Pesona Sang Duda

Pesona Sang Duda
Bab 57


__ADS_3

Celina bergegas keluar kamar setelah mandi dan mengeringkan rambutnya, juga menutupi kiss mark di lehernya menggunakan foundation.


Saat membuka mata, dia hampir syok melihat tubuhnya yang hanya berbalut selimut. Tapi setelah itu ingatannya muncul tentang pernikahannya dengan Vano dan kegiatan panas mereka semalam.


Kegiatan panas itu meninggalkan jejak di di leher dan dadanya. Celina hanya menggelengkan kepala melihat tanda cinta yang dibuat oleh Vano dengan rasa yang menggebu.


Kini, dia mencari keberadaan Vano yang tidak muncul di hadapannya sejak membuka mata. Tidak tau kemana perginya laki - laki mesum itu.


Celina langsung menuju kamar yang di tempati oleh Naura. Dia menutup pintu kembali karna tidak melihat Vano di sana. Naura bahkan masih tertidur pulas.


"Non Celin cari Tuan Vano.?" Tanya wanita paruh baya yang baru saja naik ke lantai dua.


Celina menjawabnya dengan anggukan.


"Apa dia pergi.?" Tanyanya kemudian.


"Iya Non, Tuan sedang pulang kerumahnya. Katanya akan segera kembali." Jawabnya menjelaskan.


Celina mengangguk paham.


"Kamu sudah bangun,," Mama menghampiri Celina.


"Ya, baru saja."


"Apa semalam Naura tidur sendiri.?"


Celina penasaran dengan hal itu. Pasalnya tadi malam Naura tidak mau di tinggal. Putri sambungnya itu memintanya untuk tidur bersama.


Permintaan Naura tentu saja langsung di setujui oleh Celina yang saat itu memang sengaja ingin menghindari malam pertama.


Sayangnya saat akan memejamkan mata, Mama masuk kedalam kamar dan menyuruhnya untuk kembali ke kamarnya.


Mama sampai memberikan nasehat, menyuruh Celina agar bersikap dan mengurus suami dengan baik.


Dengan perasaan terpaksa, akhirnya harus masuk ke sangkar yang berisikan singa.


Jadi tidak heran kalau semalam langsung di terkam saat baru masuk kedalam kamar.


Singanya terlalu buas.


"Mama menemaninya sampai dia tidur." Mama mengembangkan senyum bahagia.


"Naura membuat rumah ini jadi berwarna. Semoga kalian akan tetap tinggal disini bersama kami."


"Mama dan Papa jadi punya hiburan."


Celina bisa melihat ketulusan sang Mama dari cara bicara dan tatapan matanya. Dia terlihat sangat menyayangi Naura layaknya cucu kandung sendiri. Sedikitpun tidak mempermasalahkan tentang status Naura yang hanya cucu sambungnya.


Pesona Naura memang mampu membuat siapa saja yang melihatnya langsung menaruh perasaan sayang. Gadis kecil itu terlalu cantik dan menggemaskan. Begitu juga dengan sifat dan tingkahnya yang mampu membuat orang tertawa.


Naura seperti cerminan daddy nya yang memiliki pesona dan daya tarik tersendiri. Ketampanan dan kharismanya digilai oleh semua kaum hawa.


Itu yang membuat Vano selalu merasa berada di puncak. Karna merasa jika wanita akan mudah bertekuk lutut padanya hingga enggan menghargai mereka.


"Ya, kami akan tinggal di sini." Ujar Celina dengan senyum yang mengembang. Mama terlihat senang mendengarnya.


"Mama mau memandikan Naura. Apa Naura belum bangun.?" Tanyanya sambil melirik ke pintu kamar Naura.

__ADS_1


"Tadi masih tidur. Sepertinya dia akan betah tinggal disini."


"Rumah ini lebih ramai, ada Oma dan Opanya juga disini yang menyayanginya." Tutur Celina.


"Terima kasih Mama sudah mau menerima Naura. Selama ini dia memang membutuhkan kasih sayang dan perhatian dari keluarga yang lengkap."


Celina ikut merasakan kebahagiaan Naura.


Tidak bisa di pungkiri, sejak datang ke rumah dan di perkenalkan pada Oma dan Opanya, raut wajah Naura seketika berbinar. Dia terlihat sangat bahagia mendapatkan anggota keluarga baru.


"Tentu saja Mama dan Papa menerimanya. Bagaimanapun, Naura juga cucu kami." Mama memberikan usapan lembut pada punggung Celina.


...*****...


Hingga selesai sarapan, Vano tak kunjung kembali. Naura bahkan sudah bermain dengan Oma dan Opanya 1 jam yang lalu di taman belakang.


Celina hanya menatap mereka dari kejauhan. Kini kedua orang tuanya memiliki waktu luang di hari minggu untuk bermain dengan Naura.


Biasanya mereka akan tetap sibuk sekalipun weekend.


"Kenapa melamun.?" Tiba - tiba kedua tangan besar melingkar di perutnya dari arah belakang. Celina menoleh, wajahnya hampir saja bersentuhan dengan wajah Vano yang meletakan dagu di pundaknya.


"Kamu sudah makan.?" Tanya Vano kemudian.


