
Celina menatap lekat wajah anak laki - laki itu yang tengah tertidur lelap di ruang tunggu. Dia baru menyadari jika wajah anak itu sangat mirip dengan Dion. Kalau memang Dion memiliki anak, kenapa harus bilang jika anak itu keguguran.?
Celina membuang pandangan saat tatapan matanya beradu dengan wanita dewasa itu. Hatinya begitu teriris melihat mereka.
Jika benar wanita dan anak itu adalah bagian dari hidup Dion, hal ini akan menambah deretan bagaimana cinta tidak pernah berpihak padanya.
Entah harus berapa kali Celina anak berakhir dengan sakit hati.
Celina menatap wanita itu yang sedang berjalan menghampirinya. Dia mengulas senyum pada Celina, kemudian ikut duduk di sebelah Celina.
Wanita itu membiarkan anaknya tidur di sofa.
"Aku Keyla,," Wanita itu mengulurkan tangan pada Celina. Sudut bibirnya terangkat, mengulas senyum ramah.
Tak mau menolak baik seseorang yang mengajaknya berkenalan, Celina langsung menjabat tangannya.
"Celina." Jawabnya datar. Celina belum mampu tersenyum di tengah situasi yang membingungkan ini. Di sisi lain, dia juga mencemaskan kondisi Dion yang tak kunjung sadarkan diri dan sudah dipindahkan ke ruang ICU sejak 1 jam yang lalu.
Celina kini bertanya - tanya, bagaimana wanita dan anak itu bisa berada di rumah sakit ini. Bahkan mereka sudah ada lebih dulu sebelum dia datang.
"Aku tidak tau apa hubungan kamu dan Dion, tapi melihat kamu yang begitu sedih, sepertinya ada hubungan spesial diantara kalian." keyla masih bisa mengulas senyum. Dia juga memberikan tatapan teduh pada Celina. Melihat sikap dan sorot mata Keyla, Celina bisa menilai kalau wanita itu sama baik dan tulusnya seperti Dion.
"Seharusnya kami akan menikah 2 hari lagi." Tutur Celina tegas.
"Aku sudah tau masa lalu kak Dion. Dia kehilangan anak yang masih berada di kandungan dan di ceraikan oleh istrinya. Apa itu kamu.?" Celina menatap lekat wajah Keyla. Anggukan Keyla menjawabnya rasa penasaran Celina tentang sosok wanita yang sejak tadi juga menangis sepertinya.
"Lalu siapa anak itu.? kenapa memanggil Papa.?" Tanya Celina penuh selidik. Dia melirik sekilas pada anak laki - laki yang berusia sekitar 4 tahun itu. Kemudian kembali menatap Keyla untuk mendengarkan jawabannya.
Keyla tersenyum sendu. Senyum yang terlihat menyimpan banyak luka di dalamnya.
"Aku membohonginya,," Katanya dengan mata yang berkaca - kaca.
Celina mengukir senyum kecut. Dia sudah bisa memahami dan menyimpulkan apa yang terjadi dulu, meski Keyla hanya menjawab singkat.
Dalam kondisi Dion yang sedang terpuruk, kemungkinan Keyla berpura - pura kehilangan janinnya, setelah itu menggugat cerai Dion yang saat itu tidak lagi memiliki apapun. Tapi ada yang belum Celina ketahui, entah alasan apa yang membuat Keyla memilih jalan seperti itu.
"Ada hal yang tidak bisa aku jelaskan padamu tentang itu. Karna sampai saat ini, Dion juga tidak tau alasanku meninggalkannya."
"Kamu tidak usah khawatir, aku pastikan pernikahan kalian akan tetap berjalan. Dion tidak mungkin kembali padaku karna dia sudah membenciku." Keyla tersenyum. Senyum yang terlihat tegar meski Celina tau itu hanya pura - pura.
__ADS_1
"Tapi ada anak kalian, tidak menutup kemungkinan kak Dion akan kembali." Sahut Celina sinis.
Perasaannya sudah tidak menentu. Dia memikirkan apa yang akan terjadi nanti setelah Dion sadar. Entah Dion akan memutuskan hubungannya dan kembali pada anak dan mantan istrinya, atau sebaliknya.
Meski punya sedikit harapan, tapi Celina lebih yakin kalau Dion akan memilih anak kandungnya sendiri dari pada memilih anak orang lain.
"Maaf, mungkin tidak seharusnya kami kembali diwaktu yang tidak tepat. Aku pikir Dion sudah memiliki kehidupan baru sejak lama, tidak menyangkan kalau dia belum menikah lagi sampai saat ini."
"Tapi aku tidak memiliki maksud apapun, aku hanya ingin menebus kesalahanku dengan mempertemukan mereka. Bagaimanapun, mereka memiliki ikatan darah. Memisahkan mereka hanya membuat hidupku tidak tenang selama bertahun - tahun." Tutur Keyla sendu. Dia menatap anaknya dari kejauhan, lalu meneteskan air mata.
Celina terdiam, dia merasa ucapan Keyla juga pantas di lontarkan untuknya jika nanti dia berbuat hal yang sama pada Vano.
