Pesona Sang Duda

Pesona Sang Duda
Bab 45


__ADS_3

Vano menenteng 2 paper bag disebelah tangannya. Dia berjalan tegap dengan langkahnya yang lebar. Postur tubuhnya tinggi dan tegap, memancarkan seorang pemimpin yang berkharisma tinggi. Dan didukung dengan wajah tampannya, membuat banyak kaum hawa terpesona akan kesempurnaan yang dimiliki oleh Vano.


Kedatangannya di supermarket sempat menjadi pusat perhatian. Banyak kaum hawa yang mendadak mengagumi sosoknya hanya karna melihat Vano membeli susu ibu hamil.


Sekilas, mereka mengira bahwa Vano adalah suami idaman yang begitu perhatian hingga rela masuk ke supermarket pada saat jam kantor bahkan masih memakai setelan jas lengkap beserta dasi yang masih terpasang rapi di kerah lehernya.


Mata mereka hanya bisa melihat kejadian pada saat itu, tanpa mereka tau bahwa sikap Vano sudah menghancurkan hati seorang wanita yang tengah mengandung darah dagingnya.


Kita memang tidak berhak menghakimi meski seseorang telah berbuat salah, karna sang pencipta maha membolak - balikan hati.


Tapi mengagumi dan menganggap baik seseorang hanya dengan sekali melihat perbuatannya, tidak menjamin bawa orang tersebut benar - benar baik. Karna terkadang, apa yang dilihat oleh mata tidak sesuai dengan kenyataan.


Begitu pula sebaliknya, kita tidak bisa menilai seseorang itu buruk hanya karna dia melakukan satu kesalahan.


Sejatinya hidup adalah sebuah perjalanan untuk berproses. Jika tidak bisa baik hari ini, mungkin akan baik di hari esok.


Vano menjadi dingin dan angkuh setelah kehilangan Jasmine. Siapa yang menyangka jika dulu sifatnya begitu lembut hingga beberapa temannya memberikan cap sebagai budak cinta dan suami takut istri.


Kini setelah kembali melewati proses yang cukup panjang dalam merasakan keterpurukan, sifat aslinya kembali keluar.


Vano sudah berdiri di depan apartemen Celina. Dia langsung menekan bel. Jelas sekali kalau dia sudah tidak sabar untuk melihat Celina dan ingin mengetahui perkembangan darah dagingnya.


"Maaf, ada apa.?" Ida sedikit ketakutan mengajukan pertanyaan pada Vano. Dia bahkan tidak berani membuka pintu lebar - lebar. Pesan dari Celina untuk berhati - hati setiap menerima tamu yang tidak dikenal, membuat Ida langsung waspada.


"Aku harus bertemu Celina." Jawab Vano datar. Vano sudah tau bahwa Celina mengajak seseorang ke apartemennya. Karna foto yang dia peroleh dari orang suruhannya, memperlihatkan Celina bersama dengan wanita yang ada di hadapannya itu.


"Tunggu sebentar, saya akan memanggilnya."


Perbuatan Ida yang menutup pintu, membuat Vano melotot geram.


"Sialan." Vano mengumpat lirih.


Kalau saja ada karyawannya yang berbuat seperti itu, pasti hari ini akan menjadi hari terakhir dia bekerja.


Setelah dibiarkan berdiri di luar beberapa menit, akhirnya pintu kembali di buka dan memperlihatkan sosok wanita cantik yang sangat dia rindukan.


"Kamu,," Celina menatap malas. Kehadiran Vano sama sekali tidak terlihat di harapkan olehnya.


"Kenapa kesini.?" Tanyanya tak suka.


"Tentu saja karna ingin melihatmu dan anakku." Jawaban enteng Vano membuat Celina berdecak.


"Kalian baik - baik saja bukan.?" Vano bertanya penuh perhatian.


Celina menatap intens, dia juga melihat paper bag besar yang dibawa oleh Vano.


Vano benar - benar berniat datang sampai membawakannya sesuatu dan datang di saat jam kantor.


