Pesona Sang Duda

Pesona Sang Duda
Bab 85


__ADS_3

Arkan menepikan mobilnya, dia melepaskan jas dan memberikannya pada Keyla.


"Bajunya basah, sebaiknya ganti pakai jas ini."


Perintah Arkan.


Keyla mengambil jas itu tanpa bicara apapun. Dia langsung melepaskan baju Leo dan membalut tubuh putranya menggunakan jas milik Arkan.


Arkan kembali melajukan mobilnya, berusaha menerobos kemacetan ibu kota di jam pulang kerja.


Tangisan Keyla yang tidak bersuara bisa membuat Arkan tenang dan fokus menyetir.


Sampainya di rumah sakit, Leo langsung di bawa ke UGD. Keyla memaksa masuk untuk menemani Leo namun di tolak oleh pihak dokter dan perawat. Bukan tanpa alasan, pasalnya Keyla terus menangis. Tangisan Keyla bisa saja mengganggu konsentrasi dokter dan perawatan dalam memberikan pertolongan pertama untuk Leo.


"Tenanglah,,"


Arkan menghampiri Keyla. Dia bingung harus bagaimana menenangkan Keyla yang terus menangis.


Sementara itu, Vano dan Celina belum juga sampai.


Kalau mereka sudah sampai, mungkin Celina bisa menenangkan Keyla.


Karna dalam keadaan menangis seperti itu, seseorang butuh sandaran atau seseorang yang siap memeluknya untuk memberikan ketenangan.


"Sebaiknya duduk dulu,," Arkan ragu - ragu untuk menggandeng Keyla mendekat kursi. Dia hampir memegang tangan Keyla tapi kemudian Celina dan Vano datang menghampiri mereka.


"Kak,, bagaimana keadaan Leo.?" Dengan raut wajah panik, Celina menghampiri Keyla.


Keyla hanya menggeleng lemah, lalu menghambur ke pelukan Celina. Tangisnya semakin pecah, Keyla terlihat begitu hancur. Tidak mungkin dia bisa tenang saat anaknya tidak sadarkan diri.


Rasa takut akan kehilangan sudah pasti ada dalam benaknya, itu yang membuat Keyla tidak bisa berhenti menangis.


Dulu saat pertama kali Leo tenggelam, hal yang sama juga terjadi. Leo tidak sadarkan diri karna terlalu lama di dalam air.


Itu yang membuat Leo akhirnya trauma.


Celina itu hanyut dalam tangisan Keyla yang memilukan. Matanya berkaca - kaca menahan tangis. Meski baru memiliki anak sambung, namun Celina bisa merasakan bagaimana perasaan Keyla.


Apa lagi, Celina juga sudah menganggap Leo sebagai keponakannya sendiri.


Sudah pasti Celina itu khawatir dengan kondisi Leo.


Vano menghampiri Arkan yang diam mematung sambil terus menatap Keyla.


"Kenapa masih disini.?" Tegur Vano. Dia menepuk pundak Arkan untuk membuyarkan lamunannya.


"Dokumennya masih di atas meja, buruan balik dan ambil dokumen itu." Perintahnya.


"Enak aja main ngusir."


"Gue mau tanya sesuatu dulu."


Arkan menarik tangan Vano, membawa bosnya jauh dari Celina dan Keyla yang masih berpelukan.


"Sialan.! Ngapain lu gandeng - gandeng tangan gue.!" Vano menepis tangan Arkan setelah menyadari kalau tangannya di gandeng oleh Arkan.


Vano geli sendiri, dia sampai membersihkan pergelangan tangannya. Menghilangkan sentuhan Arkan di sana.


Apa yang dilakukan Vano, membuat kedua bola mata Arkan membulat sempurna. Otaknya langsung bekerja keras, dia tau apa yang dipikirkan oleh Vano.


"Gue masih normal.!" Ketus Arkan.


Vano berdecak kesal.


"Nggak yakin gue.!" Seru Vano.

__ADS_1


"Udah bertahun-tahun lu nggak keliatan ngegandeng cewek. Siapa yang jamin lu masih waras." Vano bergidik ngeri.


Sudah lama dia curiga dengan asisten pribadinya yang tidak pernah lagi berurusan dengan wanita sejak kisah percintaannya kandas beberapa tahun silam.


Hal itu membuat Vano berfikir macam - macam. Takut jika asisten pribadinya sudah berpindah haluan.


"Wahh sialan lu.!" Arkan terlihat tidak terima di tuduh penyuka sesama tongkat.


Vano tersenyum meledek.


Jelas Arkan masih normal, dia masih tertarik dengan lawan jenis. Bahkan saat ini sedang tertarik dengan wanita yang baru saja dia lihat beberapa jam lalu. Dan saat ini wanita itu sedang berada di pelukan Celina.


"Dia siapa.?" Tanya Arkan lirih. Manik matanya tak lepas dari Keyla. Vano mengikuti tatapan mata Arkan, setelah tau siapa yang di tatapan oleh Arkan, Vano kembali melihat asistennya itu.


Dia menelisik tatapan mata Arkan yang terlihat mengagumi sosok Keyla. Tatapan matanya berbeda, Vano tau jenis tatapan itu.


"Dia udah punya suami sama anak, nggak usah banyak tanya." Jawab Vano ketus.


Dia malas untuk menjelaskan pada Arkan, apalagi menyangkut masalah pribadi seseorang.


