhkan itu juga butuh waktu dan perhatian dari orang tua. Coba saja Om, Lila pasti senang."
"Iya, Om bisa berusaha jadi temannya. Om cukup mendengarkan apa saja yang Lila katakan, dengan begitu Lila akan lebih terbuka pada Om. Om ingin tau kan bagaimana Lila sekarang, apa mungkin dia sudah mulai jatuh cinta pada laki-laki. Om nggak mau melewatkan hal itu kan," kataku bersemangat. Aku harap om Edward bisa lebih merangkul Lila agar gadis itu merasa diperhatikan lagi dan tidak mencari perhatian dengan cara yang tidak baik. Seperti berpacaran karena merasa diperhatikan mungkin. Ya, aku rasa Lila secepat itu menerima Kevin karena pria itu memberikan perhatian yang selama ini tidak Lila dapatkan.
"Om ... kenapa diam saja. Bagaimana saranku."
"Aku akan coba."
"Nah, gitu dong." Aku kembali menjatuhkan kepalaku di atas dadanya. "Om, gendong aku ke kamar mandi. Tenagaku habis gara-gara Om," pintaku sambil menggerutu.
__ADS_1
Pria itu berdiri tanpa aba-aba, seketika aku memekik keras saat merasakan sesuatu menghujam perutku bagian dalam.
"Aaakkkhhh Omm!!" Aku memukuli pundak pria itu sambil melotot. Pasalnya senjata pria itu masih ada di dalam tubuhku dan kembali menerobos sedalam-dalamnya saat dia membawaku bangun.
"Kenapa?! Bukankah kau yang minta tadi." Om Edward menyeringai, menyebalkan sekali.
"Kan bisa dilepas dulu itunya!"
"Kenapa harus dilepas, kita akan melanjutkan babak selanjutnya." Om Edward tertawa puas di atas penderitaanku.
"Om gilaa!! Aku nggak mau lagi!!"
"Terlambat! Siapa suruh tubuhmu menempel terus dan menggodaku."
Brak. Om Edward menendang pintu kamar mandi yang ada di ruang rahasia dengan kakinya. Wajahnya yang diselimuti gairah benar-benar tidak bisa aku tolak, ketampanannya bertambah jika sedang seperti ini. Dia kembali menyentuh bagian-bagian kesukaannya dan melakukan apa yang dia mau selanjutnya.
"Aaaahhh pelan Ommmm!!"
"Hahaha."
__ADS_1