"Sepertinya kamu salah paham." Ujar Celina tegas.


"Aku memang mengijinkanmu untuk melihat dan ikut merawatnya, tapi nanti setelah dia lahir." Katanya meluruskan.


Vano bukan tidak paham dengan perkataan Celina 2 minggu lalu yang memberinya ijin untuk ikut andil dalam merawat anak mereka. Tapi menunggu anak itu lahir ke dunia, rasa tidak sanggup untuk menahan rindu selama itu.


"Lalu aku harus pulang.?" Tanya Vano tak yakin.


"Dia sudah terlanjur tau kalau daddynya datang, pasti akan kecewa kalau pergi lagi." Vano bicara asal tapi raut wajahnya sangat serius.


"Benarkan.?" Vano mencari pembelaan dengan pura - pura berbicara pada anak yang ada di dalam perut Celina.

__ADS_1


Celina yang sejak tadi diam, kini menatap tak habis pikir. Entah usaha apa yang sedang dilakukan oleh Vano. Benar - benar sangat konyol untuk ukuran seorang CEO sepertinya.


Tak mau berbuntut panjang, akhirnya Celina mengijinkan Vano untuk masuk.


"Lain kali tidak perlu membawakan apapun. Aku tidak mau merepotkan dan memiliki hutang budi padamu." Celina berucap tenang. Dia mengambil paper bag yang disodorkan oleh Vano, kemudian menyuruh Ida untuk membawanya ke dapur.


"Aku hamil karna kesalahanku sendiri, jadi tidak perlu merasa memiliki kewajiban untuk memenuhi semua kebutuhannya selama dalam kandungan."


"Aku juga tidak akan menuntut apapun darimu."


Celina begitu tenang mengeluarkan kalimat panjang yang berhasil membuat Vano kembali merenungi kesalahannya terhadap Celina dulu.


"Jika aku bisa memutar waktu, hal pertama yang ingin lakukan adalah menyadari perasaanku padamu."


"Mungkin aku tidak mengeluarkan kata - kata bodoh itu." Tutur Vano penuh sesal.


Dulu egonya masih terlalu tinggi untuk jatuh cinta pada wanita lain selain mendiang istrinya.


Hingga perasaan yang dia miliki terhadap Celina tertutup oleh egonya sendiri.


Vano selalu menanamkan dalam hati dan pikirannya bahwa tidak ada wanita sebaik Jasmine, dan dia selalu beranggapan bahwa tidak akan pernah bisa untuk mencintai siapapun lagi.


Tapi kehadiran Celina membuat Vano harus menelan ludahnya sendiri. Saat ini dia mengakui jika hatinya sudah tertambat pada wanita yang dulu dia pandang hina. Meski tidak seluruh cintanya di miliki oleh Celina, namun setengah hatinya sudah terukir nama Celina.


"Tapi jika itu bisa terjadi, mungkin kita tidak akan pernah bertemu." Timpal Celina tegas.


"Karna aku juga ingin memutar waktu agar malam itu tidak datang ke club."


Sorot mata Celina penuh dengan keseriusan dan penyesalan. Kejadian malam itu benar - benar ingin dia hindari kalau pada akhirnya akan seperti ini.


Tidak mudah memberikan kesempatan pada orang yang sudah berulang kali merendahkan dan menghina kita agar tetap bisa berinteraksi dengan kita.


Itulah kekecewaan yang sesungguhnya.


Namun berbeda saat dia harus berhadapan dengan Vano. Sekalipun hatinya sudah dihancurkan oleh ucapannya, Celina masih berbaik hati membiarkan Vano melihat dan ikut merawat anaknya kelak.


...****...


"Aku harus kembali ke kantor. Besok aku akan datang lebih awal bersama Naura. Dia selalu menanyakanmu." Penuturan Vano membuat Celina bengong menatapnya.


Tidak habis pikir kenapa perkataan Vano seolah bahwa dia ingin mengunjunginya setiap hati.


