Pesona Sang Duda

Pesona Sang Duda
Bab 61


__ADS_3

Sore setelah istirahat, Vano dan Celina melakukan panggilan vidio dengan Naura.


Bocah 4 tahun itu sama sekali tidak mencari Daddy atau Mommynya.


Asik bermain dengan Oma dan Opanya, membuat Naura lupa Orang tuanya yang sedang pergi babymoon.


Celina merasa senang karena Naura tidak rewel sejak ditinggalkan dirumah.


Naura terlihat sangat nyaman berada di sana hingga membuatnya betah.


Menurut penuturan Vano, Naura tidak mudah untuk dekat dengan orang baru.


Vano mengungkapkan keterkejutannya begitu melihat Naura langsung dekat dengan kedua orang tua Celina. Meski sebelumnya dia sudah heran saat dulu Naura dekat dengan Celina.


"Bye,,, Sampai jumpa sayang. Nanti Mommy dan Daddy telfon lagi." Celina dan Vano sama melambaikan tangan ke layar ponsel mereka.


Mengulas senyum pada Naura yang terlihat sangat ceria.


"Bye bye Mommy, Daddy,," Naura mencium mereka dari sebrang sana, kemudian mematikan sambungan telfonnya.


Vano dan Celina masih tersenyum. Ada kebahagiaan yang tidak bisa di ungkapankan dengan kata - kata.


"Hampir seharian kita berada di sini, kita belum melakukan apapun." Kata Vano sembari menggeser duduknya, menghapus jarak dengan Celina.


"Memangnya mau apa.?" Suara Celina sedikit meninggi.


"Ini kenapa nempel - nempel begini, bikin tambah gerah." Celina bergeser menjauh. Dia mengibaskan tangan di wajah karna merasa kegerahan.


Pelipisnya bahkan sedikit berkeringat.


Sudah lewat dari jam 4 sore, tapi sinar mentari masih terik.


Niat hati ingin mencari udara segar dengan duduk di halaman belakang resot, nyatanya tetap saja panas.


Kenapa harus di buat pusing. Ada kolam renang disana." Vano menunjuk kolam renang yang di lengkapi dengan kanopi. Membuat kolam renang itu terlihat teduh, dengan pepohonan rimbun di sekitarnya.


"Mau mencoba di kolam renang.?" Vano menaikan alisnya. Memberikan penawaran ambigu yang membuat Celina menatap bingung.


"Mencoba apa.?"


Ekspresi Celina membuat Vano menahan tawa.


Entah memang tidak tau, atau pura - pura tidak tau.


"Jangan pura - pura. Kamu itu remaja liar." Ledek Vano. Dia mengacak gemas rambut Celina.


"Kalau untuk sekedar mencoba berenang disana, untuk apa jauh - jauh ke sini." Tutur Vano.


"Di rumahku dan rumahmu juga dilengkapi dengan kolam renang."


Celina melongo setelah mendengar penuturan Vano. Kini dia paham maksud ucapan Vano yang mengajaknya untuk mencoba di kolam renang.


Seliar apapun dulu, Celina belum pernah melakukannya di kolam renang.


Dia sangat hati - hati memilih tempat untuk berbuat gila.


Statusnya yang saat itu masih pelajar, membuat Celina selalu mencari tempat yang memiliki privasi agar tidak di ketahui oleh orang lain.


"Ada kamar, kenapa harus di kolam renang.?" Protes Celina.


"Cari sensasi dan suasana baru." Bisik Vano.


"Apa dulu kamu sering melakukannya di kolam renang.?" Tanya Celina penuh selidik. Entah kenapa dia merasa jengkel karna tiba - tiba terlintas bayangan Vano saat bercint* dengan wanita lain.


"Sepertinya sangat menyukainya." Tambah Celina lagi.


Soroti mata sinisnya semakin kentara.


Vano hanya bisa menarik nafas dalam agar tidak terpancing.


Dia berusaha untuk tetap berbicara lembut.


"Kita sudah menikah, apapun yang dulu pernah kita lakukan di masa lalu, sebaiknya tidak perlu di bicarakan."


"Jangan membicarakan hal yang tidak penting, karna ada yang jauh lebih penting dari itu." Kata Vano dengan tatapan yang sudah berubah mesum.


