
Dion buru - buru meninggalkan kantor setelah mendapat telfon dari Keyla kalau Leo sudah diperbolehkan pulang.
Sampainya di rumah sakit, anak dan mantan istrinya itu terlihat sudah siap meninggalkan kamar rawat inap yang seharian penuh mereka tempati.
Barang dan baju - baju sudah di kemas rapi dalam tas, Leo dan Keyla tengah menunggu kedatangan Dion dengan duduk sofa.
Begitu Dion masuk, Leo langsung tersenyum bahagia.
"Papa,,," Serunya sembari berdiri dan hendak menghampiri Dion. Namun Dion memberikan isyarat pada Leo untuk tidak berjalan ke arahnya.
Dion mengkhawatirkan kondisi Leo, takut putranya masih belum stabil untuk berjalan meskipun Leo sudah terlihat baik - baik saja.
Setelah menghampiri Leo, Dion langsung menggendongnya.
"Anak Papa sudah sehat." Seru Dion sembari mengacak pelan rambut Leo. Mereka saling pandang dan melempar senyum bahagia.
Senyum di wajah kedua laki-laki itu membuat Keyla ikut mengukir senyum tipis.
Keyla sempat menyesal telah muncul kembali kehadapan Dion setelah bertahun-tahun meninggalkannya.
Menyesal karna kemunculannya membuat Dion kembali terluka dan membuka luka lama. Luka yang mungkin berhasil disembuhkan dengan penuh pengorbanan dan dalam waktu yang cukup lama.
Tapi di balik penyesalan yang dirasakan oleh Keyla, ada segelintir kebahagiaan yang dia rasakan.
Bahagia karna bisa mempertemukan Leo dengan ayah kandungnya. Bisa membuat Leo merasakan kasih sayang dan cinta yang tulus dari seorang ayah. Hal yang belum pernah di rasakan oleh Leo sebelumnya.
Sejak lahir ke dunia, Leo memang tidak pernah di akui keberadaannya oleh ayah sambungnya.
Sebagai seorang ibu, Keyla sudah pasti terluka dengan sikap sang suami pada putranya.
Sampai akhirnya Keyla hanya mengenalkan Dion pada Leo. Selalu menunjukkan foto Dion pada balita yang saat itu baru mulai bicara.
Mengenalkan Dion sebagai Papa kandungnya.
Selalu memberikan janji bahwa suatu saat akan mempertemukan Leo dengan Papanya.
"Mama,,, Ayo pulang,," Teriakan Leo membuyarkan lamunan Keyla.
Keyla mengedipkan matanya yang sudah berair, kemudian menghapus air mata di pipinya.
Entah sejak kapan buliran bening itu keluar dari pelupuk matanya.
Hatinya terlalu sakit mengingat masa - masa tersulitnya sejak melarikan Leo.
"Ii,,,iiya sebentar,," Keyla menyambar tas di atas sofa, lalu segera menyusul Dion dan Leo yang sudah berdiri di ambang pintu.
Langkah Keyla seolah sedang di awasi oleh Dion. Laki-laki itu masih diam di tempat sembari menatap Keyla tanpa kedip.
Menatap dengan sorot mata tajam dan sulit untuk diartikan.
Keyla memilih menundukkan pandangan karna tatapan Dion membuatnya malu dan merasa terintimidasi.
Keyla membuntuti Dion tanpa bicara apapun.
Terus berjalan mengekori Dion yang sedang menggendong Leo sembari mengajak Leo bercanda.
Keyla sempat ingin pulang ke rumah Celina. Engga datang ke apartemen Dion lantaran merasa risih dan tidak enak pada Dion jika harus ikut ke apartemennya.
Namun Leo terus memaksanya untuk ikut pergi bersama.
Begitu sampai di mobil Dion, Keyla langsung membuka pintu belakang.
__ADS_1
Dia terlihat tenang saja saat Dion membuka pintu depan sembari menatap kearahnya.
"Duduk di dapan.!" Ucap Dion datar.
Dia menegur sekaligus meminta Keyla untuk duduk di samping kemudi.
Tanpa penolakan, Keyla bergegas pindah ke depan. Setelah itu, Dion memberikan Leo pada Keyla dengan mendudukkan Leo di pangkuan Keyla.
Sepanjang perjalanan menuju apartemen, hanya ada keheningan yang terjadi.
Sesekali keheningan itu di pecah oleh suara Leo.
Meski tidak secerewet anak perempuan, tapi setidaknya kehadiran Leo bisa mencairkan suasana canggung dan hening di dalam mobil yang mereka tumpangi.
Begitu sampai, Dion langsung menggendong Leo. Sementara itu, Keyla membawa baju - baju milik Leo dan berjalan di belakang Dion.
Keyla terlihat ragu mengikuti Dion. Menatap punggung laki-laki itu dengan pikiran yang berkecambuk.
Meski sudah bertekad untuk melupakan Dion dan tidak mengharapkannya lagi, nyatanya kebaikan sikap Dion terkadang menggoyahkan tekadnya.
Membuat hati dan logika jadi tidak sejalan.
"Di,,,,"
Suara manja seorang wanita terdengar jelas di telinga Keyla.
Dia langsung melirik wanita itu dengan sedikit rasa cemburu di hatinya.
Cemburu karna ada wanita lain yang memanggil Dion seperti dia memanggilnya ketika masih menjadi istri Dion.
"Aku datang ke kantormu tapi asisten mu bilang kamu sudah pulang."
Wanita berbaju seksi itu berjalan menghampiri Dion. Sejak tadi dia sudah menunggu Dion didepan pintu apartemen. Menunggu si pemilik yang tak kunjung membukakan pintu.
