
Celina menatap Dion tak percaya. Bagaimana bisa Dion dan kedua orang tuanya menyembunyikan fakta itu selama 5 tahun ini. Meski Celina mengerti apa yang menjadi privasi Dion tidak seharusnya diketahui banyak orang, terlebih Celina sadar kalau dulu dia tidak berhak tau tentang masa lalu Dion. Karna sekalipun sejak dulu mereka memiliki keterkaitan, tapi hal itu hanya sebatas pekerja dan anak dari bosnya.
"Aku turut berduka cita untuk kepergian anak kak Dion,," Celina berucap sendu. Dia bisa merasakan bagaimana hancurnya perasaan Dion yang kehilangan anak, kemudian di gugat cerai oleh istrinya.
Dari cerita yang Celina dengar, dia baru menyadari kalau ada orang lain yang hidupnya jauh dari kata bahagia. Celina pikir, hanya hidupnya yang bahagia karna kurang perhatian dan kasih sayang dari orang orang tua. Tapi lihat bagaimana Dion kehilangan semua kebahagiaannya dalam waktu sekejap dan selama bertahun - tahun menanggung semua itu seorang diri. Mungkin hal itu menyebabkan Dion jadi kaku dan pendiam.
Akan sulit jika membayangkan berada di posisi Dion. Setelah Papanya terjerat kasus penipuan dan harus di tahan, bersamaan dengan itu dia kehilangan sang Mama yang meninggal mendadak.
1 bulan kemudian, dia harus menerima kenyataan bahwa istrinya mengalami keguguran saat kandungannya yang sudah menginjak bulan ke 3.
Dion mengalami cobaan bertubi - tubi, seakan ada seseorang yang terus menghantamnya berulang kali. Tak hanya sampai di situ, tanpa alasan yang jelas bahkan sebelumnya tidak ada masalah sedikitpun, tiba - tiba saja sang istri menggugat cerai dirinya.
Dion dalam keadaan hancur dan sehancur - hancurnya kala itu. Dia kehilangan semua yang berharga dalam hidupnya.
"Aku tidak bisa memberitahukannya lebih awal karna orang tua mu melarang."
"Mereka mengijinkanku bercerita, setelah kamu mau menerima perjodohan ini." Terang Dion. Dia mungkin merasa bersalah pada Celina karna baru mengatakan fakta mengejutkan itu. Jika kedua orang tua Celina tidak melarangnya, sudah dipastikan Dion akan bercerita lebih awal karna dia tidak mau ada hal yang ditutup - tutupi dari seseorang yang akan menjadi pendampingnya kelak. Sekalipun sampai detik ini Dion tidak pernah lagi mengetahui keberadaan mantan istrinya, tetap saja calon istrinya harus mengetahui tentang masa lalunya.
Celina terkekeh mendengar penuturan Dion.
"Nggak masalah kak, mungkin mereka pikir aku akan menolak kak Dion kalau tau kak Dion itu seorang duda." Ujarnya sambil menahan tawa.
"Tapi melihat fisik kak Dion, siapa yang akan mengira kalau kak Dion pernah menikah,," Celina terlihat sedang menggoda Dion hingga laki - laki itu mengulas senyum tipis, tapi sesaat kemudian senyumnya menghilang
"Kamu tidak mempermasalahkan hal itu.?" Tanya Dion dengan wajah serius. Dia terlihat khawatir kalau Celina lebih memilih untuk membatalkan pernikahan setelah tau seperti apa masa lalunya.
Celina menggeleng cepat.
"Seperti kak Dion yang nggak mempermasalahkan masa laluku, tentu saja aku juga nggak akan mempermasalahkannya." Celina menjawab tegas.
"Lagi pula disini aku yang merasa beruntung karna kak Dion mau menerima masa lalu dan keadaanku saat ini. Aku malah merasa nggak pantas bersanding dengan orang sebaik,,,
"Tidak ada orang buruk ataupun jahat, Celina." Potong Dion cepat.
__ADS_1
"Seperti apapun seseorang di masa lalu, mereka hanya sedang melalui proses perjalanan hidup."
"Kamu tetap berharga seperti apapun masa lalu mu, jadi berhenti merasa bahwa dirimu rendah."
Kata - kata yang keluar dari mulut Dion begitu menyentuh hati. Dion membuatnya merasa jauh lebih baik, tidak lagi membuat Celina merasa kalau dia wanita rendahan dan menjijikan seperti bagaimana dulu Vano memberikan tatapan itu padanya.
"Terimakasih,," Ucap Celina dengan air mata yang mengalir. Dia begitu tersentuh, sangat terharu dengan ketulusan hati Dion dalam menerimanya bahkan tidak memandangnya sebelah mata meski tau bagaimana perjalanan hidupnya.
Dion beranjak, kini berpindah duduk di samping Celina dan mengusap air matanya dengan penuh kelembutan.
"Katanya janin di dalam kandungan bisa merasakan apa yang sedang di rasakan oleh ibunya. Berhenti menangis agar tidak membuatnya sedih." Dion berbicara sambil mengulas senyum. Seketika kesedihan di wajah Celina berubah menjadi senyum bahagia. Kebahagiaan itu yang membuat Celina reflek menghambur dalam pelukan Dion. Dia mendekap erat tubuh laki - laki yang baru pertama kali dia peluk itu. Ada ketenangan yang dirasakan oleh Celina. Dia merasa aman dalam dekapan Dion.