"Menciptakan des*han erotismu tentunya." Lanjutnya sambil tersenyum lebar.


Vano langsung mengangkat tubuh Celina tanpa permisi. Menggendongnya menuju kolam renang.


"Ya ampun El Vano,!" Pekik Celina. Dia hanya bisa diam dan mengalungkan tangan di leher Vano agar tidak terjatuh.

__ADS_1


Sambil menggendong Celina, Vano masuk kedalam kolam renang dengan hati - hati.


"Yang benar saja, bagaimana kalau ada yang melihat kita." Celina mengedarkan pandangan ke sekitar area resort.


Tentu saja dia cemas, takut jika ada seseorang yang memergokinya.


"Di resort ini hanya ada kita berdua. Resort di sisi kanan dan kiri tidak berpenghuni."


" Jangan khawatir, tempat ini aman."


Vano meyakinkan Celina agar dia percaya kalau tidak ada seorangpun yang akan melihat adegan panas mereka.


"Iissh,, menyebalkan sekali." Celina tampak melirik kesal.


Dia tidak nyaman melakukannya di tempat terbuka, namun Vano bersikeras untuk melakukannya.


"Sekarang bilang menyebalkan, tapi nanti keenakan."


Celetuk Vano.


'Kalau itu memang enak, tempatnya saja yang membuat kesal." Celina kembali menyahuti.


"Rasakan dulu, baru menilai,," Bisik Vano.


Suaranya sudah mulai berat.


Berdiri di belakang Celina ternyata membuat gairahnya meningkat.


Efek ****** Celina yang semakin berisi sampai terasa menekan bagian depan miliknya.


Vano mulai menggerakan tangan. Memberikan rangsangan pada tubuh Celina agar tidak lagi memasang wajah kesal.


Dalam beberapa menit, Celina sudah terbawa suasana. Deru nafas Vano yang memburu, terdengar jelas di belakang telinganya. Hal itu membuat tubuhnya menegang dan ikut merasakan panas.


Air di dalam kolam bergerak tak beraturan meski penghuni kolam hanya diam di tempat di sisi pojok kolam.


Vano membuat Celina mengeluarkan des*han meski dengan gerakan pelan.


Permainan panas mereka di akhiri lebih cepat karna mengkhawatirkan kondisi kehamilan Celina.


"Aku pikir kamu sangat menikmatinya,," Bisik Vano sambil memeluk Celina dari belakang.


Vano bisa merasakan nafas Celina yang masih memburu.


"Tentu saja." Vano berucap bangga dengan seulas senyum.


Miliknya memang selalu membuat Celina tidak berdaya. Begitu menikmati sampai menciptakan erangan yang seksi.


...*****...


"Tidak usah makan malam di resto, aku malas keluar."


Celina menolak saat Vano mengajaknya makan malam di restoran yang berada di dekat pantai.


Tujuannya untuk membuat Celina tidak bosan karna terlalu lama mengurung diri di resort.


"Lagipula apa gunanya menyiakan stok makanan di dapur kalau tidak di masak." Tambahnya lagi.


Celina masih bersender di sofa sambil menonton siaran televisi.


Mereka sedang berada di ruang keluarga.


"Kalau begitu tunggu disini. Aku akan memasak untukmu."


Vano mengecup kening Celina sebelum beranjak dari duduknya.


"Memangnya bisa memasak.?' Tanya Celina ragu.


Vano menoleh, melempar senyum dan mengangguk yakin sebagai jawaban.


"Kamu pasti akan menyukainya." Katanya sambil berlalu ke dapur.


Celina hanya diam setelahnya. Dia tetap duduk santai dan membiarkan Vano berperang dengan peralatan dapur.


Sudah 20 menit berlaku, harum masakan sudah mulai tercium sampai ke tempat bersantai Celina.


Aromanya mengundang Celina untuk segera mencicipi masakan buatan suami tampannya yang mempesona.


Baru saja beranjak dari sofa, Celina harus kembali lagi ke tempat semula karna mendengar dering ponsel.


Dia menatap ponsel Vano yang dibiarkan di atas meja. Sebuah panggilan masuk ke ponsel itu.

