
...NOVEL INI BELUM TAMAT.!...
Kenapa ada tulisan END di cover.?? Jawabannya ada di bab INFO.
Dion menghentikan langkah tepat di depan kamar rawat inap Leo. Manik matanya menatap tajam sosok laki-laki yang baru saja keluar dari ruangan itu.
Terlihat tidak nyaman ada laki - laki asing yang berada di dekat putranya, bahkan sampai bermalam di sana.
Dion tau kalau Arkan menginap karna baju yang di pakai okeh Arkan, masih sama seperti kemarin sore.
Penampilannya bahkan sudah acak - acakan dengan kemeja lengan panjang yang kusut.
Arkan membalas tatapan tajam Dion dengan ekspresi datar. Dia menutup pintu perlahan, kemudian melewati Dion begitu saja.
Tidak ada alasan juga bagi Arkan untuk menyapa atau sekedar basa - basi pada Dion.
Mereka tidak saling kenal dan tidak ada urusan apapun.
Arkan hanya menjalankan tugas dari Vano untuk menemani Leo dan Keyla.
Melihat Arkan yang melewatinya begitu saja, Dion semakin menajamkan tatapannya.
Tatapan mata yang terlihat penuh kekesalan dan ketidak sukaannya terhadap Arkan.
Begitu Arkan menghilang dari pandangan matanya, Dion bergegas masuk ke ruangan Leo.
Suara pintu yang terbuka membuat Keyla reflek berdiri dari duduknya dan menoleh ke arah pintu.
"Ada yang tertingga,,aal,,,"
Suara Keyla semakin lirih di akhir kalimat, kemudian langsung bungkam ketika orang yang datang bukan Arkan.
"Maaf,, aku pikir,,," Keyla tidak melanjutkan ucapannya. Dia langsung grogi begitu Dion menutup pintu dan berjalan ke arahnya dengan manik mata yang tidak beralih sedikitpun darinya.
Dion terus mendekat, berjalan tegap serta menunjukkan ekspresi datar.
"Tidur saja kalau masih mengantuk." Ucap Dion datar. Dia meletakkan parcel buah di atas meja.
Buah yang tadi malam akan dia bawa untuk Leo, namun tidak jadi karna ada urusan mendadak.
Keyla masih diam di tempat. Dia terlihat bingung dengan keadaan saat ini. Sulit untuk mencerna apa yang di lakukan oleh Dion.
Kemarin Dion baru saja memarahinya, tapi pagi ini bersikap datar seperti biasa.
Setelah meletakkan keranjang buah, Dion meletakkan jas yang sejak tadi dia pegang.
Meletakkan rapi di atas sofa, lalu menghampiri Leo yang masih terlelap.
Setelah duduk di sisi ranjang, Dion meraih tangan Leo. Menggenggam erat tangan mungil putranya. Seketika kepalanya tertunduk lesu.
Meski Keyla hanya melihat punggung Dion, tapi bisa merasakan kesedihan yang sedang di rasakan oleh Dion.
Bertahun-tahun mengenal dan hidup bersama Dion, Keyla bisa membaca apa yang dirasakan oleh Dion hanya dengan melihat gesture tubuhnya.
Keyla menarik nafas dalam setelah merasakan sesak di dadanya.
Dia kembali ingat kesalahannya pada Dion.
Tega menyembunyikan kehadiran Leo dan memisahkan Dion dari Leo.
Jika saat ini Dion masih membencinya, masih belum bisa menerima keadaan, Keyla bisa mengerti hal itu.
Dia paham kekecewaan dan sakit hati yang dirasakan oleh Dion bukan hanya sekedar rasa kecewa dan sakit hati biasa.
__ADS_1
Permasalahan ini sudah menyangkut soal anak, darah daging Dion yang sejak dulu sangat dia inginkan kehadirannya.
Dion bahkan sangat hancur saat Keyla pura-pura kehilangan Leo dalam kandungan.
"Papa kenapa menangis.?"
Terdengar suara khas Leo dengan nada khawatir.
Seketika menarik perhatian Keyla yang langsung menatap Dion dengan rasa sakit yang sulit untuk diungkapkan.
Jika seorang laki-laki sudah meneteskan air matanya, kemungkinan saat itu adalah titik terberat baginya.
"Papa kan laki-laki, mana mungkin Papa menangis."
Suara Dion terdengar renyah. Dia tertawa di depan Leo setelah menyingkirkan buliran bening yang sempat menetes di pipinya.
Kehadiran Leo mampu memberikan semangat hidup yang sempat redup. Namun mampu meluluhlantakkan perasaannya disaat keadaan Leo seperti ini.
Dion memang tidak ikut andil saat Keyla hamil dan melahirkan Leo, tapi bukan berarti tidak memiliki kasih sayang dan perhatian sebesar Keyla.
Hatinya ikut hancur melihat kondisi Leo, sama seperti yang dirasakan oleh Keyla.
"Tapi tadi Leo lihat Papa menangis." Ujar Leo.
Dia tidak bisa di bohongi karna melihat jelas saat Dion meneteskan air matanya.
"Leo mau beli mainan.?" Tawar Dion. Dia sengaja mengalihkan perhatian.
"Mau Papa,,,!" Leo menjawab antusias.
