
"Daddy harus mandi. Naura main dulu sama Mommy,,," Vano mendudukkan Naura di sofa Naura m keluarga. Dia sedikit melirik Celina yang memilih dan memasang wajah datar.
"Oke Daddy,," Sahut Naura senang.
Dia sangat antusias dengan kedatangan Celina.
"Naura juga anakmu, jangan galak padanya." Goda Vano setengah berbisik di telinga Celina.
Celina terlihat menarik nafas dalam, lalu duduk di samping Naura.
Sejak awal dia tidak pernah sedikitpun galak pada Naura, apa lagi sikap Naura sangat menggemaskan. Berbanding terbalik dengan Vano yang sepertinya memang minta untuk di perlakukan galak olehnya.
"Kenapa Naura jadi panggil Daddy.?" Celina mulai mengajukan pertanyaan pada Naura untuk menjawab rasa penasarannya. Dia ingin tau, apa yang dikatakan Vano pada Naura sampai Naura mau mengubah panggilannya menjadi daddy.
"Daddy bilang, Naura harus panggil daddy dan Mommy kalau mau tante cantik jadi Mama Naura." Tutur Naura dengan wajah polosnya.
Celina hanya bisa menggelengkan kepala mendengar perintah Vano pada putri kecilnya itu.
Entah Vano terlalu percaya diri akan bisa menikahi Celina, atau karna terlalu berharap bisa menjadi keluarga yang utuh bersamanya.
Dia sampai menjanjikan sesuatu yang belum pasti pada Naura.
"Mommy mau jadi Mama Naura kan.?" Tanya Naura sembari menggoncang pelan tangan Celina. Tatapan matanya yang polos begitu menyentuh hati. Naura menatap Celina dengan penuh harap dan memohon.
Siapapun pasti tidak akan tega melihatnya.
Naura begitu berharap dirinya bisa memiliki ibu.
Naura tidak bisa merasakan kasih sayang Jasmine yang meninggalkannya di saat usianya belum genap 2 tahun.
"Kenapa Naura pilih aunty.?" Celina terlihat penasaran, apa alasan Naura hingga sangat menginginkannya menjadi ibu sambungnya.
"Naura sayang Mommy, Mommy baik dan cantik." Tiba - tiba saja Naura langsung memeluk Celina.
Naura terlihat begitu nyaman dalam pelukan Celina sampai menenggelamkan wajahnya di sana.
Tidak ada yang spesial dari alasan yang di ungkap oleh Naura. Dia memberikan alasan yang terdengar umum. Benar - benar jawaban polos seorang anak kecil berusia 4 tahun.
"Daddy bilang, adik Naura laki - laki,," Naura mendongak dalam posisi masih memeluk Celina.
"Naura suka adik laki - laki,," Katanya dengan senyum ceria.
Bibir Celina reflek ikut tersenyum. Kebahagiaan yang di rasakan oleh Naura, seakan bisa dirasakan juga olehnya.
"Naura juga harus sayang adik." Kata Celina lembut. Tangannya mengusap kepala Naura berulang kali. Gadis kecil itu mengangguk patuh.
"Mommy juga harus sayang Daddy."
Celina langsung menoleh begitu mendengar suara datar Vano. Dia berjalan mendekati hanya memakai celana pendek dan kaos polos dengan rambut yang setengah basah.
Vano duduk di samping Celina dengan santainya.
"Kita sayang sama Mommy." Ucap Vano. Tangan panjangnya menjangkau tubuh Celina dan Naura, membawa dua wanita kesayangannya dalam pelukan.
"Benar kan sayang.?" Vano meminta dukungan pada Naura. Putrinya itu langsung mengangguk setuju.
__ADS_1
"Iiissh,,, jangan begini." Celina menggerakkan sebelah tangannya untuk membuat Vano melepaskan pelukannya.
"Mommy galak sekali, selalu menolak setiap di peluk Daddy." Dengan gaya seperti anak kecil, Vano pura - pura merajuk.
"Ada Naura, jangan seperti ini." Pinta Celina lagi.
Dia sedikit berbisik.
"Kalau begitu aku akan memelukmu kalau tidak ada Naura." Bisik Vano menggoda. Dia langsung mendapatkan tatapan tajam dari Celina. Tatapan yang seolah ingin mencabik - cabik mulutnya.
"Oke,, Oke,," Vano mengalah. Dia langsung melepaskan pelukannya.
"Jangan memasang wajah galak seperti ini, kamu justru semakin cantik." Vano masih saja menggoda Celina dsn membuatnya terlihat semakin kesal.
...*****...
"Kenapa harus datang sekarang juga.?" Tanya Vabo penasaran. Celina hanya mengangkat kedua bahunya. Dia juga tidak tau kenapa kedua orang tuanya menyuruhnya datang ke rumah, bahkan menyuruh Vano untuk ikut serta.
Naura jadi menangis karna tidak di ijinkan ikut oleh Vano. Vano mengantisipasi hal - hal yang tidak di inginkan.
Naura masih terlalu kecil untuk menyaksikan pembicaraan orang - orang dewasa. Dia juga tidak mau putrinya melihat adegan baku hantam jika nantinya Papa Adiguna kembali memarahinya.
"Apa mereka tau kalau aku menginap di apartemen mu.?" Tanya Vano sambil menduga - duga. Feelingnya sedikit tidak enak karna tiba - tiba di suruh untuk berkumpul.
"Mana aku tau, Papa tidak bilang apapun selain menyuruh kita datang." Celina menjawab sedikit ketus.
