
1 minggu menghabiskan waktu berdua, semakin mempererat hubungan keduanya meski awalnya sempat terjadi perselisihan.
Keduanya bisa menekan ego, berusaha meredam untuk tidak mengikuti perasaan yang sebenarnya kacau kala itu.
Celina berusaha untuk memaklumi, juga berpikir positif pada Vano yang masih memajang foto mendiang istri pertamanya.
Mungkin saja memang benar apa yang dikatakan oleh Vano kalau dia lupa untuk menggantinya.
"Sayang sekali harus pulang," Keluh Vano tak rela.
1 minggu terlalu singkat untuk berduaan dengan istri seksinya tanpa ada gangguan dari siapapun.
Rasanya masih kurang lama untuk melakukan pendekatan agar Celina semakin menempel padanya.
Sejauh ini, Celina belum berlalu menggilai Vano. Dia seperti masih membuat batasan agar tidak terlalu mencintai Vano.
Hancur saat kehilangan orang yang dia cintai, membuat Celina lebih hati - hati untuk menyerahkan seluruh hatinya. Sekalipun pada suaminya sendiri.
Dia enggan merusak hati dan mentalnya sendiri ketika nanti harus di hadapkan dengan sebuah perpisahan. Paling tidak, masih ada hati yang tersisa saat sebagian ikut pergi dengan sang pemilik hatinya.
Sudah cukup 3 kali merasakan patah hati yang membuatnya begitu frustasi.
Celina enggan mengulangi kesalahan yang sama untuk kesekian kalinya.
Dia berusaha untuk mencintai Vano sewajarnya, meski tau Vano akan menjadi pendamping hidup untuk selamanya.
"Statusmu itu bukan cuma seorang suami, jangan memikirkan kesenanganmu sendiri dan melupakan anakmu." Celetuk Celina sebelum masuk kedalam mobil.
Dia sudah bosan mendengar keluhan Vano sejak tadi pagi, terus mengeluh tidak ingin mengakhiri baby moon mereka yang dia bilang sangat singkat.
Vano langsung diam seribu bahasa. Dia kalah telak dengan ucapan yang di lontarkan oleh istrinya.
Seketika merasa kalau dirinya tidak peduli pada Naura karna di sebut hanya memikirkan dirinya tanpa memikirkan putrinya yang sudah mereka tinggal selama 1 minggu.
"Ya ampun, kenapa malah bengong.?" Gerutu Celina dengan kepala yang menjulur keluar jendela.
Dia menatap Vano yang masih berdiri di belakang mobil dan tak kunjung memasukan koper mereka kedalam bagasi.
Vano berdecak kesal mendengar teguran Celina.
"Astaga Nyonya El Vano, kau itu bawel sekali."
Vano langsung membuka garasi untuk memasukkan koper. Dia menutup dengan kencang dan bergegas masuk ke dalam mobil.
"Bukan aku yang bawel, tapi kamu yang lelet." Celina melirik malas.
Vano hanya bisa menelan ludahnya.
Ibu hamil di sampingnya benar - benar menguji kesabaran. Meski sudah beberapa minggu menjadi suami dan selalu berada di sampingnya, tapi belum bisa mengimbangi mood Celina yang gampang berubah.
Pantas saja dulu Celina terus mengusirnya setiap kali ingin membujuknya agar mau menikah dengannya.
Mood ibu hamil yang satu ini memang sangat buruk.
Celina langsung menyenderkan tubuhnya, kemudian memejamkan mata dan kedua tangan yang di silangkan di atas dada.
"Tolong bangunkan aku kalau sudah sampai,," Pinta Celina. Dia sangat mengantuk karna tadi siang tidak tidur. Kewalahan mengimbangi Vano yang tak pernah puas menikmati tubuh indahnya.
Vano melongo di buatnya. Melirik Celina yang sudah siap untuk terbang ke alam mimpi.
Entah harus berapa kali menghela nafas melihat tingkah Celina.
Akan melakukan perjalanan yang membosankan dengan membelah kemacetan kota, tapi di tinggal tidur oleh sang istri.
