
Siang ini, Mama Alisha sengaja mengumpulkan semua anggota keluarga.
Semalam, Celina dan dirinya berhasil membujuk Papa Adiguna untuk menjalankan operasi terakhir.
Operasi yang di sebut - sebut memiliki kegagalan lebih dari 90 persen, namun tak menutup kemungkinan bisa membuat Papa Adiguna sembuh dari sakitnya meski hanya beberapa persen saja.
Semua orang sudah berkumpul di ruang keluarga.
Celina, Vano, Dion dan Keyla, serta Mama Alisha dan Papa Adiguna.
Sedangkan Naura dan Leo tengah bermain di halaman belakang bersama pengasuh mereka agar tidak mengganggu pembicaraan penting itu.
"Sesuai keinginan Celina dan Mama kalian, Papa bersedia untuk melakukan operasi di luar negeri."
Ucap Papa Adiguna dengan tenang dan penuh kewibawaan.
Papa Adiguna benar - benar seorang pemimpin dan kepala keluarga yang bijaksana. Beliau menganggap semua orang yang ada di sana sebagai anaknya tanpa memandang jika 3 diantaranya bukan darah dagingnya.
Semua orang dibuat lega dengan keputusan yang telah di ambil Papa Adiguna.
Mereka memiliki harapan yang tinggi akan kesembuhan orang tua mereka.
Meski ada kekhawatiran di hati semua orang, namun mereka yakin operasi itu akan berjalan lancar dan berhasil.
Mereka yakin kalau Papa Adiguna bisa sembuh dari sakitnya dan hidup lebih lama.
"Kami senang mendengar keputusan Papa, semoga ini yang terbaik dan operasinya berjalan lancar."
Ucap Vano tulus.
Meski dulu Papa Adiguna pernah menghajarnya habis - habisan, tapi Vano begitu menghormati dan mengagumi sosok Papa mertuanya yang bisa menjadi pemimpin perusahaan dan kepala keluarga dengan baik.
"Jadi kapan Papa akan berangkat keluar negeri.?"
Dion bertanya dengan serius. Agaknya dia siap untuk mengurus semua keperluan Papa Adiguna selama berada di luar negeri.
Melihat kondisi Celina yang sedang hamil besar, Dion tidak mungkin mengandalkan Vano untuk mengurus operasi Papa mertuanya.
Dan tidak mungkin jika harus membiarkan Mama Alisha mengurus semua itu sendirian.
"Lusa,," Jawab Papa cepat.
"Papa sudah menghubungi pihak rumah sakit."
"Aku akan ikut menemani Papa,," Seru Celina.
Di saat sang Papa sedang berjuang untuk melawan sakitnya, tentu saja sebagai seorang anak, Celina ingin berada di sampingnya untuk memberikan semangat.
"Tidak sayang, kamu disini saja." Mama Alisha menolak keras permintaan putrinya.
"Perut kamu sudah besar, Mama tidak mau kamu kelelahan dan berakibat pada kehamilan kamu."
"Kamu bisa datang sebelum Papa di operasi nanti."
"Tidak usah khawatir, Mama akan selalu menemani Papa mu."
Ucap Mama dengan senyum tipis.
Celina terlihat keberatan karna tidak diperbolehkan untuk menemani Papa Adiguna selama di luar negeri.
"Tapi Mah,,"
Perkataan Celina langsung di potong oleh Vano sembari menggenggam tangannya dan memberikan tatapan memohon.
__ADS_1
"Dengarkan perkataan Mama, aku juga tidak setuju kalau kamu ikut menerima Papa sejak keberangkatan."
"Aku akan mengantarmu kalau Papa akan di operasi."
"Kesehatan dan keselamatan anak kita juga harus dipikirkan."
Vano menasihati Celina dengan suara lirih dan lembut.
Ucapannya bahkan tidak di dengar jelas oleh semua orang yang ada si ruang keluarga itu.
Namun, mereka bisa melihat perhatian dan cinta yang besar dalam diri Vano untuk Celina dari caranya berbicara dan menatap Celina.
"Baiklah, aku akan disini."
Akhirnya Celina memilih untuk menuruti perintah Mama Alisha dan Vano.
"Tapi aku akan datang sebelum Papa di operasi dan tidak akan pulang sebelum kondisi Papa baik - baik saja." Ujar Celina memberikan syarat.
"Boleh, asal harus di pastikan kalau kondisi cucu Papa baik - baik saja untuk melakukan perjalanan jauh."
Ucapan Papa Adiguna membuat Celina tersenyum senang dan langsung mengangguk cepat.
Obrolan itu kembali berlanjut. Dion menawarkan diri untuk menemani Papa Adiguna selama berada di sana, namun Papa Adiguna menolak halus niat baik Dion karna alasan perusahaan yang saat ini di pegang oleh Dion.
Jika Dion ikut bersamanya, makan kondisi perusahaan bisa saja mengalami masalah karna tidak ada yang memimpin dalam waktu lama.
Sedangkan Vano tidak mungkin meng-handle perusahaannya dan perusahaan Papa Adiguna sekaligus.
Terlebih, Vano juga harus fokus memberikan perhatian dan waktu luang pada Celina yang tengah hamil besar.
Papa Adiguna memutuskan untuk pergi berdua dengan sang istri dan mengajak beberapa pekerja yang ada dirumahnya untuk ikut bersama mereka.
