Pesona Duren, Ayah Temanku

Pesona Duren, Ayah Temanku
Bab 51.


__ADS_3

Akhirnya aku sampai di hotel yang dikatakan teman Kevin. Aku segera turun dari motor dan bertanya pada resepsionis tapi sayangnya itu tidak mudah karena mereka tidak bisa begitu saja memberitahu data pengunjung.


Setelah aku bernegosiasi mereka pun menunjukkan di mana kamar yang dipesan Kevin. Yang membuat aku takut adalah aku tidak bisa datang tepat waktu.


Bersama dengan beberapa karyawan hotel aku mendatangi kamar itu. Menggedor pintu itu berulang kali.


"Buka pintunya Kevin, jangan sentuh Lila atau akan aku patahkan tanganmu!!" Aku berteriak sambil menggedor-gedor pintu tapi sama sekali tidak ada jawaban.


"Bagaimana ini, tolong selamatkan temanku. Tolong buka pintunya." Aku memohon pada mereka.


"Tapi mbak, kami tidak berani. Bagaimana kalau ternyata mereka itu sama-sama mau. Itu namanya kami mengganggu privasi pelanggan. Begini, mereka kan pacaran jadi sudah biasa pasangan muda seperti mereka datang ke sini."


Aku paham maksudnya tapi ini Lila, aku kenal dia dan tidak mungkin mau melakukan hal seperti itu.


"Enggak Mbak, aku dengar sendiri kalau pacarnya itu berniat nggak baik. Tolong buka pintunya, aku mohon. Apa kalian tau siapa gadis yang ada di dalam sana, dia putri dari pemilik perusahaan xx."


Setelah banyak menimbang akhirnya mereka membukakan pintu. Dan betapa terkejutnya saat aku melihat Lila sedang dilucuti pakaiannya. Lila terlihat sedang memberontak tapi pria itu memaksanya.


"Lepaskan Lila, brengs33k!!" Aku maju mendorong tubuh Kevin agar melepaskan Lila.

__ADS_1


Pria itu terkejut dan berhasil aku dorong hingga terjatuh menyentuh lantai kamar hotel itu.


"Fanyaaaa hiks hiks hiks, tolong aku Fanya. Dia mau memaksaku." Lila menangis dengan penampilan yang berantakan. Aku lihat pakaiannya masih lengkap hanya beberapa tempat terlihat robek tapi setidaknya aku yakin kalau pria itu belum sempat berbuat macam-macam.


Seketika perbuatan laki-laki itu benar-benar menyulut emosiku. Rasanya aku ingin menghajarnya dan menguliti barangnya agar dia tidak bisa berbuat seperti ini lagi pada perempuan lain.


"Kamu tenang ya, aku sudah datang. Tidak akan aku biarkan laki-laki itu."


"Tidak Fanya, tolong bawa aku pergi saja dari ini. Aku sungguh takut." Lila mencegahku yang hendak menghajar laki-laki itu.


"Aku tidak bisa membiarkan dia begitu saja, dia harus diberi pelajaran agar jera. Tunggu sebentar ya, kamu sudah aman." Aku melepaskan tangan Lila. Tidak peduli dia menangis memanggilku. Aku ingin menghajar laki-laki itu sekarang.


Kevin menyeringai menjijikan, dia yang sempat tersungkur ke lantai ternyata masih bisa bangun.


"Hahaha, kau bukan tandinganku. Sekarang aku yang akan menghukummu karena sudah mengganggu kesenanganku. Asal kau tau, temanmu sendiri yang mau aku ajak datang ke sini. Aku tidak pernah memaksanya."


"Bohong! Dia menipuku. Dia bilang mau perutnya sakit dan butuh istirahat jadi aku mau diajak kemari," tegas Lila.


Aku tidak peduli apapun alasannya, yang jelas berniat buruk pada seorang gadis itu sudah tindakan yang buruk. Sebelum aku melaporkannya ke om Edward aku ingin menghajarnya lebih dulu.

__ADS_1


Dug. Dia kira bisa menang karena sudah menangkap tanganku tapi aku berhasil melukai sesuatu yang sangat berharga untuknya.


"Aaakkk!!! Kau gilaa, kenapa kau menghajar burungku." Pria itu kesakitan setengah mati. Tendanganku memang cukup keras.


"Lebih baik kau periksa setelah ini, mungkin itu sudah tidak bisa berdiri lagi." Aku kembali menghampiri Lila dan mengajaknya pergi dari sini.


Namun, belum juga mereka keluar dari sana. Petugas hotel yang menunggu di depan pintu berteriak. "Nona awas dibelakangmu."


Aku pun menoleh dan langsung melebarkan matanya saat melihat laki-laki itu sedang berjalan ke arah kami Sambil membawa pecahan gelas yang mungkin tadi tidak sengaja terjatuh.


"Lila awas!!" Aku reflek mendorong tubuh Lila menjauh.


Aku merasa sesuatu yang tajam menembus kulit perutku. Saat aku melihatnya, bajuku sudah berlumuran darah. Setelah itu aku tidak tau lagi apa yang terjadi. Pandangan mataku menggelap dan tubuhku terjatuh.


...


POV author.


Lila tertunduk sambil menangis menyesali perbuatannya. Tidak seharusnya dia membohongi papahnya sehingga sahabatnya menjadi korban seperti ini. Seharusnya dia lebih percaya pada temannya ketimbang lelaki yang baru ia kenal itu. Sekarang semuanya sudah terlambat, Fanya terluka karena dirinya dan masih ada di ruangan operasi. Lalu papahnya menatapnya penuh kekecewaan.

__ADS_1


Baru kali ini sang papah menatapnya penuh kecewa. Biasanya Lila melakukan apapun, selalu dimaafkan begitu saja namun sekarang papahnya bahkan enggan bicara dengannya.


"Hiks hiks hiks, maafkan aku Fanya. Aku sangat menyesal."


__ADS_2