"Baik Nyonya El Vano yang sangat pengertian."
Ujar Vano dengan menekankan kalimatnya.. Secara tidak langsung sedang menyindir Celina.
"Apa kamu baru tau.? Aku memang pengertian." Ujar Celina.
"Terimakasih atas pujianmu, Tuan El Vano.!"
"Ah,, sh ittt,," Umpat Vano pelan.
Berniat untuk menyindir Celina agar menyadarinya, tapi ucapannya justru di anggap pujian oleh Celina.
"Aku mendengarnya El Vano.!" Geram Celina tegas.
Lagi - lagi Vano dibuat menelan ludah. Bisa panjang urusannya kalau Celina kembali marah padanya.
__ADS_1
"Ada semut yang menggigit leherku, sayang,,," Tutur Vano beralasan. Dia melembutkan suaranya untuk menyakinkan Celina.
Saat tak mendapatkan reaksi apapun, Vano langsung bernafas lega.
Dia menyalakan mobil dan segera meninggalkan resort untuk kembali ke kediaman Adiguna.
...*****...
"Tubuhmu berat sekali." Vano terlihat susah payang mengangkat tubuh Celina untuk mengeluarkannya dari mobil.
Istrinya itu masih pulas tertidur. Dan Vano tidak tega untuk membangunkannya, sampai akhirnya memilih untuk menggendong Celina kedalam rumah.
Namun Vano tidak mengira kalau tubuh Celina akan seberat itu.
Hanya 1 minggu menghabiskan banyak waktu di resort, berat badan Celina melonjak drastis.
"Tolong tutup pintu dan keluarkan kopernya."
Vano menyuruh penjaga rumah yang sejak tadi menghampiri mobilnya ketika baru terparkir.
"Baik tuan."
Vano membopong Celina dengan hati - hati.
Dahinya mengkerut melihat mobil yang dia kenali terparkir di halaman rumah.
Seketika merasa malas untuk masuk kedalam.
Tapi melihat Celina yang masih pulas, sedikit membuat Vano merasa lega.
Setidaknya Celina tidak akan bertatap muka dengan pemilik mobil itu karna dia akan langsung membawa Celina ke kamar.
Begitu sampai di depan pintu masuk, suara riuh langsung menyambut indera pendengarannya.
Ada sura Naura yang terdengar sedang tertawa.
Tawa putrinya membuat Vano ingin segera memeluk putrinya yang selama 1 minggu dia tinggalkan.
"Daddy, Mommy,,," Naura langsung berteriak. Dia yang lebih dulu melihat Vano masuk ke dalam rumah. Teriakan Naura membuat penghuni ruang tamu menatap ke arahnya.
"Ssttt,,,," Vano meletakan telunjuk di bbir untuk menyuruh Naura diam.
"Celin tidur.?" Tanya Mama dengan suara pelan. Vano mengangguk cepat.
"Mommy sedang tidur, Naura tunggu di sini sampai Daddy kembali." Bujuk Mama lembut.
Naura yang begitu penurut, mau mendengarkan ucapan Omanya tanpa melakukan protes.
"Ayo main lagi sama Leo,,"
Mama membawa Naura mendekati Leo.
Vano membungkuk sopan dan mengulas senyum tipis pada Papa Adiguna untuk pamit membawa Celina ke kamar.
Sedangkan Dion yang juga ada di sana, hanya diberikan tatapan dingin dan menusuk oleh Vano.
Dia masih saja merasa panas dan cemburu setiap kali mengingat Dion.
Hatinya seperti terbakar karna mengingat kedekatan Dion dan Celina dulu.
"Jangan cepat bangun sayang, nanti saja kalau si brengsek itu sudah pergi."
Ucap Vano berbisik. Dia menarik selimut untuk menutupi tubuh Celina, setelah itu mendaratkan kecupan dan langsung turun untuk bergabung di ruang tamu.
"Sore Pah, Mah,," Sapa Vano sopan.
Tadi tidak sempat menyapa mereka karna takut Celina akan terbangun.
"Hmm,,,"
"Apa Celina masih tidur.?" Tanya Papa.
