
Sudah kedua kalinya aku duduk di mobil mewah itu tapi rasanya masih sama saat pertama kali duduk di kursi itu. Rasanya sangat canggung dan tidak nyaman. Bagiku lebih nyaman duduk di bus atau kendaraan umum lainnya.
Aku bahkan tidak berani bersuara. Pandanganku cuma lurus ke depan.
"Apa kau masih bekerja di tempat itu?" tanya Om Edward padaku.
"Hah, iya. Masih," jawabku singkat.
"Berhentilah bekerja di sana, sebagai gantinya aku akan memberimu uang yang kamu butuhkan."
"Hah, tunggu. Maksud Om apa? Kenapa tiba-tiba minta aku berhenti bekerja." Aku sungguh tercengang dengan perkataan pria itu.
"Tempat itu tidak aman untukmu, apa kau tidak mengerti."
"Tentu saja aku tau tapi ditempat itu satu-satunya cara agar aku bisa mendapatkan uang yang cukup besar."
"Sudah aku bilang kan, kalau aku akan memberimu uangnya asalkan kau berhenti dari sana."
__ADS_1
"Apa hak Om menyuruhku berhenti bekerja, Om bukan siapa-siapa bagiku. Apa Om tau berapa banyak uang yang aku butuhkan, setelah mendengar nominalnya aku yakin Om akan berubah pikiran."
Aku memalingkan wajah keluar jendela. Menyebalkan sekali orang itu, siapa dia seenaknya menyuruh aku berhenti bekerja.
"Ini ambilah."
Aku menoleh dan melihat om Edward menyerahkan selembar kertas padaku.
"Apa itu?"
Aku semakin tidak mengerti dengan orang itu.
"Maksud Om, apa sih? Kenapa Om harus repot-repot menyuruhku berhenti bekerja dan memberiku ini. Apa Om tau berapa banyak uang yang aku butuhkan, itu nggak sedikit. Untuk apa aku menerima ini tanpa tahu alasannya."
"Aku tau, kau butuh uang untuk melunasi hutang ayahmu dan pengobatan adikmu. Kau juga punya kakak yang tidak bisa di andalkan di rumah. Total hutang ayahmu, apa kau yakin bisa melunasinya hanya dengan mengandalkan pekerjaanmu? Lalu apa kau tidak ingin membawa adikmu berobat ke dokter yang lebih baik."
Aku tidak percaya dengan apa yang barusan aku dengar. Bagaimana om Edward bisa tau semua tentangku. Bahkan hutang ayahku juga.
__ADS_1
"Apa Om menyelidiki ku?" Mataku melotot padanya. Punya hak apa dia menyelidiki sampai sejauh itu.
"Apa kau pikir aku akan membiarkan putriku dekat dengan orang sembarangan. Siapapun yang dekat dengan Lila aku harus tau asal-usul nya."
Hah, ya aku tau dia sangat menyayangi putrinya sampai melakukan sejauh itu. Tapi rasanya kesal saat ada orang lain yang tau permasalahannya.
"Jadi sekarang kau ambil ini, kau bisa melunasi hutang ayahmu dan membawa adikmu berobat dengan benar."
Aku melirik pria itu, sebenarnya apa sih mau dia.
"Maksud Om apa sih? Tiba-tiba bersikap kayak gini sama aku. Kenapa Om harus mencampuri urusan pribadi ku. Lalu Om siapa mau membayari hutang-hutang ayah ku. Biarlah itu jadi urusanku."
"Kamu tidak akan mungkin bisa melunasi hutang itu. Setiap bulan bunganya selalu bertambah besar kalau kau hanya membayar sedikit-sedikit setiap bulannya. Aku juga mengenal dokter yang bagus untuk mengobati adikmu."
"Sebenarnya Om mau apa? Om nggak mungkin tiba-tiba baik karena nggak ada maksud tertentu kan. Kalau iya, aku mohon maaf karena tidak bisa menerimanya. Biarkan saja kalau memang aku harus membayar hutang itu seumur hidupku."
"Kau ini sangat keras kepala. Nanti aku beri tahu alasannya kalau kamu mau menerima cek ini. Pikirkanlah baik-baik tawaranku. Kau bisa membahagiakan keluarga mu kalau sudah tidak menanggung hutang lagi. Lalu adikmu juga bisa mendapatkan pengobatan yang terbaik."
__ADS_1