
Detik-detik menjelang hari persalinan, Celina sering terlihat cemas dan gelisah. Dia sudah tidak bisa merasakan tidur nyenyak dan nyaman sejak 2 minggu yang lalu. Tidur hanya beberapa jam saja dalam sehari, itupun sering terbangun karna ingin minum dan buang air kecil.
Semakin besar kandungannya dan semakin naik pula berat badannya, Celina selalu merasa panas dan haus. Meski tidur di kamar ber AC dan mengatur suhu yang paling rendah, Celina tetap merasa panas. Belakangan ini, dia selalu tidur dengan lingerie tipis menerawang. Tidak lagi membutuhkan selimut, apa lagi selimut hidup.
Bahkan Vano baru mendekat saja sudah diberi peringatan untuk menjauh. Tidak betah jika ada yang menempel di kulitnya.
Kebiasaan baru Celina yang aneh itu, hanya membuat Vano frustasi. Setiap malam harus menahan diri untuk menyentuh tubuh Celina yang seakan memanggil untuk di sentuh karna memakai kain minim yang menerawang.
Sayangnya Celina tidak pernah mau di sentuh lagi.
Jadi Vano selalu memilih tidur membelakangi Celina daripada dia harus merasakan kepala bawahnya berdenyut dan pada akhirnya hanya akan membuatnya tidak bisa memejamkan mata sebelum bersolo karir.
"Ya ampun, kenapa semakin hari semakin terasa menyiksa." Gumam Vano frustasi.
Pemandangan di atas ranjang membuat miliknya hidup seketika.
Vano jadi menyesal masuk kedalam kamar. Dia harus menelan ludah melihat paha mulus hingga pan - tat, karna Celina hanya memakai celana d a l*m saja, sedangkan lingerie yang dia pakai sudah tersingkap ke atas.
Tidak tahan menahan hasrat berminggu-minggu, Vano langsung meninggal semua bajunya, lalu berbaring di belakang Celina.
Walaupun nantinya Celina menolak, dia akan tetap melakukannya karna berfikir tidak ada salahnya mem per ko -sa istri sendiri.
Menelan ludah berulang kali, Vano mengamati tubuh Celina seperti singa yang kelaparan. Tangannya langsung mendarat di pan - tat Celina, mengusapnya pelan dan menjadi remasan lembut.
"Maaf sayang, aku tidak tahan lagi." Bisik Vano lirih. Dia menurunkan celana da - lam warna hitam itu hingga sebatas lutut.
"Hemm,,," Celina menggeliat. Namun gerakan kakinya justru membuat jalan bagi Vano untuk mengarahkan miliknya lewat belakang.
"Istri pengertian." Gumam Vano dengan senyum lebar.
Tangannya memberikan rangsangan pada daerah sensitif itu. Tubuh Celina sampai menegang, tapi dia tidak sadar kalau ada singa yang sudah siap menerkamnya.
"Kamu tidur atau pura-pura tidur.?" Tanya Vano sambil terkekeh. Dia geli sendiri dengan kelakuannya dan reaksi Celina yang masih tertidur namun semakin lama terasa basah.
"Ternyata selama ini hanya mengerjaiku,," Vano kembali bergumam. Melihat tubuh Celina yang bereaksi saat di sentuh, Vano jadi mengira kalau selama ini Celina sedang mengerjainya karna tidak mau tidak mau di sentuh.
"Siap-siap sayang." Bisik Vano sembari mengarahkannya dan mendorongnya masuk.
"Aaarggh,,!!" Celina berteriak. Dia membuka matanya, menoleh dan menatap bingung dengan apa yang sedang dilakukan oleh Vano.
"El Vano.! Kau sedang apa.?!" Kedua mata Celina membulat sempurna saat menyadari tubuh bagian bawahnya tidak tertutup apapun dan sesuatu yang besar mengganjal dari belakang.
"Sudah nikmati saja, kamu juga menikmatinya kan." Bukannya takut karna Celina bangun, Vano justru mulai memacu tubuhnya.
"Ya ampun, kau itu benar-benar.!" Keluh Celina.
"Bisa-bisanya berbuat mesum saat aku sedang tidur." Celina terus memberikan protes, tapi dia tidak menghentikan aktivitas Vano.
"Hah.?? Kamu bicara apa.?" Tanya Vano. Pikirannya sudah melayang-layang. Dia fokus mengasah miliknya yang belakang ini hanya tersentuh oleh tangannya sendiri.
"Astaga,," Celina menggelengkan kepala. Dia membiarkan Vano menyelesaikan permainan, karna tidak tega menyuruhnya untuk berhenti sedangkan wajahnya sudah seperti orang mabuk. Lebih tepatnya mabuk gairah.
"Arrrggghhh,,,," Erangan panjang keluar dari mulut Vano. Nafasnya terengah-engah. Dia mendekap erat tubuh Celina dari belakang.
"Untung saja dia masih berfungsi dengan baik." Gumamnya kemudian.
__ADS_1
"Awww,,, apa ini.?" Celina merasakan ada sesuatu yang pecah dari daerah intinya, setelah keluar cairan yang mengalir dari sana.
"Celina,,! Kenapa.?" Vano panik mendengar rintihan Celina. Dia bangun dan langsung memeriksanya.
"Sayang, ini apa.?" Celina menunjukkan tangannya yang basah.
"Apa air ketuban.?" Tanya dengan wajah panik.
"A,,apa.? Kamu sudah mau melahirkan.?" Vano terlihat bingung harus bagaimana.