Dia ingin bersikap seperti dulu lagi pada Vano, tapi belum sanggup untuk melawan rasa sakit hatinya.
Begitu sampai, Celina dan Vano langsung menuju ruang keluarga. Keduanya sedikit heran dan terkejut melihat Dion yang juga ada di sana.
"Siang Om, Tante,," Vano membungkuk sopan pada kedua orang tua Celina. Dia menunjukan senyumnya yang penuh dengan kewibawaan.
"Duduk.!" Papa Adiguna menyuruh keduanya untuk duduk. Wajahnya terlihat serius dengan suara yang tegas.
Sebelum duduk, Celina lebih dulu memeluk keduanya bergantian.
Celina memilih tempat duduk terpisah. Dion dah Vano duduk bersebelahan dan berhadapan dengan kedua orang tua Vano.
Dion yang sejak tadi menatap Celina, hanya di balas dengan senyuman tipis oleh Celina.
"Sebenarnya ada apa ini. ?" Celina menatap bingung pada orang tuanya.
"Perut kamu sudah semakin membesar. Papa sudah memutuskan untuk menikahkan kamu." Penuturan sang Papa sedikit membuat Celina tercengang. Tiba - tiba saja sang Papa bersikeras untuk menikahkannya. Padahal sejak awal Papa Adiguna seakan menentangnya untuk menikah.
"Dion datang pada Papa. Dia kembali mengutarakan niatnya untuk menikahi kamu, dan mau menerima anak yang ada di dalam kandungan kamu." Papa Adiguna bertutur tegas sambil memberikan sorot mata tajam secara bergantian pada kedua laki - laki itu dan juga Celina.
"Begitu juga dengan Vano yang berulang kali mendatangi kantor Papa untuk meminta ijin agar merestuinya." Tuturnya lagi.
Kali ini Celina melirik Vano dengan dahi berkerut. Dia tidak tau kalau Vano melakukan hal itu.
"Papa dan Mama menyerahkan semua keputusan padamu."
"Saat ini juga kamu harus memilih.!" Tegasnya pada Celina.
"Kamu harus menikah besok.!"
__ADS_1
Celina tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya, namun dia berusaha untuk bersikap tenang.
"Besok.? Apa Papa dan Mama bercanda.?" Celina nampak tidak percaya dengan keputusan orang tuanya yang begitu mendadak.
"Mama ingin yang terbaik buat kamu dan anak kamu. Mama akan tenang kalau salah satu dari mereka bisa menjagamu." Mama bertutur lembut. Dia berharap putrinya bisa menjalani kehamilannya dengan mudah jika ada suami di sampingnya.
Celina langsung terdiam saat kembali di perintahkan untuk memilih.
Dia menatap Dion dan Vano bergantian. Keduanya juga sedang menatap Celina dengan perasaan yang pastinya bercampur aduk.
Baik Dion maupun Vano, keduanya sudah pasti menginginkan Celina memilihnya.
Celina mencoba memikirkan matang - matang. Dia memang tidak akan pernah memilih Dion sekalipun Dion berulang kali mengaku cinta padanya.
Keyla dan Leo menjadi alasan kuat kenapa Celina enggan melanjutkan hubungan dengan Dion.
Dia seolah bisa membaca masih ada perasaan diantara keduanya meski Dion terlihat berusaha untuk menepis perasaan itu karna kecewa.
Sementara itu, hatinya belum siap jika menerima Vano dalam waktu dekat. Masih butuh waktu untuk melupakan perlakuan buruk itu meski dengan besar hati sudah memaafkannya.
Celina menarik nafas dalam sebelum mengutarakan perasaannya.
"Maaf, sekali lagi aku tidak bisa melanjutkan hubungan dengan kak Dion."
"Aku tidak bisa merenggut kebahagian seorang anak kecil yang sudah pasti membutuhkan kedua orang tuanya disisinya."
Celina berbicara dengan hati - hati agar tidak menyinggung perasaan Dion.
"Leo akan sedih jika kedua orang tuanya tidak tinggal bersama meski sama - sama bersedia merawatnya."
"Aku tidak mau egois demi keinginanku semata."
"Ada perasaan yang jauh lebih berhak untuk di jaga."
Celina bisa merasakan jika kedua orang tuanya tinggal terpisah. Dia saja merasa kurang perhatian meski tinggal satu rumah dengan kedua orang tuanya.
Dion terlihat menarik nafas dalam. Keputusan Celina sudah pasti membuatnya kecewa. Namun dia nampak merenungi setiap kata yang keluar dari mulut Celina.
Leo memang selalu merengek untuk tidur bersama bersama dia dan Keyla.
"Papa anggap itu sebagai keputusan."
"Itu artinya kamu bersedia menikah dengan Vano."
Papa Adiguna menatap Vano dan Celina bergantian. Keduanya hanya diam saja, tidak mengiyakan, tapi tidak membantahnya juga.
Vano sadar dengan apa yang dirasakan oleh Celina. Celina seakan tidak punya pilihan lain selain dirinya.
Papa Adiguna sudah memutuskan untuk menikahkan Vano dan Celina besok pagi.
Keputusan yang sangat mendadak namun kedua orang tua Celina yakin bahwa itu adalah keputusan yang terbaik untuk putrinya.
Sejujurnya siapapun yang dipilih oleh Celina, mereka akan mendukung karna tau bahwa Dion dan Vano sama - sama serius terhadap putrinya.
...*****...
__ADS_1
Duhh mendadak kawin,, eh nikah🤣