"Tidak perlu datang setiap hari, aku butuh ketenangan, bukan gangguan." Ujar Celina meminta pengertian.


"Jika Naura ingin datang, antarkan saja kesini. Jemput dia kalau sudah waktunya pulang."


Celina beranjak dari duduknya, seakan menyuruh Vano agar ikut beranjak dan pergi dari apartemennya.


Van menarik nafas dalam, dia menghembuskannya perlahan untuk membuang rasa sesak di dadanya.


Akan butuh usaha dan perjuangan yang ekstra untuk bisa meluluhkan hati Celina. Dia bukan tipe wanita yang mudah luluh setelah di kecewakan.


Kehadiran anak dalam rahimnya tak membuat Celina goyah pada pendirian untuk menerima Vano begitu saja setelah apa yang sudah dia perbuat.


Celina lebih memilih untuk menanggung semuanya seorang diri. Dia lebih kuat dari yang orang lain pikirkan.


"Aku pergi. Hubungi aku kalau butuh sesuatu."


Vano beranjak, dia tersenyum tulus pada Celina.

__ADS_1


"Jangan memblokir nomor ponselku lagi, aku kewalahan jika harus menggantinya setiap hari."


Tuturnya dengan sedikit kesal.


Celina hanya mengangguk tanpa suara. Setidaknya itu respon yang cukup baik, daripada nomor ponselnya kembali di blokir oleh Celina.


Celina mundur satu langkah saat Vano mendekat.


Matanya melotot seakan tau ada bahaya yang akan datang.


"Mau apa.?!" Tanya Celina kaget.


"Yang pasti bukan mau menciummu, karna kamu pasti menolak." Sahut Vano cepat. Sesaat kemudian dia membungkukan badan. Mengarahkan wajahnya tepat di perut Celina.


"Jaga Mommy mu, Daddy tau kamu anak yang baik." Ujar Vano dengan senyum bahagia.


"Tetap sehat di dalam, Daddy akan selalu menunggumu."


Celina membisu. Dia hanya menatap Vano tanpa memberikan respon apapun. Tidak ada kebencian, tidak juga merasa iba dengan apa yang dilakukan oleh Vano. Hatinya tidak bisa lagi merasakan apapun saat ini, setelah begitu banyak merasakan sakit dan kekecewaan.


Celina bersikap netral, mencoba menjalani kehidupannya dengan logika tanpa mengutamakan perasaan. Dia sudah trauma, terlalu mudah memberikan perasaannya kepada orang lain hingga dengan mudahnya di hancurkan.


Sentuhan lembut mendarat di perut Celina, namun


Celina tidak membiarkan tangan Vano berlama - lama mengusap perutnya. Dia mundur untuk membuat jarak.


"Kenapa harus ada kontak fisik." Protes Celina. Walaupun tidak marah, namun Celina seakan tidak menyukai apa yang baru saja dilakukan oleh Vano.


"Dia ada di rahimmu karna kontak fisik. Jadi dia juga butuh sentuhan." Vano tersenyum menggoda.


"Tidak lucu." Tukas Celina ketus.


"Memang tidak lucu, hanya nikmat saja."


Celina semakin melotot dibuatnya.


"Iiishh,,, sudah sana pergi,," Usir Celina geram. Dia mendorong tubuh Vano hingga keluar dari apartemennya.


Vano menurut saja sambil terkekeh. Wajah cemberut Celina membuatnya gemas.


Vano menahan pintu saat Celina akan menutupnya. Dia menjulurkan kepala tepat di depan wajah Celina.


"Aku mencintaimu,," Kata Vano setengah berbisik, kemudian melepaskan pintu dan membiarkan pintu itu tertutupnya rapat.


Vano masih diam di depan pintu, dia membayangkan seperti apa ekspresi Celina yang sedang cemberut namun semakin di goda.


...******...






Visual Celina sudah pernah othor pake di akun satunya (terpaksa jadi istri kedua).


Othor pake lagi di novel ini karna terlalu cinta sama kecantikan Kim Sae Ron😁

__ADS_1


__ADS_2