"Ya, sepertinya dia kelelahan." Jawab Vano dengan suara lantang. Seolah sengaja agar Dion mendengarnya dan berfikir kemana - mana.
Tapi sayangnya Dion tidak semesum dirinya.
Dion hanya berfikir kalau Celina kelelahan karna cukup lama di perjalanan.
"Bagaimana kabarmu,," Tanya Vano basa - basi.
__ADS_1
"Baik,," Dion tersenyum sopan.
"Kamu hanya datang berdua.? Tidak mengajak istri,,, maksudku mantan istrimu." Vano mengajukan pertanyaan dengan tatapan dingin.
Dia sengaja menyebut istri kemudian pura - pura salah bicara.
"Tidak." Jawab Dion singkat. Dia terlihat tidak suka dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh Vano.
"Daddy,,,"
Tiba - tiba Naura berlari menghampiri Vano dan langsung memeluknya.
Vano menyambutnya dengan senyum lebar. Dia mengangkat Naura, menundukkan Naura di pangkuannya.
"Apa anak Daddy rewel.?" Tanya Vano lembut.
Naura langsung menggelengkan kepalanya.
"Kata Oma dan Opa, Naura baik dan penurut." Tuturnya gemas.
"Iya kan Opa.? Iya kan Oma.?" Tanyanya.
Kedua orang tua Celina langsung tersenyum lebar melihat tingkah cucunya.
"Tentu saja, cucu Opa dan Oma sangat penurut." Jawab Papa. Naura terlihat senang mendengarnya.
"Kenapa Daddy dan Mommy lama sekali perginya.?"
Kali ini ada nada merajuk dari pertanyaan Naura.
Meski anak kecil itu tidak pernah menyuruh keduanya untuk pulang setiap kali menelfon, rupanya dia memendam kerinduannya pada Mommy dan Daddy nya.
"Maafkan Daddy, lain kali kita akan pergi bersama."
Ucapan Vano membuat Naura bersorak senang.
"Yeaayy,, Apa Leo boleh ikut, Daddy.?" Tanya Naura.
Vano seketika diam, ragu untuk menjawab. Jika tidak ada orang lain, mungkin Vano akan tegas mengatakan tidak.
Leo yang mendengar ucapan Naura, langsung mengucapkan penolakan tegas.
"Aku tidak mau ikut. Aku mau pergi dengan Mama dan Papa saja." Katanya sambil menghampiri Dion dan duduk di sebelahnya.
"Leoooo.!!!" Teriak Naura merengek.
"Leo nakal Daddy,,!" Adunya pada Vano.
"Pokonya Leo harus ikut.!" Serunya lagi.
Naura sampai menangis hanya karna Leo tidak mau ikut pergi dengannya.
"Tapi aku tidak mau Pah,," Kini giliran Leo yang merengek pada Dion untuk mencari pembelaan.
"Tidak apa, nanti kita pergi bersama dengan Nuara." Bujuk Dion. Dia ingin mengakhiri perdebatan putranya dengan putri Vano.
"Yeeayy,," Naura berteriak senang.
Semua orang terlihat menggelengkan kepala melihat tingkah Leo dan Naura.
"Ya ampun, mereka lucu sekali." Mama Terkekeh.
"Bagaimana kalau nanti mereka berjodoh, pasti sangat rame."
Vano langsung membulatkan matanya. Dia langsung berdoa dalam hati agar putrinya tidak berjodoh dengan Leo.
...Info Penting, mohon baca sampai akhir🙏...
...****...
Jangan lupa tinggalkan like dan Vote bagi yang belum,😊☺
**Othor mau minta pendapat readers nih, kira - kira sebelum buat novel baru, novel yang terbengkalai perlu di lanjut nggak yah.?
Novel dengan judul "Berawal Dari Dendam".
Othor baru buat sampai bab 11, dan terbengkalai karna dulu fokus sama Novel My Sugar.
Tolong mampir dan komen disana yah, kira - kira harus di lanjut atau tidak usah.
__ADS_1
Makasih banyak buat yang mau mampir dan komen di sana🥰🥰**