Pesona Duren, Ayah Temanku

Pesona Duren, Ayah Temanku
Bab 46


__ADS_3

POV author.


Sudah sebulan berlalu, sekarang Lila sudah tidak sungkan lagi menunjukkan hubungannya dengan Kevin. Saat bersama dengan Fanya pun laki-laki itu kerap ikut duduk bersama. Dan itu membuat Fanya yang jadi tidak nyaman. Dia bukan mau melarangnya Lila untuk berpacaran tapi sepertinya ada yang salah dengan laki-laki itu, entah itu hanya perasaan Fanya saja atau memang ada sesuatu.


Fanya sering menanyakan hal itu pada Lila, tentang bagaimana Kevin memperlakukannya. Apa mungkin diluar batas atau tidak. Sungguh Fanya sangat mengkhawatirkan Lila. Bukan karena apa tapi dia memang sudah merasa sayang pada temannya itu dan kalau Fanya sudah menyayangi seseorang, maka dia akan melindungi orang itu apapun yang terjadi.


Sejauh yang dia lihat mereka memang hanya berpegang tangan jika ada di depan Fanya tapi tidak menutup kemungkinan kalau laki-laki itu akan bertindak lebih jauh, sementara Fanya tidak bisa mengawasi Lila dua puluh empat jam penuh. Sampai sekarang Fanya juga masih menyembunyikan hubungan mereka pada Om Edward, seperti janjinya pada Lila. Untuk sekarang dia yang akan mengawasi mereka dengan maksimal.


"Sayang, itu ada saos di bibirmu. Sini biar aku bersihkan," ujar Kevin yang duduk di sebelah Lila.


Mata Fanya mengawasi mereka dengan tajam, melihat setiap tindak-tanduk laki-laki itu. Apalagi saat dengan beraninya menyentuh bibir Lila dihadapannya. Bola mata Fanya menajam, ingin melarang tapi dia tidak bisa apa-apa.

__ADS_1


"Sebentar, aku punya tissue." Fanya memberikan selembar tisu pada Lila agar dia membersihkan sendiri.


Fanya melihat mereka saling pandang lalu tersenyum, hah. Memang begitulah kalau anak remaja baru jatuh cinta. Walau keberadaan Fanya seperti tak dianggap dan diabaikan di sana, dia tetap tidak beranjak sedikitpun dari sana.


"Lila, ayo kita masuk. Sebentar lagi bel masuk berbunyi," kata Fanya mengajak Lila pergi dari sana.


"Kamu duluan saja, Nya. Nanti aku menyusul."


Deg. Ketara sekali perbedaan sikap Lila sebelum dan sesudah mengenal laki-laki itu.


Setelah bel berbunyi, mereka baru kembali ke kelas pun diantar oleh si Kevin itu. Lagi-lagi Fanya seperti obat nyamuk, dia berjalan di belakang mereka sambil menyaksikan mereka yang sesekali bercanda mesra. Kalau begini dia jadi ingin mesra-mesraan juga dengan seseorang. Ups.

__ADS_1


Berhenti di depan pintu kelas. Lila dan Kevin berdiri berhadapan, tidak peduli anak-anak yang lain berlalu lalang masuk ke kelas. Fanya pun ikut berhenti di sana.


"Selamat belajar, kita bertemu lagi nanti pulang sekolah. Kita jadi kan jalan berdua nanti?"


Lila mengangguk malu-malu, ini adalah kencan pertamanya. Dia sangat senang sekaligus gugup.


Di sana Fanya jadi pihak yang terkejut mendengar hal itu. Kapan mereka merencanakan hal itu. Kencan berduaan? Tidak, ini sudah tidak bisa dibiarkan.


Mata Fanya semakin melebar saat melihat Kevin semakin maju, terlihat sekali kalau dia mau mendaratkan bibirnya di kening Lila. Berani sekali dia mau cium-cium anak gadis orang, langkahi dulu seorang Fanya kalau berani. Lihat saja saat ini Fanya sudah mengepalkan tangannya bersiap untuk meninju laki-laki itu. Tapi dia harus tahan, kalau sampai dia melakukan itu di depan Lila tanpa alasan. Bisa-bisa Lila akan membencinya, Fanya tau sekali bagaimana perasaan seseorang yang sedang menjadi budak cinta. Pastilah Lila akan selalu memandang Kevin itu benar.


"Eheemm!!" Fanya berdehem dengan keras dan berhasil membuat Kevin mengurungkan niatnya.

__ADS_1


Mereka salah tingkah dengan pipi yang merah.


"Ini sekolah, kalian harus menjaga sikap. Lila, ayo masuk." Fanya langsung mendorong tubuh Lila untuk masuk ke dalam kelas. Meninggalkan Kevin dengan senyum menyeringainya.


__ADS_2