Pesona Sang Duda

Pesona Sang Duda
Bab 79


__ADS_3

Hari ini Celina ikut mengantar Papa dan Mamanya ke bandara. Dia memilih duduk di belakang, di apit oleh kedua orang tuanya.


Celina mendekap lengan Papa Adiguna dan Mama Alisha, sedangkan kepalanya di letakan di bahu sang Papa.


Vano yang sedang menyetir, sesekali melihat mereka dari kaca spion.


Celina terus bergelayut pada Papa Adiguna, wajahnya terlihat sendu. Ada kesedihan karna tidak bisa ikut menemani mereka selama di luar negeri.


Semua orang hanya memperbolehkan dia datang saat Papa Adiguna akan operasi.


"Papa harus sembuh."


"Aku akan membenci Papa kalau nanti Papa tidak menemani aku saat melahirkan."


"Baby boy juga ingin melihat Opanya."


Celina sedikit merajuk dari nada bicaranya.


Papa Adiguna tersenyum tenang. Dia mengusap kepala putrinya yang terlihat sedih melepaskan kepergiannya ke luar negeri.


"Tentu saja Papa ingin menemanimu dan melihat cucu tampan Papa." Ujarnya dengan senyum yang semakin merekah.


Papa Adiguna mengingat wajah cucunya yang terlihat tampan sejak dalam kandungan. Tidung bahkan sangat mancung.


Beberapa hari yang lalu, dia dan sang istri menemani Celina periksa kandungan.


Itu pertama kalinya mereka melihat secara langsung wajah cucunya dari layar monitor.


"Kalau begitu Papa harus cepat sehat, karna aku akan melahirkan 2 bulan lagi." Sahut Celina cepat.


Papa Adiguna tertawa kecil. Tawa yang terlihat bahagia dari sorot mata dan gurat senyumnya.


"Waktu berjalan sangat cepat. Papa masih ingat saat kamu seusia Naura, selalu ingin ikut kemanapun Papa dan Mama pergi."


Sekarang, kamu sudah menjadi ibu dan sebentar lagi akan melahirkan."


"Di beri usia sampai saat ini pun, Papa sudah bersyukur. Setidaknya Papa bisa melihat kamu menikah dan menjalani kehidupan rumah tangga dengan bahagia."


"Papa tidak memerlukan apapun lagi selain kebahagiaan istri dan putri semata wayang Papa."


Papa Adiguna mendekap anak dan istrinya bersamaan.


Suasana haru begitu terasa di dalam mobil itu.


Ketiganya terlihat menyimpan rasa takut meski berusaha untuk menutupinya.


Vano menarik nafas dalam. Pemandangan di jok belakang mobilnya membuat hatinya tersentuh.


Apa lagi melihat kondisi istrinya yang sedang hamil besar dan harus di hadapan dengan sakit yang di derita oleh Papanya.


Selama ini, Celina tidak bisa tidur dengan tenang karna terus memikirkan Papa Adiguna.


Mereka sampai di bandara pukul 7 malam.


Dion dan Keyla juga ikut mengantar ke bandara menggunakan mobil yang berbeda.


Papa Adiguna menghampiri Vano yang sejak tadi berdiri. Hanya diam di tempat memperhatikan Celina yang terlihat ingin ikut dengan kedua orang tuanya. Karna Celina terus menempel pada mereka sampai di ruang tunggu.


"Jaga putriku baik - baik." Pinta Papa Adiguna. Dia menepuk pelan pundak Vano, menatap menantunya dengan serius.


"Cintai putriku lebih dari dirimu sendiri, karna putriku sangat berharga untuk kami."


"Kamu harus membuatnya bahagia."


Papa Adiguna menaruh harapan besar pada Vano. Dia menyerahkan kebahagiaan putri semata wayangnya pada Vano.


Selama ini, Papa Adiguna menyadari jika dirinya dan sang istri tidak memberikan kebahagiaan pada putrinya lantaran sibuk berjuang untuk kesembuhannya sampai mengabaikan Celina.


Kehadiran Vano di hidup Celina, diharapkan bisa membuat putrinya itu hidup bahagia.


