
...Cerita Dion Keyla stop sampe disini dulu yah 🙏...
...Sekarang mau lanjutin Celina sama Vano karena mau di tamatin....
...Novel Dion sama Keyla di buat sendiri, Judul "My Secretary". Tapi dari bab 1 - 6 di ambil dari novel ini alias si ulang....
...*****...
"Naura kangen daddy sama Mommy." Ungkap Naura sembari menatap Vano dan Celina bergantian.
Mereka sudah berbaring di ranjang dengan posisi Naura yang berada di tengah. Baik Vano maupun Celina, mereka kompak memeluk putri kecilnya itu.
1 minggu tidak bertemu secara langsung, membuat keduanya rindu akan kecerewetan Naura.
"Mommy dan Daddy juga kangen Naura,,"
"Sudah malam, ayo kita tidur."
"Besok Daddy mau ajak kita jalan - jalan ke puncak. Iya kan Daddy.?"
Pertanyaan Celina membuat Vano melongo sekaligus kaget. Dia tidak pernah menjanjikan apapun pada Celina tapi tiba-tiba bilang seperti itu.
"Seriously,,,??" Seru Naura pada Vano. Tatapan matanya berbinar penuh harap.
"Sayang, kapan aku bilang seperti itu.?" Vano menuntut penjelasan dari istrinya yang saat ini sedang menahan senyum.
"Ayolah Daddy,,, kita butuh refreshing. Lagipula kita belum pernah liburan bertiga kan.?" Ada nada memohon dan tatapan penuh harap dari Celina.
Vano nampak diam beberapa saat. Dia menarik nafas dalam. Permintaan istrinya memang sederhana, hanya ingin berlibur bersama. Tapi 1 minggu meninggalkan perusahaan, sudah banyak hal yang perlu dia urus dan bereskan. Belum lagi beberapa rapat yang harus di tunda sampai dia kembali. Dan sekarang, baru saja sampai di Jakarta, Celina sudah meminta untuk pergi ke puncak.
Tentu saja di sana akan membutuhkan waktu beberapa hari. Tidak mungkin kalau hanya 1 hari saja. Celina pasti akan protes.
"Bagaimana kalau minggu depan.? Daddy banyak pekerjaan." Sebisa mungkin Vano menolak dengan nada bicara yang lembut.
"Daddy janji minggu depan kita akan pergi ke puncak." Ujarnya lagi karna Celina dan Naura tidak bicara.
"Ya sudah terserah kamu saja." Celina memasang wajah jutek.
Kesal karna permintaannya tidak langsung di turuti oleh Vano.
"Ayo Naura, tidur,," Celina menyuruh Naura untuk menghadap ke arahnya, gadis kecil itu menurut. Dia menghadap Celina dan memeluknya.
Celina langsung memejamkan mata sembari menepuk-nepuk pan tat Naura.
Vano menghela nafas. Dia tentu saja tidak mau membuat Celina kesal atau sedih apa lagi dalam masa kehamilannya yang sudah mendekati persalinan. Namun ada hal yang jauh lebih penting saat ini dari liburan bersama.
Meski sudah menyuruh Arkan untuk menghandle kantor selama berada di Singapura, tetap saja ada hal yang tidak bisa diwakilkan oleh siapapun.
...*****...
Celina bangun lebih awal. Dia turun dari ranjang di saat Naura dan Vano masih terlelap.
Sekalipun kesal karna permintaannya tidak di turuti, Celina tetap harus menyiapkan baju kerja Vano dan menyiapkan air untuk mandi.
Vano selalu berendam setiap pagi meski tidak lebih dari 15 menit.
Selesai menyiapkan air, Celina berniat untuk pergi ke dapur karna perutnya semakin terasa perih. Biasanya tengah malam dia akan bangun untuk makan, tapi semalam memilih untuk menahan lapar. Malas untuk ke dapur sendirian, dan lebih malas lagi membangunkan Vano untuk menemaninya makan.
"Mau kemana,,?" Tiba-tiba tangan besar melingkar di perutnya dari belakang.
Celina yang hampir membuka pintu, akhirnya mengurungkan niatnya.
Dia menoleh dan menatap datar.
"Lepas Vano,, aku mau makan." Jawabannya malas.
__ADS_1
"Makan.? Ini baru pukul 6 pagi." Vano mengerutkan dahi.
"Siapa yang bilang ini pukul 6 sore."
"Lagipula apa salahnya makan pagi-pagi."
Celina melepaskan paksa tangan Vano.
"Sudah sana mandi, aku sudah siapkan air untuk berendam. Tapi jangan langsung masuk, masih panas."
Celina membuka pintu dan keluar dari kamar. Vano bergegas mengikuti istrinya.
"Aku temani kamu makan, setelah ini temani aku berendam yah,," Pinta Vano. Dia merangkul pinggang Celina dan menatapnya mesum.
"Iissh..! Jangan aneh-aneh, Naura masih ada dikamar." Celina menolak.
"Naura masih tidur jadi aman." Vano masih usaha untuk membujuk.
"Kamu boleh marah sama suami, tapi jangan sampai menolak permintaan suami." Ucap Vano setengah berbisik.
Celina melirik kesal dengan bibir yang mencebik.
"Aku benar-benar sibuk sayang, kamu tau sendiri aku tidak ke kantor selama 1 minggu.?"
"Aku sudah menunda beberapa rapat penting."
Vano kembali menjelaskan permasalahan tadi malam yang sudah membuat suasana hati Celina memburuk.
"Iya mengerti."