"Justru kalian datang di saat yang tepat karna kak Dion belum memiliki keluarga baru." Celina berbicara datar. Meski ada perasaan sakit dalam hatinya karna membayangkan Dion akan kembali pada keluarganya, tapi Celina mencoba untuk berfikir positif.
Setidaknya jika nanti Dion ingin kembali pada mereka, Celina tidak akan terlalu merasakan sakit karna di tinggalkan.
"Sayang, ayo makan siang dulu,," Mama dan Papa Adiguna menghampiri Celina setelah mereka mengurus administrasi.
Celina beranjak, dia menghampiri kedua orang tuanya tanpa menengok sedikitpun pada Keyla. Ada kecewa yang dia rasakan setelah mengetahui sisi lain dari masa lalu Dion yang bahkan belum diketahui sendiri oleh Dion.
"Ayo makan bersama.?" Ajak Mama pada Keyla.
"Terima kasih Bu, nanti saja setelah Leo bangun." Tolak Keyla sopan. Dia berdiri dan kembali menghampiri Leo yang masih terlelap.
Sementara itu, Celina sudah lebih dulu meninggalkan ruang tunggu. Dia melangkah pelan, terlihat lesu dan tidak memiliki semangat.
"Kami tidak tau akan seperti ini,," Tiba - tiba Mama merangkul Celina.
"Kalau Mama tau Dion memiliki anak dari mantan istrinya, Mama tidak akan menjodohkan kalian."
Celina melempar senyum yang dipaksakan.
"Ini bukan salah Mama atau Papa. Jangan khawatir, aku akan baik - baik saja."
"Aku akan membatalkan pernikahan, anak itu butuh kak Dion." Ujar Celina lirih.
Kedua orang tua Celina terlihat menarik nafas dalam. Sebagai orang tua, mereka tentu saja tidak tega melihat putrinya terluka.
Pada akhirnya, keduanya sama - sama dirundung penyesalan karna terlalu memaksakan kehendak. Kalau saja tidak menjodohkan Celina dan Dion, mungkin Celina tidak akan terluka seperti saat ini.
__ADS_1
...*****...
"Maaf, Tuan Adiguna sedang ada urusan diluar dan tidak bisa dihubungi."
Penjelasan resepsionis itu membuat Vano menghela nafas berat. Tanpa bicara apapun, dia bergegas meninggalkan kantor itu.
Rencana untuk mengatakan langsung kepada orang tua Celina terpaksa harus di tunda karna Tuan Adiguna tidak berada di kantor.
Vano masuk kedalam mobilnya, menutup pintu dengan kasar karna tidak berhasil menemui orang tua Celina.
Vano membuka amplop coklat yang sejak tadi dia bawa. Dia mengeluarkan bukti - bukti yang baru saja dia dapatkan dari orang suruhannya.
Bukti tentang kehamilan Celina dan usia kehamilannya. Beserta bukti tentang hubungan dia dan Celina yang berlangsung selama 2 minggu namun sangat intim hingga membuat Celina hamil.
Vano bahkan memberikan bukti penyerahan apartemen sebagai bayaran untuk Celina waktu itu.
Vano sadar dengan semua bukti itu, dia akan dibenci oleh orang tua Celina karna telah menjadikan Celina sebagai penghangat ranjangnya dengan membeli Celina menggunakan apartemen.
Tapi hanya itu satu - satunya cara agar pernikahan Celina dan Dion dibatalkan.
Vano enggan kehilangan anak dan wanita yang dia cintai. Dia tidak bisa tidur dengan tenang karna terus memikirkan keduanya.
Vano melajukan mobilnya menuju apartemen Celina. Tidak peduli meski Celina akan mengancamnya lagi, dia tidak mau terlihat semakin menjijikan karna tidak memiliki usaha untuk mendapatkan maaf dari Celina.
Berkali - kali menekan bel, pintu apartemen Celina tak kunjung dibuka.
Vano mencoba menghubungi Celina, tapi tidak bisa terhubung karna Celina kembali memblokir nomor ponselnya.
Hampir 1 jam Vano diri di depan apartemen Celina. Berharap Celina akan membukakan pintu atau datang dari arah lain.
Panggilan dari kantor memaksa Vano harus kembali ke perusahaannya. Dia meninggalkan apartemen Celina dengan langkah gontai.
Dia tidak punya banyak waktu untuk membatalkan pernikahan Celina.
Melihat reaksi Dion saat meninggalkan restoran, rasanya tidak mungkin jika Dion memilih untuk membatalkan pernikahan itu.
Vano terus merenungi kesalahannya selama ini. Dia bisa mengerti kenapa Celina begitu membencinya. Perlakuannya pada Celina memang terlampau kejam dan menyakitkan. Selalu melontarkan kata - kata hinaan tanpa menggunakan perasaan. Tanpa mau mengerti bagaimana perasaan Celina saat menerima hinaan itu.
...****...
__ADS_1
...Double up biar dapet vote๐....
Muga aja besok ada ide buat bikin bab selanjutnya.๐