"Saya mengerti. Papa tidak perlu mengkhawatirkan Celina karna saya akan menjaga dan mencintai istriku lebih dari apapun."


"Semoga Papa sehat kembali dan bisa berkumpul untuk menyambut kelahiran putra pertama kami."


Papa Adiguna tersenyum mendengar jawaban dari Vano. Dia lantas memeluk menantunya itu. Memeluk punggungnya beberapa kali.


"Papa percaya padamu." Katanya sambil tersenyum bahagia.

__ADS_1


Kini Papa Adiguna beralih pada Dion. Laki - laki itu juga terlihat cemas. Sejak tadi menatap Papa Adiguna dengan perasaan yang bercampur aduk.


Lebih dari 5 tahun bekerja dengan orang yang sudah menganggapnya sebagai anak, tentu saja Dion sangat mengkhawatirkan Papa Adiguna.


"Tidak usah khawatir." Ucap Papa Adiguna pada Dion. Rupanya beliau bisa melihat kekhawatiran dalam diri Dion.


"Fokus saja pada tanggung jawab yang Papa berikan padamu."


"Jalankan perusahaan sebaik mungkin."


Dion mengangguk pelan.


"Papa harus sehat, perusahaan lebih membutuhkan Papa dari pada saya." Tutur Dion.


Setelah berpamitan pada mereka, Papa Adiguna dan Mama Alisha beranjak pergi untuk masuk ke pesawat.


Celina sempat menangis sambil memeluk kedua orang tuanya.


Semua ini tentu saja sangat berat bagi Celina. Pikirannya tentu saja kalut dan tidak mungkin b8sa tenang sebelum mendapat kabar baik.


"Jangan seperti ini." Pinta Vano dengan tatapan sendu. Dia langsung menarik Celina dalam dekapannya. Tidak tega melihat tangis istrinya yang tak kunjung berhenti.


"Ayo pulang,," Ajaknya lirih.


Celina menganggukkan kepala. Dia melepaskan pelukan Vano, lalu mengusap air matanya.


Keyla menatap sendu. Dia tau persis apa yang dirasakan oleh Celina saat ini.


Karna beberapa tahun yang lalu pernah berada di posisi yang sama.


Melepas sang Papa untuk menjalani operasi, meski kenyataannya jauh lebih menyakitkan karna pada akhirnya harus berpisah untuk selama - lamanya.


"Kamu harus yakin Papa akan sembuh," Kata Keyla setelah menghampiri Celina dan memberikan pelukan singkat padanya.


"Terimakasih kak,," Celina tersenyum tulus.


Dia lalu menatap Dion yang sejak datang menjaga jarak dengan Keyla.


Meski sedang khawatir dan kalut memikirkan Papa Adiguna, Celina masih sempat memikirkan Dion dan Keyla.


"Sayang, apa aku boleh menonton.? Setidaknya aku bisa terhibur dengan menonton film." Pinta Celina.


Memang waktunya tidak pas, karna baru saja mengantarkan Papanya yang akan berjuang dengan penyakitnya. Namun Celina merasa butuh hiburan yang setidaknya bisa mengurangi sedikit kesedihan dan ketakutan dalam hatinya.


Dia juga ingin membantu Keyla untuk memperbaiki hubungan dengan Dion yang sampai sekarang justru terlihat semakin renggang.


“Tidak, kita bisa pulang malam kalau harus menonton."


"Kamu lupa dengan perut besarmu ini.?"


Vano tidak setuju dengan permintaan Celina.


Dia khawatir membiarkan Celina terlalu lama di luar saat malam hari.


"Kali ini saja,," Ucap Celina memohon.


"Lagipula kita belum pernah menonton kan.?" Celina mengedipkan sebelah matanya.


"Kak Dion dan Kak Keyla akan ikut kan kalau aku mengajak kalian.?" Tanya Celina cepat.


Vano langsung menghela nafas. Kini dia tau kenapa istrinya memaksa untuk menonton. Ternyata ada tujuan dibalik semua itu.


Apa lagi kalau bukan untuk mendukung hubungan Dion dan Keyla kembali seperti dulu.


"Tidak, aku harus pulang. Pekerjaanku menumpuk."


"Mungkin lain kali,," Jawab Dion cepat.


