
Pagi itu Celina kembali ke rumah sakit setelah mendengar kabar bahwa Dion sudah sadarkan diri dan telah dipindahkan ke ruang rawat inap.
Kemarin Celina ingin menjaga Dion di sana, namun kedua orang tuanya tidak mengijinkan. Mereka terlihat berusaha untuk membuat jarak antara Celina dan Dion. Tidak ada alasan lain bagi mereka selain untuk menjaga Celina agar tidak semakin terluka.
Mereka bahkan mendukung Celina yang lebih memilih untuk melepaskan Dion.
Sebagai orang tua, mereka juga enggan membiarkan putrinya menikah dengan laki - laki dengan masa lalu yang belum usai.
Celina bergegas masuk keruang rawat inap Dion. Dia datang seorang diri karna memang tidak mau di dampingi oleh orang tuanya. Celina ingin menghindari sesuatu yang tidak di inginkan.
"Maaf,," Ucap Celina. Dia langsung berbalik badan setelah melihat Keyla yang tengah menyuapi Dion dan Leo yang sedang duduk bersama di atas ranjang Dion.
"Celina,," Seru Dion. Dia terlihat tidak enak pada Celina, bahkan setelah itu menolak saat Keyla akan memberikan minum padanya.
'
"Aku akan kembali lagi nanti." Kata Celina sembari melangkah keluar. Dia tidak sempat mencegahnya karna Celina bergegas keluar.
Sesak, dadanya terlalu sesak untuk melihat keutuhan keluarga yang seharusnya memang bersatu kembali.
Celina mencoba untuk membuang egonya, dia tidak mau mengambil keputusan hanya dengan memikirkan dirinya sendiri tanpa memikirkan bagaimana Keyla dan Leo nantinya.
Celina duduk di luar ruangan itu. Dia tersenyum miris. Kali ini akan kehilangan cinta untuk kesekian kalinya. Takdir belum berpihak padanya untuk menghadirkan seseorang yang benar - benar tepat untuknya.
Celina mendongak saat seseorang menyentuh bahunya. Keyla menghampirinya sembari menggandeng Leo.
"Dion memanggilmu,," Kata Keyla. Tatapan Keyla terlihat sendu, seakan iba dengan keadaan Celina yang menyedihkan. Sebagai wanita, Keyla tentu saja bisa memahami seperti apa perasaan Celina saat ini. Keyla yang sama sekali tidak punya niatan untuk hadir di tengah - tengah Celina dan Dion, merasa sangat bersalah saat ini.
"Terima kasih." Ucap Celina sebelum beranjak dan masuk menemui Dion.
Celina berjalan lambat menghampiri Dion. Dalam ruangan besar itu, hanya ada mereka berdua saat ini. Dion terus menatap Celina sejak pintu terbuka hingga Celina berhenti dihadapannya.
"Aku bisa jelaskan tentang Leo,," Dion terlihat cemas. Dia ingin membuat Celina agar tidak berfikir buruk tentangnya.
"Aku tidak tau jika Leo masih hidup, Keyla,,,
"Aku mengerti,," Celina memotong cepat. Dia berusaha tersenyum di tengah sesak yang dia rasakan.
"Sebaiknya kita batalkan saja pernikahan kita. Leo butuh Papanya,," Ucapan Celina membuat Dion terkejut. Dia langsung menggeleng cepat dan meraih tangan Celina.
"Aku tidak akan mengingkari janji yang sudah aku buat. Kita akan tetap menikah meskipun ada Leo. Kamu bisa menganggap Leo seperti anakmu sendiri, sama seperti aku yang akan menganggap anak kamu sebagai anakku." Dion menentang keras keinginan Celina yang memilih membatalkan pernikahannya.
Jika Dion punya niatan untuk membatalkan pernikahan, mungkin dia akan melakukannya saat Vano memohon padanya. Nyatanya Dion memilih untuk tetap mempertahankan Celina karna sudah terlanjur berjanji dan memiliki rasa pada Celina.