"Papa dengar Keyla mengajukan lamar pekerjaan di perusahaan." Ucapan Papa Adiguna langsung membuat Dion menatap serius dengan raut wajah yang terlihat kaget.
"Apa sudah di terima.?" Tanyanya pada Keyla.
"Sudah Pah," Jawabnya lirih.
"Tapi 1 minggu lagi baru bisa bekerja karna menggantikan posisi karyawan yang akan resign." Jelasnya.
Papa Adiguna tampak mengangguk pelan.
"Semoga kamu betah bekerja di sana, dan bisa memberikan kemajuan untuk perusahaan dengan keahlian yang kamu miliki."
Ucapnya penuh harap.
Papa Adiguna sudah mendengar semua cerita tentang Keyla dari Celina.
Celina juga yang meminta ijin padanya untuk mempekerjakan Keyla sebagai sekretaris Dion tanpa sepengetahuan Dion sendiri.
Vano yang sudah mengurus semuanya, dia yang memasukkan Keyla ke perusahaan Papa Adiguna, serta menyuruh sekretaris Dion untuk berhenti dari pekerjaannya. Namun karyawan itu langsung di tampung ke perusahaan Vano.
Selama membahas tentang pekerjaan yang akan di jalankan oleh Keyla, Dion hanya diam saja tanpa memberikan komentar ataupun bertanya.
Hingga pembicaraan selesai dan semua orang memilih untuk pergi dari ruang keluarga, menyisakan Dion dan Keyla yang masih berada di sana.
"Aku akan mengajak Leo pulang,," Ujar Keyla sembari beranjak dari duduknya.
"Siapa yang akan menjaga Leo kalau kamu bekerja.!" Suara teguran Dion menghentikan langkah Keyla.
"Kamu sudah mengambil keputusan sepihak, bahkan tanpa meminta ijin padaku."
Terdengar nada kekesalan dari setiap ucapan yang dilontarkan oleh Dion.
__ADS_1
"Apa uang yang aku berikan padamu masih kurang.?" Tanyanya sinis.
Keyla yang awalnya masih bisa tenang dan menerima dengan baik setiap kata yang keluar dari mulut Dion, seketika langsung merasakan sakit mendengar ucapan Dion yang begitu menusuk.
Keyla berbalik badan, dia kembali duduk namun tepat di seberang Dion.
Keduanya saling menatap dengan perasaan yang berbeda.
"Maaf karna tidak meminta ijin padamu lebih dulu."
"Awalnya aku ingin meminta ijin, tapi aku pikir sangat lucu meminta ijin untuk bekerja pada orang lain."
"Maksudku, kita hanya orang lain diluar urusan yang berhubungan dengan Leo."
Keyla memberikan alasan dengan tenang dan lembut.
Dia sudah bisa menebak hal ini akan terjadi karna Dion tidak mengetahui jika dirinya akan bekerja.
Keyla tidak bermaksud untuk mengambil keputusan sepihak, dia merasa malu setelah memikirkan hal itu setiap malam.
Sampai akhirnya memutuskan untuk tidak meminta ijin pada Dion.
"Tapi apa yang kamu lakukan ada hubungannya dengan Leo."
"Kamu akan meninggalkan Leo hanya dengan seorang pengasuh di apartemen.? Apa kamu bisa menjamin keselamatan Leo di tangan orang lain.?"
Dion mencecar pertanyaan dengan suara yang semakin meninggi.
"Di,,," Tegur Keyla pelan.
"Aku tidak mau hidup dengan mengandalkan uang dari kamu."
"Aku bukan tanggung jawab mu. Uang yang kamu berikan hanya akan aku gunakan untuk keperluan Leo."
"Apalagi jika suatu saat kamu menikah, istrimu akan salah paham kalau kamu membiayai hidupku."
"Aku mohon biarkan aku bekerja. Aku tidak akan lepas dari tanggung jawab sebagai seorang ibu."
"Tentang Leo, kamu tidak perlu khawatir. Aku dan Leo akan tinggal di rumah ini untuk sementara waktu."
Keyla sudah bersikap baik dengan bicara hati - hati agar tidak menyinggung perasaan Dion. Tapi tetap saja laki - laki tampan itu terlihat kesal.
"Apa lagi ini.?" Dion tersenyum kecut.
Perasaannya terhadap Keyla berubah sejak mengetahui alasan Keyla meninggalkannya selama ini dan hidup bertahun-tahun di luar negeri bersama suami barunya.
"Setelah diam - diam mencari pekerjaan, kamu juga mencari tempat penampungan baru.?" Tanyanya sinis.
"Cerita apa yang sudah kamu jual pada keluarga ini sampai mereka mengijinkanmu untuk tinggal disini.?"
Dion menatap tajam.
Tatap penuh kebencian pada wanita yang dia anggap pandai memanfaatkannya situasi.
"Menjual cerita.?" Tanya Keyla dengan rasa sesak yang mulai memenuhi dada.
"Kamu tidak ingin bilang kalau aku menjual tubuh lagi.?" Keyla tersenyum getir.
"Aku harus menemui Leo." Keyla beranjak dari duduknya dan berjalan cepat meninggalkan Dion.
Dia tidak mau menangis di depan Dion karna takut di anggap sandiwara.
...****...
__ADS_1
...Kok belum pada vote.?...
...Pada kemana nih yang biasa vote 🧐...