"Aku saja yang terlalu memaksa." Celina mengakui kesalahannya.
"Tidak apa memaksa sama suami sendiri, asal jangan sama suami orang." Jawab Vano menahan senyum.
"Ya ampun, kamu tidak pantas bercanda." Celina hanya menunjukan ekspresi datar.
...*****...
"Naura masih tidur, aman,," Bisik Vano sembari menyeret Celina ke dalam kamar mandi.
Setelah tadi membiarkan Celina mengisi perut, Vano langsung mengajak Celina untuk kembali ke kamar.
Si otak mesum itu sudah tidak sabar ingin bermain-main dengan benda favoritnya.
"Bagaimana kalau tiba-tiba bangun dan memanggil kita.?" Celina sedikit cemas.
"Jangan khawatir, kamarnya tidak di kunci. Kalau Naura masih berteriak, pasti akan ada yang masuk kamar untuk melihatnya."
"Sudah jangan pikirkan hal itu."
"Pikiran aku saja yang butuh vitamin dan energi untuk mulai bekerja lagi."
Vano mengunci pintu kamar mandi, setelah itu mulai melepaskan baju di tubuh Celina satu persatu.
Pemandangan seperti ini yang membuat akal sehatnya tiba-tiba tidak waras. Sejak dulu tubuh Celina memang menggoda, dan ketika hamil hingga membuat semua bagian tubuhnya membesar, Vano semakin dibuat gila.
Puas menggerayangi tubuh polos Celina. Kini Vano melepaskan bajunya dan menjatuhkannya begitu saja. Hanya hitungan detik sudah menyusul Celina tanpa sehelai benang.
"Arghh,,!" Celina mere mas kuat rambut Vano. Tiba-tiba Vano melahap salah satu pucuknya tanpa aba-aba.
Meng h*sap dan menye s*pnya dengan rakus.
"Vano euggh,," Celina mencoba mendorong wajah Vano. Sensasi yang dia rasakan membuatnya tidak tahan lagi. Terlebih tangan Vano di bawah sana tidak mau diam hingga membuat tubuh Celina menegang.
Suara Celina justru membuat Vano semakin semangat. Enggan berhenti hingga Celina mendapat lepasan pertama.
__ADS_1
Saat ini keduanya tengah berendam. Vano membiarkan Celina untuk istirahat sejak sebelum melakukan permainan yang sesungguhnya.
"Bagaimana, sudah siap.?" Tanya Vano dengan mengedipkan matanya.
"Menyebalkan.!" Geram Celina. Dia merasa tidak berada di tangan Vano.
"Tunggu setelah aku melahirkan nanti, aku akan membalasmu." Ancamannya.
Vano justru terkekeh senang. Dia memang merindukan Celina yang biasanya mendominasi permainan hingga membuatnya tergila-gila.
"Tidak perlu menunggu setelah melahirkan, sekarang saja balas aku." Vano mengarahkan tangan Celina ke batang kayu hidup.
Babak kedua di mulai hingga menimbulkan suara yang membuat bulu kuduk meremang dan pikiran melayang-layang
Suara di dalam kamar mandi rupanya membuat Naura sampai bangun. Gadis itu itu terlihat bingung sambil fokus mendengarkan suara bising yang sejak tadi masuk kedalam alam mimpi.
"Daddy,, Mommy,," Ucap Naura lirih.
Suara seperti rintihan dan erangan itu membuat Naura ketakutan sampai memilih turun dari ranjang dan keluar kamar.
Dia berjalan cepat menuju kamar Keyla. Mengetuk pintu kamar berulang kali.
"Aunty,,, Aunty,, buka pintunya." Teriak Naura panik.
Tak lama pintu terbuka. Namun bukan Keyla yang membukanya, melainkan Dion.
"Ada apa Naura.?" Dion kebingungan menatap Naura.
"Uncle dimana Aunty.?" Tanya Naura sembari menyelonong masuk.
"Aunty,,,!!" Seru Naura saat melihat Keyla keluar dari kamar mandi. Sementara itu, Leo masih tertidur pulas.
"Sayang ada apa.?" Keyla langsung menghampiri Naura yang terlihat ketakutan.
"Tolong Aunty, ada hantu di kamar Mommy."
Tutur Naura.
"Hantu.?"
Ucap Dion dan Keyla bersamaan. Naura mengangguk.
"Memang daddy dan Mommy dimana.?" Tanya Keyla.
"Daddy dan Mommy di makan hantu. Ayo Aunty, tolong mereka,," Naura menarik paksa tangan Keyla. Tenaganya lumayan besar sampai membuat Keyla terseret dan akhirnya mengikuti Naura.
"Uncle ayo tolongin Daddy." Naura juga menyuruh Dion untuk ikut.
Karna penasaran, akhirnya mereka berdua mengikuti Naura hingga ke dalam kamar.
Namun baru beberapa detik masuk kedalam kmar, Dion dan Keyla langsung menarik Naura untuk keluar, setelah itu menutup pintu.
"A,,aku ke bawah dulu." Ucap Keyla gugup. Dia menggendong Naura dan segera membawanya pergi.
Wajah Keyla memerah menahan malu.
"****.!!!" Umpat Dion kesal. Entah dosa apa yang telah dia perbuat sampai harus mendengar suara itu sepagi ini.
Pikirannya jadi melayang kemana-mana. Bahkan membuat tubuhnya panas.
***
Mampir ke novel kakaknya Sisil juga yah🙏
"Terjebak Pernikahan Kontrak"
__ADS_1