__ADS_1


Celina bergegas mengambilnya untuk diberikan pada Vano.


Dari nama kontak yang tertera, panggilan itu berasal dari asisten pribadinya.


Celina tidak berniat menjawabnya karna merasa tidak punya hak.


"Ada telfon,,," Kata Celina sembari menyodorkan ponsel pada Vano meski jaraknya masih terbilang jauh.


Vano baru menoleh, tapi ponselnya tidak lagi berbunyi.


"Sepertinya di matikan,," Kata Celina.


Dia tetap berjalan menghampiri Vano untuk menyerahkan ponsel itu, namun foto pada wallpaper ponsel Vano membuat Celina menghentikan langkah.


Hatinya seketika terasa sakit.


Celina tau ini berlebihan, tapi dia tidak bisa mengontrol perasaannya. Tiba - tiba saja hatinya seperti di remas.


Apa salah jika cemburu pada mendiang istri suaminya.?


Tidak, mungkin bukan seperti itu kata - kata yang tepat.


Apa wajar jika masih memasang foto mendiang istri disaat telah memiliki istri lagi.?


Hal itu yang membuat Celina cemburu dan merasakan sakit hati.


Seolah keberadaannya tidak di hargai.


Foto yang memperlihatkan keluarga bahagia. Senyum lebar mengembang di bibir ketiganya.


Naura masih sangat kecil di foto itu. Usianya sekitar 1 tahun lebih.


"Ponselmu." Kata Celina sambil menyerahkan ponsel itu tanpa menatap Vano.


"Foto yang bagus." Pujinya dengan senyum kecut.


Celina langsung duduk di depan meja makan dengan santai. Memainkan jari - jarinya di atas meja.


"Apa masih lama matangnya.? Aku sudah mengantuk." Ujarnya lagi.


Vano masih diam mematung. Menatap layar ponselnya yang menyebabkan sikap Celina berubah seketika.


Dia lupa untuk mengganti wallpaper di ponselnya.


Foto itu terlalu berarti, membuat Vano selalu menggunakannya sebagai wallpaper di ponselnya sekalipun berganti ponsel.


Wallpaper yang sudah dia gunakan lebih dari 2 tahun sejak 3 hari kematian istrinya.


Vano terlihat ragu untuk menggantinya, dia menyimpan ponsel itu lebih dulu dalam saku celananya, kemudian bergegas menghampiri Celina.


"Aku lupa menggantinya." Tutur Vano. Dia menatap bingung karna Celina terlihat acuh meski dia sudah duduk di sampingnya dan mencoba bicara dengannya.


"Untuk apa di ganti."


"Aku memuji bagus, bukan jelek." Ujarnya datar.


Sikap tenang yang di tunjukan Celina, menyimpan kekecewaan yang sulit untuk dia ungkapkan.


Mungkin Celina bisa leluasa marah - marah pada Vano jika pemilik foto itu masih hidup.


Tapi akan terlihat menyedihkan saat dia harus marah - marah mempersoalkan foto seseorang yang telah tiada.


Disini hanya butuh kesadaran Vano yang seharusnya mengubah foto itu sejak lama.


Tepatnya sejak Vano memohon padanya untuk meminta maaf dan memintanya untuk di jadikan istrinya.


Jika dia masih mengenang foto itu, lalu apa arti dari perjuangannya selama ini untuk menjadikan Celina sebagai istrinya.


Celina patut meragukan perasaan Vano, atau meragukan posisinya yang mungkin saja tak berarti.


"Aku minta maaf, aku benar - benar lupa menggantinya." Vano masih berusaha membujuk Celina agar memberikan maaf untuknya.


"Lupa setelah 3 bulan usahamu untuk menikahiku, dan 2 minggu setelah pernikahan."


Celina menatap Vano dan tersenyum sinis.


"Sepertinya bukan lupa, memang sengaja membiarkan foto itu terpajang indah di ponselmu."


Ucapnya penuh penekan.


Celina beranjak dari duduknya. Dia mengambil piring dan menuangkan nasi goreng yang baru saja di masak oleh Vano.

__ADS_1


Dia memakannya tanpa memperdulikan Vano yang masih terus membujuknya.


__ADS_2