"Pulanglah.! Kita bicara nanti." Usir Dion dengan tatapan dingin. Nyatanya bukan hanya Keyla saja yang tidak menyukai kehadiran wanita itu. Dion sendiri bahkan terlihat tidak nyaman.
"Tidak Di,,, ada hal penting yang harus aku katakan."
Tolaknya sedikit merengek.
Keyla langsung menyipitkan matanya, sedikit geli melihat tingkah dan cara bicara wanita itu.
"Pulang.! Aku akan menghubungi mu nanti malam." Dion masih bersikeras mengusir wanita itu. Dia enggan membuat Leo berfikir macam - macam dengan kehadiran wanita itu.
"Tapi Di,, aku sedang,,,
"Viona.!! Pulang sekarang.!" Potong Dion cepat. Matanya menatap tajam. Penuh dengan ancaman hingga membuat wanita itu ketakutan dan memilih pergi disertai rasa kesal.
Dia berjalan melewati Keyla, sempat menyenggol bahu Keyla sembari menatap tajam.
"Kenapa dia.?" Gumam Keyla dengan tatapan bingung. Dia menyentuh bahunya yang sedikit sakit akibat ulah Viona.
Dion menghela nafas kasar, dia membuka pintu kemudian masuk begitu saja. Meninggalkan Keyla yang masih mematung di tempat. Dia tidak ingin tau urusan pribadi Dion dan wanita itu, tapi kejadian tadi membuatnya penasaran.
Sikap Dion yang terlihat acuh, dan wanita itu yang bersikap seolah-olah mengejar Dion.
Keyla jadi bertanya - tanya, sebenarnya hubungan seperti apa yang sedang di jalani oleh Dion dan Viona.?
Siapapun yang melihat langsung interaksi Dion dan Viona, pasti bisa menebak kalau hubungan mereka tidak baik - baik saja.
"Mau pulang atau masuk.?!" Suara teguran Dion membuyarkan lamunan Keyla. Dia bergegas masuk dan menutup pintu.
__ADS_1
Leo terlihat sedang bermain di sudut ruang tamu yang disulap menjadi tempat bermain oleh Dion sejak beberapa bulan yang lalu.
Sudut itu menjadi tempat favorit Leo dan Dion setiap kali berada di apartemen.
Jika sudah seperti itu, Keyla hanya menjadi patung hidung yang mengawasi keceriaan kedua laki - laki tampan itu.
Dion terlihat beberapa kali mengecek ponselnya yang bergetar. Dia terlihat gusar dan cemas.
"Ada apa.?" Tanya Kayla lirih.
Dion menoleh. Dia tidak memberikan reaksi apapun. Hanya menatap datar.
"Kalau ada urusan, pergi saja. Biar aku ajak Leo pulang."
"Kamu bisa menjemput Leo besok."
Keyla seolah bisa membaca pikiran Leo. Jika sudah gusar seperti itu, pasti ada sesuatu yang harus segera diselesaikan.
"Disini saja, aku akan pergi sebentar." Dion beranjak dari sisi Leo. Kemudian pamit untuk pergi dengan menjanjikan akan membelikan mainan untuknya.
"Kalau Leo mau tidur, bawa saja ke kamarnya."
Ucapnya pada Keyla.
Keyla mengangguk pelan.
Dion buru-buru keluar, setelah itu menghubungi Viona untuk mengajaknya bertemu di apartemen.
Pesan yang beberapa menit lalu dikirimkan oleh Viona, membuat pikiran Dion menjadi kacau.
Dia menyesali kebodohannya malam itu. Bertindak tanpa berfikir panjang tentang dampak yang akan dia alami saat ini.
Membuatnya harus terjerat dengan wanita malam yang tidak jelas seperti apa sifat aslinya.
Dion baru sampai di depan apartemen Viona. Bersamaan dengan itu, Viona datang dari arah yang berbeda. Dion sudah tau penyebab Viona juga baru sampai di apartemen.
Senyum Viona merekah. Terlihat bahagia menyambut Dion yang datang padanya.
"Ayo masuk Di,,," Viona menggandeng tangan Dion setelah membuka pintu.
"Mana hasilnya.?!" Todong Dion dengan menjulurkan tangannya. Dia enggan masuk kedalam apartemen Viona.
"Kita lihat didalam saja."
"Hasil pemeriksaan ada tas, lengkap dengan alat tes kehamilannya." Viona menerangkan dengan senyum lebar. Dia terlihat bahagia atas kehamilan itu.
Berbeda dengan Dion yang semakin terlihat frustasi. Dia menyesali semua ini. Menyesal telah membuang benihnya pada wanita seperti Viona.
Dion menurut. Masuk kedalam apartemen Viona dan langsung meminta hasil pemeriksaan dari rumah sakit.
Kedatangan Viona ke apartemennya, memang untuk mengajak Dion ke rumah sakit agar bisa sama - sama melihat kehamilan itu. Sayangnya, Viona harus pergi sendiri lantaran Dion menyuruhnya pergi.
"Sudah 4 minggu Di,,," Kata Viona sembari mengusap perutnya yang masih rata.
"Kamu akan bertanggungjawab kan.?" Tanyanya memohon.
Dion menatap bingung. Saat ini belum ada kepastian yang bisa dia berikan pada Viona.
Dion ingin menyangkal kehamilan itu, tapi tidak punya bukti untuk menyangkalnya.
Usia kehamilan Viona sudah cukup menjelaskan bahwa janin itu adalah miliknya.
__ADS_1