"Cepat panggilkan Mama, aku takut." Celina merengek.
"Sekarang.?"
"Tapi aku kita baru saja,,," Vano benar-benar panik. Dia juga malu kalau harus memanggil Mama mertuanya sedangkan mereka baru saja bermain.
"Sebaiknya ke kamar mandi dulu, bersihkan badan kamu dan pakai baju yang benar."
"Tidak usah memanggil Mama, setelah ini langsung ajak mereka saja ke rumah sakit."
Tanpa pikir panjang, Vano menggendong Celina ke kamar mandi. Dia membersihkan tubuh Celina, setelah itu memakai baju yang lebih tertutup.
Keduanya sudah rapi, Vano kembali menggendong Celina, membawa keluar kamar dan memanggil kedua orang tua Celina.
"Celina kenapa.?" Mama Alisha panik melihat putrinya di gendong oleh Vano.
"Air ketubannya keluar Mah, Celina mau melahirkan." Jawab Vano.
"Ya ampun,, ayo ke rumah sakit sekarang." Papa Adiguna turun lebih dulu untuk menyuruh supir menyiapkan mobil. Sementara itu, Mama Alisha menitipkan Naura pada Keyla.
"Apa perutnya sakit.?" Tanya Vano. Dia sudah duduk di dalam mobil bersama Celina. Begitu juga Mama Alisha dan Papa Adiguna.
"Tidak, aku tidak merasakan apa-apa. Tapi kenapa airnya terus keluar.?" Celina tidak bisa tenang karna air ketubannya terus mengalir.
"Tenang, semuanya akan baik-baik saja."
"Yang terpenting kita harus segera sampai ke rumah sakit." Mama Alisha berusaha menenangkan putrinya.
Sampainya di rumah sakit, Celina langsung di bawa ke UGD untuk mendapatkan tindakan.
Setelah 2 jam dilakukan tindakan untuk mengupayakan melahirkan normal, ternyata tidak ada pembukaan. Celina juga tidak merasakan kontraksi.
Pada akhirnya mereka mengambil langkah untuk dilakukan operasi caesar.
Selama operasi berlangsung, Vano terus berada di samping Celina. Menggenggam tangannya dan menciumi kening Celina berulang kali.
Mata Vano sampai berkaca-kaca, tidak tega melihat perjuangan Celina yang harus melahirkan di usia muda.
"Maafkan aku,,," Ucap Vano. Dia yang sudah membuat Celina merasakan semua ini.
Celina hanya mengulas senyum. Dia tidak cukup punya tenaga untuk berbicara. Pandangannya bahkan terasa kabur.
30 menit berlalu, tangisan bayi mungil menggema di ruang operasi.
Seketika suasana haru semakin menyelimuti. Vano dan Celina meneteskan air mata.
__ADS_1
"Wah,, selamat, putra kalian sangat tampan." Ucap dokter, dia meletakkan Baby Boy di atas dada Celina.
Tangis keduanya semakin pecah. Menatap bayi mungil yang memiliki perpaduan wajah seperti mereka.
"Terimakasih sayang,," Ucap Vano. Dia terus mencium kening Celina sembari mengusap lembut kepala Baby Boy.
"Dia tampan sepertimu,," Ucap Celina lirih.
Celina tidak tau bagaimana mengungkapkan kebahagiaan yang saat ini tengah dia rasakan. Kebahagiaan yang jauh lebih besar dari apa yang pernah dia terima selama hidupnya.
...****...
Celina kembali ke rumah setelah 4 hari berada di rumah sakit. Kedatangan Baby Boy sebagai cucu kandung keluarga Adiguna, disambut dengan meriah. Semua pekerja di rumah besar itu berkumpul di ruang keluarga.
"Yeayy,,, adik bayi datang,," Naura langsung berlari ke arah Baby Boy yang di gendong oleh Mama Alisha.
"Naura mau liat adik bayi,," Pinta Naura sembari menarik bayu Mama Alisha.
"Ok,, kita lihat disana yah." Mama Alisha menyuruh Naura untuk duduk di sofa.
Celina tersenyum melihat Baby Boy yang seketika di kerubuti oleh pekerja rumah yang penasaran dengan wajahnya.
"Ayo duduk,," Vano menuntun Celina untuk duduk di sofa.
"Kalian sudah menentukan nama yang tepat.?" Tanya Keyla. Sampai saat ini, Celina dan Vano masih bingung memberikan nama untuk putra merek.
"Belum,," Celina menggelengkan kepalanya.
"Aku serahkan saja pada Daddy. Biar dia yang mencari nama."
"Terlalu banyak menyiapkan nama, akhirnya jadi bingung." Tuturnya.
Ternyata bukan Celina saja yang bingung, Vano juga bingung akan memberikan nama apa untuk putranya.
...****...
Coba ah mau tanya sama readers, kali aja pada punya nama yang bagus buat Baby Boy.
Kira-kira nama yang cocok apa ya.? 😅
..."The End"...
..."The End"...
..."The End"...
Terimakasih kasih yang sudah bertahan sampai akhir di novel ini. 🙏
maaf kalau cerita halu ini tidak sesuai harapan dan banyak kekurangan 🙏 othor hanya manusia biasa yang memiliki keterbatasan dalam berfikir dan menuangkan cerita.
Kurang dan lebihnya, semoga bisa menghibur😊.
Tolong mampir juga ke novel baru othor biar makin semangat halunya😁
1. "Terjebak Pernikahan Kontrak"
__ADS_1
2. "My Secretary"