"Kalau begitu Leo harus sehat dulu, setelah itu kita pergi beli mainan."
"Leo mau tau caranya biar cepat sehat.?"
Dion mengajak bicara Leo dengan nada bicara khas anak - anak.
"Leo harus makan yang banyak biar cepat sehat."
"Leo mau makan apa.? Papa akan belikan makanan untuk Leo,,"
Keyla tersenyum tipis mendengar interaksi Leo dan Dion. Dia bahagia melihat putranya bisa merasakan kasih sayang yang tulus dari sosok seorang ayah yang tidak pernah di dapatkan oleh Leo sebelumnya.
Dulu Papa sambung Leo tidak pernah peduli. Jangankan pada putra sambungnya, pada istrinya saja dia tidak peduli.
Mengabaikan dan menindas Keyla seolah - olah hanya benda mati yang tak punya perasaan.
...*****...
"Ya ampun El Vano.!!" Celina melotot tajam. Dia dibuat geleng-geleng kepala dengan tingkah mesum suaminya yang tidak tau waktu, bahkan disaat mentari baru saja muncul.
"Di larang membantah, apa lagi menolak.!" Ucap Vano tegas. Dia menggerayangi tubuh Celina tanpa memperdulikan penolakan yang dilakukan oleh Celina dengan menepis tangannya berulang kali.
Sayangnya Vano terlampau gigih untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.
Vano sampai memeluk erat Celina dari belakang. Menahan tubuh bagian bawah Celina dengan kaki besarnya agar tidak kabur.
Tangan Vano sudah berkelana kemana-mana.
Baju tidur yang di pakai Celina bahkan sudah tersingkap ke atas. Perut buncitnya sampai terekspos.
"Apa kamu lupa kalau sedang di hukum.!"
"Tidak ada jatah untuk 2 minggu ke depan."
__ADS_1
"Aku ulangi sekali lagi.!" Tegas Celina.
"TIDAK ADA JATAH UNTUK 2 MINGGU KE DEPAN.!" Celina sampai menekankan ucapannya dengan kedua mata yang melotot tajam.
Vano hanya terkekeh kecil. Dia malah semakin menjadi. Menyusupkan tangannya ke area inti Celina.
"Aahhg,,, El Vano kau,,,!!" Pekik Celina dengan ******* tertahan. Tubuhnya mulai menerima sentuhan dari Vano.
"Enak bukan.?" Tanya Vano menggoda. Gerakan tangannya semakin menjadi, membuat tubuh Celina menegang.
"Mau lanjut.?" Godanya lagi.
"Yang benar saja harus berhenti di tengah jalan."
"Cepatan lanjut.!" Pintanya tegas, namun sedikit memohon.
Vano dibuat tertawa dengan jawaban Celina.
Dia tau kalau istrinya memang tidak bisa berpaling dari sentuhannya. Tidak akan bisa menolak kalau sudah dibuat on.
"Huh,,, capek.!!" Keluh Celina. Dia langsung ambruk di samping Vano setelah bergerak di atas tubuh Vano.
Padahal baru beberapa menit, tapi sudah tidak sanggup untuk bertahan sampai akhir.
Semenjak perutnya semakin membesar, Celina memang tidak seliar sebelumnya.
"Biar aku lanjutkan." Ucap Vano dengan suara beratnya. Dia mencium kening Celina, setelah itu memposisikan diri untuk kembali melakukan penyatuan.
Erangan dan ******* kembali memenuhi kamar.
Keduanya sudah melayang entah kemana. Menikmati permainan yang semakin panas.
"Mommy,, Daddy.!! Buka pintunya.!!"
Teriakan Naura membuat Vano berhenti.
Keduanya saling pandang, bingung harus berbuat apa. Ingin membukakan pintu tapi sedang dalam mode nikmat. Mau mengabaikan pasti Naura akan terus berteriak dan menggedor pintu.
"Bagaimana.?" Celina meminta pendapat.
"Lanjutkan saja." Vano kembali bergerak tanpa pikir panjang. Yang ada dalam pikirannya saat ini adalah cepat - cepat menyelesaikan permainan agar tidak membuat kepalanya berdenyut.
"Mommy.!!!" Teriakan Naura terdengar semakin kencang.
"Astaga, kenapa tidak bisa melihat orang tua senang." Keluh Vano kesal. Tapi dia masih saja memacu tubuhnya.
"Sudah, kita lanjutkan nanti."
"Naura bisa menangis kalau kita tidak membukakan pintu." Celina menahan dada bidang Vano agar berhenti bergerak.
Vano terlihat frustasi. Entah sudah berapa kali mendapat gangguan dari Naura saat sedang merengkuh kenikmatan.
"Kenapa lama sekali buka pintunya.?" Tanya Naura. Wajahnya terlihat cemberut bercampur akan menangis.
Celina langsung merangkul pundak Naura dan membawanya masuk kedalam kamar.
"Mommy baru bangun sayang." Ujar Celina lembut.
Dia menoleh ke arah Vano yang akan masuk ke kamar mandi dengan wajah kesal.
Pagi ini tidak bisa melampiaskan has ratnya gara - gara putrinya sendiri.
"Braakk.!!"
__ADS_1
Vano sedikit membanting pintu kamar mandi.
Tingkah kekanakan Vano membuat Celina menahan tawa.