Vano paling tidak suka ikut campur masalah percintaan orang lain.


Jawaban Vano membuat Arkan kehilangan semangat. Raut wajahnya berubah sendu seketika.


"Kak Dion sudah diberi tau.?" Tanya Celina setelah melihat Keyla mulai tenang.


Keyla menggeleng takut.


"Jangan beri tau Dion, aku mohon." Pintanya.


"Dion pasti akan marah padaku, menganggapku lalai menjaga Leo. Bagaimana,,," Keyla menggantungkan ucapannya. Ekspresi wajahnya semakin cemas dan ketakutan.


"Bagaimana kalau dia mengambil hak asuh Leo," Suara Keyla tercekat. Dia tidak sanggup membayangkan tinggal berpisah dengan Leo.


"Lebih baik kak Dion tau dari kakak, dari pada nanti dia tau dari orang lain."


"Kak Dion bisa saja datang ke rumah, dia akan curiga kalau kalian tidak ada disana."


Nasehat Celina akhirnya membuat Keyla mau menghubungi Dion dan memberitahukan kondisi Leo.


...****...


Dion melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Begitu mendapat telfon dari Keyla, dia langsung berputar arah. Lupa dengan tujuannya.


"Apa anakmu baik - baik saja.?" Wanita di samping Dion mulai buka suara.


"Diamlah.!" Tegur Dion.


Dalam keadaan panik, dia tidak ingin mendengar suara wanita itu.


Wanita itu menghela nafas pelan, lalu memilih bersandar pada jok mobil dan membuang pandangan keluar jendela.


Begitu sampai di rumah sakit, Dion berjalan cepat menuju kamar rawat inap Leo.


Putranya sudah dipindahkan setelah mendapatkan pertolongan pertama.


"Dion,,,! Kenapa meninggalkanku.?"


Seru wanita itu dengan wajah kesal. Dia berusaha mengejar langkah Dion yang setengah berlari.


Dion berhenti kemudian berbalik badan.


"Sebaiknya kamu pulang saja, aku tidak bisa mengantarmu pulang nanti." Katanya dengan wajah datar. Lalu kembali berjalan cepat meninggalkan wanita itu.

__ADS_1


Wanita itu tidak menghiraukan ucapan Dion, dia tetap membuntuti Dion meski harus berjalan setengah berlari.


ketiga orang yang menunggu di depan kamar Leo, langsung menoleh bersamaan ketika melihat kedatangan Dion.


"Bagaimana keadaan Leo.?" Tanyanya menatap Celina.


"Sudah siuman, Leo hanya trauma jadi pingsan." Jawab Celina.


Dion tidak memperdulikan keberadaan Vano dan laki-laki yang duduk di samping Vano.


Setelah bertanya pada Celina, Dion langsung masuk kedalam.


"Leo,,," Panggil Dion lirih. Keyla sedikit bergeser saat Dion berjalan menghampiri Leo, dia menatapnya cemas. Putranya itu masih terlihat lemas.


Dion menggenggam tangan Leo.


"Papa,," Suara Leo sedikit bergetar. Jelas sekali kalau Leo sangat takut.


"Jangan takut, ada Papa disini. Leo akan baik - baik saja." Dion mendaratkan kecupan di kening Leo.


"Di,," Keyla terlihat ketakutan menatap Dion.


"A,,aku minta maaf. Aku,,," Ucapnya terbata.


"Kita bicarakan nanti." Potong Dion cepat.


Dia enggan berdebat di depan Leo, terlebih kondisi Leo masih sangat lemas.


...****...


"Kamu,,," Pekik Celina. Kedatangan wanita itu membuat Celina tidak suka.


"Dimana Dion.?" Tanyanya tanpa basi - basi sedikitpun. Setelah menatap pintu ruangan, dia terlihat ingin masuk.


Celina buru - buru berdiri dan menghalangi pintu.


"Kamu mau masuk begitu saja.?" Tanya Celina sinis.


"Kami saja yang kerabatnya belum bisa masuk ke dalam." Celina menatap tajam wanita itu.


"Aku akan menjadi mama sambung Leo, kenapa melarangku masuk.?"


"Aku juga ingin tau kondisi Leo."


Celina berdecak sinis mendengar alasan palsu itu.


"Kamu mencari kak Dion, bukan Leo.!" Seru Celina mengingatkan.


"Ya ampun, kenapa aku baru mengingat wajahmu." Celina terkekeh sinis. Sekarang dia sudah ingat wanita itu. Wanita yang dulu sering dia lihat di club malam.


"Bagaimana bisa kamu menjerat kak Dion.?" Celina menatap sinis.


"Apa maksudmu.?" Wanita itu tak terima di tuduh Celina telah menjerat Dion.


"Jangan pura-pura bodoh, aku tau betul siapa kak Dion."


"Kak Dion tidak mungkin mendekati wanita sepertimu."


"Apalagi,," Celina menggantungkan ucapannya, menatap penampilan wanita itu dari ujung kaki sampai kepala dengan tatapan geli. Baju yang sangat minim, terbuka dimana - mana.


Celina sadar jika dirinya juga wanita baik - baik, tapi baju yang dia kenakan masih dalam batas wajar. Tidak seperti wanita yang berdiri di hadapannya


...*****...


...Yang masih mau lanjut, jangan lupa kirim votenya😊...

__ADS_1


__ADS_2