Dion juga tidak ingin melihat Celina menjalani kehamilannya seorang diri.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan Keyla.?"
Dalam keadaan seperti ini, Celina tetap memikirkan perasaan orang lain.
"Dia sendiri yang memilih pergi, urusan diantara kami sudah lama selsai kecuali sesuatu yang berkaitan dengan masa depan Leo nantinya."
Sahut Dion tegas. Dia menggenggam erat tangan Celina, menatapnya dengan perasaan yang bercampur aduk.
"Aku mencintaimu. Bukankah kamu juga mencintaiku.?" Ekspresi wajah Dion penuh harap.
Dia ingin mendengar kalau Celina juga memiliki perasaan yang sama padanya.
Celina menggeleng pelan, dia juga menarik tangannya dari genggaman Dion.
"Aku tidak mau egois, Leo butuh Mama dan Papanya. Dia pasti ingin kalian tinggal bersama."
"Sebaiknya memang pernikahan kita tidak perlu terjadi." Celina menahan tangis. Bagaimana dia bisa tegar saat memutuskan untuk membatalkan pernikahan, sedangkan dia menginginkan pernikahan itu terjadi.
"Terimakasih karna kak Dion sudah baik padaku selama ini,," Celina mengulas senyum yang dipaksakan. Ditengah hatinya yang hancur, dia harus terlihat baik - baik saja agar Dion tega untuk melepaskannya.
"Tidak Celina.! Bagaimana dengan kehamilanmu.? Apa yang akan mereka katakan padamu nanti,," Ujar Dion cemas.
"Sama seperti yang aku lakukan pada Leo, aku juga akan membiarkan anak ini hidup bersama dengan ayah kandungnya." Jawab Celina tegas. Dion langsung menggelengkan kepalanya, dia tau Celina hanya pura - pura akan kembali pada Vano. Dion tau betul bagaimana Celina membenci Vano karna kecewa dan sakit hati yang ditorehkan oleh laki - laki itu.
"Aku tau kamu tidak akan pernah melakukannya."
"Aku akan melakukannya karna tidak mau egois, Mama dan Papa bahkan sudah tau tentang kehamilanku."
"Sekali lagi, aku mau membatalkan pernikahan kita. Kak Dion tidak perlu mengkhawatirkanku, aku pasti baik - baik saja bersamanya."
"Sampai jumpa, semoga kak Dion cepat pulih."
Celina melambaikan tangan sambil berjalan mundur, dia tersenyum lebar pada Dion. Senyum ceria yang biasa mengembang dibibir Celina, namun kali ini dengan mata yang menahan tangis.
Begitu keluar, Celina langsung berjalan cepat meninggalkan tempat itu. Dia bahkan mengabaikan Keyla yang memanggilnya. Celina enggan memperlihatkan tangisnya didepan Dion ataupun Keyla.
Celina berhenti di koridor yang sepi. Di sana tangisnya pecah, tanpa suara namun dengan tubuh yang bergetar. Dia sudah mengambil keputusan yang baik untuk orang lain, tapi tidak untuk dirinya sendiri yang justru terluka.
Lagi - lagi cinta tidak berpihak padanya. Baru saja menemukan laki - laki yang tulus dan baik, tapi harus rela untuk melepaskannya.
Meski cintanya terhadap Dion belum sepenuhnya, namun rasa kagumnya terhadap Dion melebihi siapapun.
"Apa yang harus aku lakukan,," Gumam Celina ditengah isak tangisnya. Dia terus menatap perut dan memeganginya.
Entah bagaimana nasib dia dan anak yang ada dalam kandungannya jika kedua orang tuanya tau.
__ADS_1
Kedua orang tuanya pasti akan terpukul dan kecewa. Di tambah saat ini pernikahannya dengan Dion tidak akan pernah terjadi.
Orang tua mana yang tidak akan hancur melihat anaknya hamil diluar nikah dan batal menikah.
Tubuh Celina merosot. Dia duduk di lantai dengan memeluk kedua lututnya. Tangisnya semakin pecah dengan kepala yang tertunduk.
