
Setelah memeluk Vano beberapa saat, Celina langsung melepaskan pelukannya dan menatap tajam kedua mata Vano. Dia baru ingat sesuatu.
"Mana vidio yang aku minta.?" Tanyanya sedikit memaksa. Celina menyodorkan tangannya pada Vano, meminta bukti vidio jika mangga itu di petik langsung oleh Vano.
"Jangan bilang kamu pura - pura lupa tidak memvidio, padahal mangga itu dipetikin sama orang lain." Tuduh Celina.
Belum sempat menjawab pertanyaan Celina, Vano malah di tuduh membohonginya.
"Astaga, kamu itu kejam sekali,," Ujar Vano sambil menggelengkan kepala.
Dia merogoh kantong jasnya, membuka ponsel dan menunjukkan vidio pada Celina.
"Lihat ini.! Lihat berapa lama aku bisa naik ke atas pohon itu." Keluhnya. Dia meletakkan ponsel miliknya ke tangan Celina.
Sudut bibir Celina seketika terangkat begitu melihat Vano yang tengah berusaha naik ke atas pohon mangga.
Seseorang yang merekam terdengar panik dan terus berbicara.
"Awas Pak, hati - hati.!!"
"Pegangan yang kenceng Pak, takut jatuh.!!"
Teriaknya berulang kali.
"Berisik.!! Bisa diam tidak.!!"
Vano menegur orang itu dengan ketus.
Kehebohan di vidio itu membuat Celina tertawa geli.
"Hahaha,,, ya ampun lucu sekali." Ujar Celina sambil terus tertawa dan menatap wajah Vano.
"Harusnya aku ikut dan melihat langsung pertunjukan seru ini." Ujarnya lagi.
"Ini,, aku tidak akan kuat menahan tawa." Celina mengembalikan ponsel Vano, dia enggan menontonnya sampai habis karna takut tidak bisa berhenti tertawa melihat kelucuan Vano menaiki pohon mangga.
Ditambah lagi, durasi vidio itu terlalu lama. Sedangkan dia sudah tidak sabar untuk mencoba mangga muda itu.
"Ayo masuk, aku mau makan mangga ini." Celina mengambil mangga dari tangan Vano.
"Aku sudah menyuruh bi Lastri membuat bumbu kacangnya. Kamu juga harus mencobanya sayang," Pintanya.
Celina memasang wajah memohon.
"Jangan masuk dulu." Tegas Vano dengan suara datar. Dia menyuruh Celina untuk duduk, kemudian ikut duduk di samping Celina.
"Kamu harus menonton vidio ini sampai selesai, liat bagaimana usahaku mengambil mangga muda itu untukmu."
Suara Vano terdengar menahan kesal.
"Tapi sayang, aku sudah melihatnya. Walaupun baru 2 menit, tapi bisa melihat kamu memang kesulitan memanjat pohon itu." Tutur Celina dengan suara lembut. Dia tau kalau saat ini Vano sedang kesal padanya lantaran harus memetik mangga di pohon yang tinggi.
"Makasih sudah mengabulkan keinginanku dan baby boy." Kali ini Celina langsung mencium pipi Vano. Dia yakin setelah ini Vano tidak akan lagi memaksanya untuk menonton vidio itu sampai habis.
"Tidak ada penolakan, pokoknya kamu harus menonton vidio ini sampai habis."
"Kita akan tetap disini sampai kamu selesai menontonnya." Tegas Vano.
Dia kembali menyalakan ponselnya, menunjukkan layar ponselnya didepan Celina.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan menontonnya."
Celina memilih pasrah. Karna percuma saja menolak, Vano terlihat bersikeras membuatnya menonton vidio itu sampai selesai.
Meski di vidio itu memperlihatkan adegan yang lucu lantaran Vano kesulitan naik ke atas, namun Celina tidak berani tertawa karna merasakan hawa dingin yang mencekam keluar dari tubuh Vano.
Celina masih bingung, tidak tau apa yang membuat Vano terlihat sangat kesal seperti itu.
Hingga detik-detik terakhir vidio itu selesai, Celina dibuat kaget sampai reflek berteriak.
"Aahhhkkk,,,,!!" Celina berteriak kencang sambil menutup matanya dengan telapak tangan.
"Kamu lihat bukan.? Usahaku seperti apa." Ucap Vano ketus. Dia mematikan vidio itu dan menyimpan kembali ponselnya.
Celina membuka matanya, menatap Vano dengan raut wajah cemas.
"Ya ampun sa,,sayang, ka,,kamu jatuh.?" Tanya Celina terbata.
"Apa kamu baik - baik saja.?" Celina sampai memeriksa keadaan Vano, menarik lengan jas ke atas untuk memastikan tidak ada luka di siku Vano.
"Bagaimana dengan kakimu.?" Tanyanya setelah memastikan kedua tangan Vano baik - baik saja.
"Aku baik - baik saja." Vano menjawab datar. Dia beranjak dari duduknya.
"Habiskan saja mangganya, aku tidak mau makan."
