Pesona Sang Duda

Pesona Sang Duda
Bab 87


__ADS_3

Setelah kepergian Dion dan wanitanya, Vano juga mengajak Celina untuk segera pulang.


Kondisi kehamilan Celina yang sudah besar, membuat Vano khawatir jika harus membiarkan Celina terlalu lama di luar rumah. Apalagi berlama-lama di rumah sakit. Tempat yang tidak seharusnya di kunjungi ibu hamil jika tidak memiliki keperluan mendesak.


Selain itu, Naura juga terus merengek pada Ida. Meminta untuk menyusul Celina dan Vano.


Naura juga penasaran dengan keadaan Leo, karna Naura melihat langsung saat Leo tercebur di kolam renang dan tenggelam.


"Aku khawatir sama kak Keyla dan Leo." Tutur Celina.


Mobil yang dia tumpangi bersama suaminya baru saja keluar dari area rumah sakit, namun sudah mengungkapkan kekhawatirannya karna membiarkan Keyla dan Leo berada di rumah sakit hanya di temani oleh Arkan.


Laki - laki yang belum di kenal oleh Keyla secara langsung.


"Aku akan pastikan Arkan bisa menjaga mereka dengan baik."


"Jadi tidak ada yang perlu kamu khawatirkan." Ujar Vano sembari melirik sekilas.


Meski sejak awal sudah mengatakan hal itu saat akan meninggalkan rumah sakit, tapi tetap saja masih butuh usaha untuk membuat Celina berhenti mengkhawatirkan Keyla dan Leo yang hanya di dampingi Arkan.


Celina mengubah posisi duduknya. Badannya sedikit condong ke kanan agar leluasa menatap Vano lebih dekat.


"Benarkah.?" Celina mengajukan pertanyaan dengan nada bicara yang terdengar sangat penasaran.


Dahi Vano mengkerut, dia lantas kembali, melirik Celina yang saat ini menatapnya serius.


"Tentu saja. Dia tidak akan berani membantah perintahku."


Mendengar jawaban Vano, raut wajah Celina yang tadinya serius, perlahan mulai mengukir senyum tipis.


Senyum dan sorot mata Celina yang penuh arti, membuat Vano menatap curiga.


Vano yakin kalau saat ini ada ide baru yang muncul di kepala istrinya itu.


"Apa kak Arkan orang baik.?"


"Dia belum menikah kan.?"


Dua pertanyaan yang keluar dari mulut Celina, menjawab kecurigaan Vano. Bahkan feelingnya sangat tepat, kalau Celina punya niatan untuk menyatukan Keyla dengan Arkan.


"Dia Casanova, sudah 3 kali menikah dan statusnya duda.!" Sahut Vano dengan tatapan malas.


Dia kembali fokus pada jalanan. Enggan membahas urusan pribadi orang lain yang hanya menyita kebersamaannya dengan Celina.


Celina mencebik kesal. Dia tau kalau Vano sengaja memberikan informasi palsu karna malas membahas masalah ini.


"Menyebalkan sekali. Kenapa hidupku dikelilingi oleh para duda.!"


Celina melengos, kembali mengubah posisi ke sisi jendela dan membuang pandangan keluar.


"Karna pesona duda lebih menggoda."


Balas Vano dengan candaan.


Niat hati ingin mencairkan suasana agar kemarahan Celina tidak berlanjut, Vano justru mendapat tatapan tajam dari Celina.


"Tuan El Vano.! Kamu tidak berniat untuk menduda 2 kali bukan.?" Tanya Celina. Bibirnya tersenyum namun terlihat mengancam.


Vano tersenyum kikuk, dia menyentuh lembut pipi Celina.


"Kenapa harus menduda kalau punya istri secantik ini dan jago membuat ranjang bergoyang."


Vano mengedipkan sebelah matanya.

__ADS_1


Alih - alih melunak, Celina malah menepis tangan Vano dari pipinya.


"Tidak ada jatah 2 minggu kedapan.!" Serunya tegas.


Vano langsung melongo. Raut wajahnya langsung berubah frustasi.


Vano terus membujuk Celina agar mencabut ucapannya, namun usahanya untuk membujuk Celina hanya sia - sia.


Bahkan sejak di perjalanan hingga sampai di rumah, Vano belum bisa membujuk Celina.


"Ayolah sayang,, jangan bercanda." Ucap Vano memelas. Dia membuntuti Celina sampai ke dalam kamar.


"2 minggu terlalu lama. Kepalaku bisa pecah nanti, apa lagi kepala bawah." Tuturnya memohon.


Celina hanya melirik datar. Masih terlihat malas untuk menanggapi rengekan Vano.


"Sayang,,," Seru Vano lagi.


Kali ini dia memeluk Celina dari belakang, tidak peduli meski Celina berusaha memberontak.


"Aku minta maaf, aku janji tidak akan melarang mu untuk mendekatkan Arkan dengan Keyla. Tapi jangan menghukumku selama itu."


"Bagaimana kalau 4 hari.?" Tawarnya memohon.


"Tidak ada tawar menawar.!"


Jawab Celina tegas.


Vano langsung lesu mendengarnya.


...****...


"Makan dulu, ini untuk kamu dan Leo." Arkan memberikan paper bag berisi makanan yang baru saja dia beli di restoran.