Seceria apapun seorang wanita, akan ada kalanya dia juga bisa merasa rapuh.
"Bangun,,"
Suara dan sentuhan di bahu membuat Celina mengangkat kepala. Dengan pandangan mata yang berkabut, Celina masih bisa melihat Vano yang saat ini sedang berjongkok di depannya.
"Jangan menangis seperti ini." Vano mengusap air mata Celina yang banjir di pipi. Celina belum memberikan ekspresi apapun, dia masih diam dengan maya yang terus mengeluarkan air mata.
Meski membenci Vano, tapi kehadiran membuat Celina merasa tidak sendiri disaat dunianya terasa hancur. Masa - masa terpuruk sepeti itu memang membutuhkan sandaran, tapi Celina merasa tidak ada yang bisa dia jadikan sebagai sandaran saat ini.
"Ayo bangun, aku antar kamu pulang,," Sekali lagi Vano mengajak Celina untuk beranjak.
Dia sudah mengetahui semua yang terjadi di antara Dion dan Celina, termasuk tentang batalnya pernikahan mereka.
Setelah mengetahui semua itu, Vano berniat mendatangi kedua orang tua Celina untuk melamar Celina secara baik - baik tanpa menunjukan bukti - bukti yang dia miliki tentang hubungannya dengan Celina dulu. Vano sadar semua bukti itu justru hanya akan memberatkannya, meski saat itu Vano yakin bisa membuat pernikahan Dion dan Celina batal.
"Tidak usah peduli padaku." Setelah cukup lama diam, kini Celina mau bicara. Dia menolak ajakan Vano dan menepis tangan Vano.
Apa yang sudah dilakukan Vano padanya masih begitu jelas di ingatan. Bagaimana kejamnya Vano melontarkan kata - kata pedas hingga menyuruhnya menandatangani surat perjanjian yang menyatakan jika anak itu bukan darah daging Vano, dan dilarang untuk meminta pertanggungjawaban.
Vano menarik nafas dalam. Dia tau akan sulit untuk mendekati Celina dan mendapatkan maaf darinya. Tapi hanya dengan cara seperti ini, dia bisa membuktikan pada Celina kalau apa yang dia lakukan benar - benar tulus dan ingin memperbaiki kesalahan yang sudah dia buat.
"Kamu boleh membenciku, tapi biarkan aku menebus kesalahanku padanya,," Ujar Vano memohon.
"Aku sudah menandatangani surat perjanjian itu, jadi kamu tidak perlu melakukan apapun untuk anakku." Celina berdiri. Dia menghapus sisa air matanya dan memilih untuk beranjak dari sana.
Meski dia bisa membiarkan Dion bersatu dengan anak kandungnya, tapi tidak mudah baginya untuk membiarkan anak yang ada didalam kandungannya bersatu dengan Vano. Terlalu dalam luka yang telah ditorehkan oleh Vano.
"Maaf kalau aku harus melakukan ini." Kata Vano sambil mengangkat tubuh Celina.
"Aaaarghhh.!! Lepas, turunkan aku.!" Pekik Celina. Dia terpaksa mengalungkan kedua tangannya di leher Vano agar tidak jatuh.
"Aku hanya ingin mengantarmu pulang, bukan menculikmu. Jadi diamlah, jangan membuat keributan di rumah sakit." Ujar Vano datar.
"Aku bisa pulang sendiri.! Cepat turunkan aku.!"
"Siapapun aku mohon tolong aku.!"'
Teriakan Celina mengundang perhatian beberapa orang dan perawat, mereka menatap Vano dengan tatapan mengintimidasi. Mendengar teriakan Celina, mereka berfikir bahwa Vano sedang melakukan kejahatan pada Celina.
__ADS_1
"Istriku sangat sensitif saat hamil, dia marah karna aku tidak mau menciumnya di depan umum." Jelas Vano pada semua orang.
Mata Celina langsung membulat sempurna, dia ingin protes tapi mulutnya langsung di bungkam oleh tangan Vano.