Setelah mengatakan itu, Vano beranjak pergi.
Meski memasang wajah datar, tapi tetap saja Celina bisa merasakan kalau Vano sangat kesal akibat jatuh dari pohon mangga.
Celina menyusul Vano setelah menyuruh pekerja rumah untuk menyimpan buah mangganya.
Dia akan memakannya karna sangat tergiur dengan cerita Keyla ketika sedang hamil Leo.
Tapi saat ini ada yang jauh lebih penting dari memakan mangga muda, yaitu membujuk Vano agar tidak kesal lagi padanya.
Celina mendekati Vano yang sedang melepaskan kemeja. Dia langsung memeluk Vano dari belakang dan meraba perut Vano yang mirip roti sobek.
Vano menghentikan aktifitasnya melepaskan kancing kemeja. Dia hanya menoleh datar pada Celina. Tidak bereaksi apapun meski Celina terus meraba perutnya.
"Kamu marah padaku.?" Celina bertanya dengan suara lembut.
"Tidak." Jawab Vano datar. Dia menyingkirkan kedua tangan Celina dari perutnya. Lalu berjalan menjauh menuju kamar mandi.
Sikap cuek Vano membuat Celina kebingungan. Tidak biasanya Vano kesal padanya sampai bersikap seperti itu.
Hanya karna menginginkan mangga muda yang di petik langsung oleh suaminya, Celina jadi pusing sendiri menghadapi Vano.
Kalau saja tidak jatuh dari pohon mangga, mungkin Vano tidak akan seperti itu.
"Kalau tidak marah kenapa jadi cuek seperti ini.?"
Celina membututi Vano. Dia enggan pergi sebelum sikap Vano kembali normal padanya.
Vano berbalik badan. Sebelum menjawab pertanyaan Celina, dia lebih dulu menarik nafas panjang.
"Permintaan kamu berlebihan Celina," Keluh Vani lirih.
"Sejak awal kehamilan, baru kali ini kamu menginginkan sesuatu. Sebelumnya tidak pernah meminta apapun."
__ADS_1
"Sebenarnya karna bawaan hamil atau kamu mau mengerjai ku.?"
Tanya Vano tak habis pikir.
Ini pertama kalinya dia buat susah dengan keinginan Celina.
"Maaf," Celina menundukkan kepala. Dia tidak bermaksud membuat Vano susah sampai harus ada kejadian jatuh dari pohon.
"Tiba-tiba saja aku ingin mangga muda setelah mendengar cerita kak Keyla saat dulu memakan mangga muda ketika sedang hamil Leo."
"Katanya dia memetik berdiri dari pohonnya, tapi aku tidak mungkin kan naik sendiri ke atas pohon dengan perut seperti ini."
Celina memegangi perutnya yang sudah sangat besar.
"Astaga,,!" Desah Vano kesal.
"Belum genap 1 hari dia tinggal disini, tapi sudah meracuni otak kamu."
"Hari ini mangga muda, besok apa lagi.?" Tanya Vano geram.
"Semoga saja tidak menyuruhku memetik kelapa muda." Keluhnya sembari masuk ke kamar mandi.
...*****...
"Maaf, cari siapa.?" Keyla bertanya ramah pada laki-laki yang masih berdiri mematung di luar pintu.
"Ekhemm,,,!"
Keyla terpaksa berdehem karna laki-laki itu hanya diam mematung. Lebih tepatnya melamun.
"Mau bertemu siapa.?" Tanya Keyla sekali lagi.
Kini sudah ada respon dari laki - laki itu.
"Vano, aku mau bertemu Vano." Sahutnya cepat.
"Silahkan masuk, aku akan memanggilnya dulu." Setelah mempersilahkan masuk dan memastikan tamu itu sudah duduk di ruang tamu, Keyla bergegas pergi ke kamar Celina.
Laki-laki itu menatap kepergian Celina dengan dahi berkerut.
Dia mempertanyakan hubungan wanita itu dengan Vano. Pasalnya, dia hapal betul seperti bapa wajah istri Vano. Meski hanya bertemu beberapa kali, tapi masih mengingatnya dengan jelas.
Apalagi Celina sedang hamil, sudah pasti perutnya besar. Sedangkan wanita yang bicara dengannya memiliki badan yang ramping.
.Setelah beberapa saat menunggu. Dia menatap kedatangan wanita tadi yang berjalan mendekat ke arahnya.
"Vano sedang mandi. Katanya tunggu dulu sebentar." Ujarnya ramah.
"Permisi." Pamitnya sembari membungkukkan badan.
"Tunggu.!"
"Kamu siapa dan apa hubungannya dengan Vano.?"
Keyla berbalik badan.
"Aku kerabat Celina." Keyla hanya menjawab singkat, dia kembali pamit kemudian pergi dari ruang tamu.
Laki-laki itu tersenyum penuh arti.
__ADS_1
"Vano sialan.!" Cibirnya.
"Ada wanita cantik di rumah mertuanya, bisa - bisanya nggak ngasih tau gue."