Meletakkan paper bag itu di samping Leo yang sedang tertidur.


Keyla masih menggenggam erat tangan Leo. Seolah enggan untuk melepaskannya.


"Kamu harus makan tepat waktu, jangan sampai sakit dalam kondisi seperti ini."


"Siapa lagi yang akan menemani Leo kalau bukan kamu."


Keyla hanya diam saja mendengarkan ucapan Arkan.


Dalam kondisi seperti ini, dia merasa bersyukur di kelilingi orang yang masih peduli padanya.


Kalau bukan Vano dan Celina, mungkin saat ini hanya dia seorang diri yang menemani Leo di rumah sakit.


"Kamu dulu yang makan, setelah itu baru bangunkan Leo untuk makan."


Ujar Arkan sekali lagi.


Keyla tidak menjawab, dia hanya memberikan anggukan kecil lalu beranjak dari duduknya untuk pindak ke sofa.


Keyla berbalik badan, dia menatap Arkan dengan ekspresi yang terlihat ragu.


"Kamu sudah makan.?" Tanya Keyla lirih.


Arkan mengangguk.


"Maaf jadi merepotkanmu."


"Kalau sibuk, tidak usah menginap. Aku masih berani berdua disini dengan Leo."

__ADS_1


Keyla tidak enak hati pada pada Arkan. Laki - laki yang baru dia lihat tadi sore, justru menjadi orang yang siaga di sampingnya saat Leo dan dia dalam kesulitan.


Arkan yang sudah mengantarnya ke rumah sakit, dan sekarang diperintah oleh Vano untuk menemani dia dan Leo di rumah sakit.


"Lebih baik aku tetap disini daripada mempertaruhkan pekerjaanku." Balas Arkan datar.


Dia kemudian duduk di kursi yang tadi di tempati oleh Keyla. Duduk disisi ranjang menghadap Leo.


Setelah itu merogoh ponsel dari saku kemejanya dan langsung sibuk dengan ponsel.


Keyla tidak memberikan respon. Dia paham dengan ucapan Arkan. Laki - laki itu tidak punya pilihan lain karna di ancam oleh Vano. Itu sebabnya lebih milih menginap untuk menemani dia dan Leo di rumah sakit.


Meski di paksa oleh Vano, namun Keyla bisa melihat dan merasakan semua yang dilakukan oleh Arkan benar - benar tulus.


...****...


"Bangun,,"


Keyla membuka mata perlahan. Sebenernya sudah sejak tadi mendengar suara lirih itu berulang kali, namun rasa kantuknya tidak bisa dilawan hingga sulit untuk membuka mata.


Dia baru membuka mata ketika suara itu terdengar untuk kesekian kalinya dengan goyangan pelan di bahunya.


"Ya ampun,," Keyla terkesiap.


Dia langsung bangun dari sofa panjang. Duduk tegap sembari membenarkan rambutnya yang sedikit berantakan.


Dia sangat malu pada Arkan yang sampai harus membangunkannya.


"Sudah pagi ya.? Jam berapa ini.?"


Keyla mengedarkan pandangan, mencari letak jam dinding.


"Baru setengah 6." Gumamnya lirih.


"Aku harus pulang." Ucapan Arkan membuat perhatian Keyla langsung tertuju padanya.


"Itu nomor ponselku." Arkan melirik kertas putih di atas meja. Kertas yang sudah dia tulis nomor ponsel di sana.


Keyla mengikuti arah tatapan Arkan. Setelah itu kembali menatap laki - laki yang tengah berdiri di depannya.


"Telfon saja kalau butuh sesuatu."


Meski mengatakannya dengan ekspresi datar, Keyla bisa merasakan kepedulian Arkan yang begitu besar padanya dan Leo.


Sekalipun itu bentuk tanggung jawab atas perintah Vano, Keyla tetap bersyukur dan berterima kasih atas kebaikan mereka.


"Baiklah." Keyla mengangguk.


"Terima kasih sudah menemani kami. Sekali lagi aku minta maaf karna merepotkan mu."


"Hemm,,," Arkan hanya memberikan deheman datar. Dia lantas pergi dari hadapan Keyla setelah menyambar jas yang terjatuh di lantai.


Keyla tertegun, matanya membulat sempurna sejak Arkan membungkuk untuk mengambil jas yang berada di bawah sofa.


Jas yang kemungkinan jatuh saat dia terbangun tadi karna kaget.


Keyla reflek menyilangkan tangan di depan dada. Dia langsung berfikir kalau jas itu sempat membalut tubuhnya selama dia tertidur.


Tapi sejak kapan Arkan menutupi tubuhnya dengan jas itu.? Sedangkan tadi malam Arkan tidur lebih awal dan terlihat kelelahan.


Keyla menarik nafas dalam. Sikap dan perhatian Arkan menginginkannya pada Dion.


Dulu saat menjadi karyawan Dion, dia juga pernah dibalut jas milik Dion karna tidak sengaja tertidur di ruangan Dion ketika sedang lembur.

__ADS_1


"Aku yang telah merubah air menjadi api."


Pandangan mata Keyla menerawang jauh. Penyesalan itu selalu muncul dam sulit untuk di hilangkan.


__ADS_2