...****...
Vano terlihat gusar. Semalam dia tidak bisa tidur setelah mendapat kabar bahwa Celina akan menikah 2 hari lagi. Selama ini Vano tidak lagi datang dihadapan Celina karna takut akan semakin kehilangan anak dan wanita yang dia cintai. Namun beberapa hari ini Vano selalu memantau Celina dari jauh, dia selalu memastikan jika Celina dan anaknya baik - baik saja. Meski Vano harus menelan pil pahit setiap kali melihat Celina dan Dion pergi bersama. Vano mungkin cemburu pada Dion yang bisa sedekat itu dengan Celina. Hatinya tentu saja tidak rela melihat hubungan mereka yang semakin dekat setiap hatinya.
Setelah memikirkan cara untuk mendapatkan apa yang seharusnya menjadi miliknya, Vano memutuskan untuk menghubungi Dion dan meminta Dion untuk bertemu.
Vano ingin meminta Celina secara baik - baik pada Dion. Jika tidak bisa menggunakan cara baik - baik, Vano sudah menyiapkan cara lain meski tau seperti apa resikonya.
Vano memiliki harapan besar pada Dion. Dia berharap Dion akan melepaskan Celina untuknya.
Vano datang lebih awal karna sudah tidak sabar untuk membicarakan hal itu dengan Dion.
Beberapa menit menunggu, pintu ruangan terbuka bersamaan dengan Dion yang melangkah masuk. Vano berdiri menyambut kedatangan Dion. Begitu Dion berhenti hadapannya, Vano segera mengulurkan tangan.
"Terimakasih mau menemuiku." Ucap Vano tulus. Dion hanya menatap datar sambil membalas jabatan tangan Vano.
"Apa yang ingin anda katakan." Tanya Dion datar.
"Silahkan duduk,," Vano mempersilahkan Dion untuk duduk. Dia menyusul setelah Dion duduk lebih dulu.
"Aku tau kamu sudah tau semuanya tentang aku dan Celina, jadi aku tidak akan menjelaskan dari awal."
__ADS_1
"Aku tidak tau kenapa kamu tetap melanjutkan hubungan dengan Celina padahal kamu tau dia sedang mengandung anakku." Vano berbicara dengan suara rendah dan tenang.
"Itu karna aku mencintainya." Dion menjawab tegas. Vano di buat bungkam dan memaku. Pengakuan Dion membuat hatinya tersayat. Dia tidak rela ada laki - laki lain yang mencintai Celina.
"Jika anda mengundangku hanya untuk merendahkan atau menjelekkan Celina, sebaiknya jangan pernah mengundangku lagi." Dion terlihat geram. Dia akan beranjak namun suara tegas Vano membuatnya mengurungkan niat.
"Aku ayah dari anak yang di kandung Celina, aku berhak untuk bersama mereka." Seru Vano.
"Berhak.? Atas dasar apa.? Kalian tidak memiliki ikatan sebelumnya."
"Lagipula kamu hanya akan membuat Celina terpuruk.!" Tegas Dion. Kali ini dia benar - benar beranjak dari duduknya.
"Aku bersedia datang karna ingin menegaskan, Celina dan anaknya akan menjadi milikku. Jadi berhenti untuk mengharapkannya."
"Sejauh ini Celina tidak butuh tanggung jawab, dia hanya butuh ketenangan dan kebahagiaan."
"Permisi.!" Dion pamit sopan. Tapi sebelum dia keluar dari ruangan, Vano mencegahnya dengan menghadang jalan dan langsung berlutut di hadapannya.
"Ini pertama kalinya dalam hidupku, aku berlutut pada laki - laki." Ujarnya tanpa kebohongan sedikitpun dimatanya. Ya, karna sampai detik ini memang hanya ada dua orang yang bisa membuat Vano berlutut. Setelah beberapa waktu lalu berlutut dihadapan Celina, kini dia berlutut dihadapan Dion.
"Aku mohon relakan Celina untukku,," Pinta Vano penuh harap.
"Aku mencintainya, sangat mencintainya. Berikan aku kesempatan untuk menebus kesalahanku padanya."
"Biarkan aku dan Celina hidup bersama untuk mengurus anak kami. Aku mohon,,,"
Mata Vano berkaca - kaca. Dia masih berusaha menahan tangis meski harga dirinya sudah hilang karna berlutut di depan Dion dan memohon padanya. Vano begitu menyedihkan. Seorang pemimpin besar seperti Vano kehilangan harga dirinya demi mendapatkan anak dan wanita yang dia cintai.
Vano tidak memikirkan lagi tentang jabatan kekayaan yang sudah pasti jauh di atas Dion. Dia merendah serendah - rendahnya demi mendapatkan apa yang seharusnya menjadi miliknya.
"Aku mohon batalkan pernikahan itu untukku,," Pinta Vano sekali lagi.
Vano mau membuang egonya, dan membiarkan harga dirinya terjun bebas untuk membujuk Dion agar Dion mau membatalkan pernikahannya dengan Celina.
__ADS_1
Meski pernikahan mereka akan dilangsungkan 2 hari lagi, tapi tidak ada kata terlambat bagi Vano sebelum Celina dan Dion benar - benar sah menjadi suami istri.