Keyla langsung melirik Dion. Menatap heran karna Dion berbohong.


Padahal saat di perjalanan, Dion di telfon wanitanya dan meminta untuk segera datang ke apartemen.


Dan Dion menyetujui permintaan wanita itu.


"Ayolah, sekali - kali kita pergi bersama."


"Kak Dion bisa mengerjakan pekerjaan setelah pulang menonton kan.? Lagipula tidak akan lama."

__ADS_1


Celina membujuk dengan sedikit memaksa.


"Kak Keyla mau kan.?"


"Aku,,,,


"Cepat kalian ikut.!" Potong Vano tegas.


"Tidak ada yang boleh menolak ajakan istriku." Tambahnya lagi.


Vano menatap Dion dengan tajam. Seolah memberikan ancam jika berani menolak permintaan Celina.


"Kalian dengar itu.?" Seru Celina antusias.


"Ayo pergi sekarang." Ajaknya.


Celina melepaskan tangan Vano, dia beralih mendekap tangan Keyla dan mengajaknya pergi dari sana.


Perbuatannya sampai membuat Vano melongo. Merasa kesal di tinggalkan begitu saja oleh Celina setelah mengabulkan permintaannya.


"Untung kamu istriku,," Gumam Vano pasrah.


"Ayo buruan.!" Ketusnya pada Dion yang sedang sibuk dengan ponsel di tangannya.


"Hemm,," Dion hanya berdehem.


Dengan malas terpaksa mengikuti permintaan Celina.


"Sebaiknya aku pulang saja,," Tolak Keyla pada Celina.


"Leo pasti menungguku, aku bilang padanya hanya keluar sebentar." Ujarnya beralasan.


Padahal saat akan pergi, Leo baru saja tidur kane kelelahan bermain seharian.


Keyla merasa kasihan pada Dion karna jadi tidak bisa menemui wanita itu kalau harus menonton dengan Celina.


"Kak, sebaiknya gunakan waktu sebaik mungkin untuk memulai dari awal dengan kak Dion." Bisik Celina semangat.


"Bukankah ini bagus.? Kalian jadi memiliki banyak waktu berdua.?" Tanyanya antusias.


Keyla langsung menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak mau egois. Aku sudah memutuskan untuk tidak berharap memulai hubungan dengannya."


"Aku hanya akan fokus pada hidupku dan Leo. Soal pekerjaan itu, apa aku bisa di bagian staf saja.?"


Tanyanya dengan hati - hati. Keyla meras tidak enak pada Celina karna mengatur soal posisinya di perusahaan Papa Adiguna.


Padahal Celina sudah berusaha untuk membuatnya bisa menempati posisi sebagai sekretaris Dion sampai harus memindahkan sekretaris sebelumnya.


"Kenapa berubah pikiran.?" Celina menatap heran.


"Karna jika kami tidak berjodoh, maka usahaku akan sia-sia."


"Aku hanya akan membuang - buang waktu dan pikiran untuk hal yang tidak pasti."


"Jadi lebih baik aku menjalani semua ini seperi air yang mengalir. Kalau memang kami berjodoh, pasti akan di satukan kembali."


Tutur Keyla dengan perasaan yang jauh lebih baik dari sebelumnya.


Dia enggan melawan takdir kalau memang tidak bisa bersama dengan Dion lagi.


"Baiklah,,," Akhirnya Celina menyerah. Dia tidak mungkin memaksa Keyla, kalau Keyla sendiri enggan melakukannya.


"Tapi untuk pekerjaan itu, Kakak harus tetap menjalaninya. Karna sudah terlanjur membuat sekretaris lama mengundurkan diri."


Keyla sedikit cemas mendengarnya, takut tidak profesional menjalankan pekerjaan itu.


Tapi tidak mungkin menolak setelah usaha yang dilakukan Celina untuk membantunya.


...****...


Maaf untuk novel Luka Balas Dendam, di pindah ke lapak berbayar.


Othor mau coba peruntungan di sana yang katanya lebih menghargai karya penulis.


Yang mau mampir bisa ke platform K,,, B,,, M.

__ADS_1


Dengan judul yang sama.


__ADS_2