"Lepas, ada Mama dan Papa." Celina melepaskan diri dari pelukan Vano. Dia malu jika di pergoki oleh kedua orang tuanya tengah di peluk oleh Vano.


"Tapi aku ingin memeluk kalian." Sahut Vano. Dia terus mendekat pada Celina karna ingin memeluknya lagi.


"Iisshh,, jangan macam - macam."


Gadis kecil itu sempat merengek mencari keberadaan Vano. Beruntung Omanya bisa menenangkan Naura.


"Oke, tapi jawab dulu pertanyaan ku."


"Kamu sudah makan.?"


Celina menjawab dengan anggukan.


"Bagaimana dengan susu dan vitamin. Apa sudah meminunnya.?" Vano bertanya dengan penuh kelembutan dan perhatian. Dia tidak ingin membuat Celina melewatkan harinya tanpa meminum susu dan mengkonsumsi vitamin.


Belajar dari pengalaman ketika 3 bulan yang lalu Celina harus di rawat karna kandungannya lemah, Vano tidak ingin hal itu sampai terulang lagi. Meski dulu penyebabnya karna faktor stres dan tertekan, setidaknya dengan meminum susu dsj mengkonsumsi vitamin, kandungan Celina akan semakin kuat. Bayi dalam kandungannya juga akan berkembang dan tumbuh dengan baik.


"Kamu melewatkannya.?" Tanya Vano. Dia bisa membaca dari raut wajah Celina yang terlihat bengong karna melupakan hal itu.


"Iya,," Celina menjawab singkat.


"Kalau begitu aku akan membuatkan susu dan mengambil vitamin dulu untukku. Aku akan temui Naura nanti."


"Duduk disini." Vano merangkul pundak Celina, menuntunnya mendekati sofa dan menyuruhnya duduk di sana.


"Tunggu disini, aku akan segera kembali." Katanya dengan tatapan teduh.


"Vitaminnya ada di kamar. Di dalam laci." Seru Celina saat Vano baru saja beranjak. Vano menoleh dan mengangguk lembut dengan seulas senyum.


"Kenapa tidak sejak awal sikapmu seperti ini." Gumam Celina dnegan senyum getir.


Dia bisa merasakan perbedaan sikap Vano pada awal bertemu dan setelah tau kehamilannya. Perbedaan sikapnya bagaikan bumi dan langit.

__ADS_1


"Apa kamu sengaja bersikap dingin agar semua wanita tidak semakin tergila - gila padamu." Celina kembali mengukir senyum setelah berfikir seperti itu.


Jika di pikir - pikir, dugaan Celina mungkin ada benarnya.


Bayangkan saja, berapa banyak wanita yang akan mengejar dan mengemis cinta pada Vano jika menunjukan sikap semanis itu pada semua wanita.


Sedangkan, selama ini sudah banyak wanita yang rela melempar tubuhnya di atas ranjang Vano dengan cuma - cuma. Padahal saat itu sikap Van9 terlampau dingin dan kejam.


Dia memperlakukan wanita tanpa perasaan dan hanya menganggap wanita sebagai pemuas semata.


Lalu apa yang harus Celina rasakan saat ini.? Bersyukur dan senang karna tau bahwa Vano tidak seburuk yang dia kenal dulu. Atau kecewa karna baru menunjukan sifat aslinya setelah membuatnya terluka.


"Minum dulu susunya." Vano menyodorkan gelas berisi susu pada Celina.


"Tidak panas, hanya hangat saja. Jadi harus segera di habiskan." Jelasnya.


Celina menerima susu itu dan meminumnya tanpa sisa. Hal itu membuat Vano tersenyum lega.


Meski Celina belum banyak bicara padanya, tapi sikap Celina sudah jauh lebih baik.


"Itu vitaminnya." Vano menunjuk vitamin di atas meja yang baru saja dia taruh. Di sana juga ada air mineral yang tadi dia bawa.


"Aku akan menemui Naura dulu." Vano beranjak dari duduknya. Dia membungkuk dan mendaratkan kecupan di kening Celina.


"Morning kiss." Katanya sambil tersenyum.


"Harusnya disini." Vano meletakan telunjuk di bibir Celina. Bagian yang sebenarnya ingin dia cium.


"Tapi kamu pasti akan memukulku kalau akau mencium bibir mu di tempat terbuka." Ujarnya menahan tawa.


Celina hanya diam saja. Dia masih tidak percaya dengan perlakuan manis Vano yang mampu menggetarkan hati dan membuat jantungnya berdebar kencang.


Vano akan beranjak dari hadapan Celina, tapi satu tangannya di tahan olehnya.


Vano menoleh, menatap bingung ke arah Celina.


"Kenapa.?" Tanya Vano hati - hati. Dia takut Celina marah padanya.


"Kamu melewatkannya." Ucap Celina sambil menunduk menatap perutnya.


Senyum Vano seketika merekah. Perasaan bercampur aduk saat Celina memintanya untuk mencium anak mereka yang masih berada di dalam perut.


Tanpa berfikir lama, Vano langsung berjongkok di depan Celina. Dia menundukkan wajah agar sejajar dengan perut Celina.


"Maafkan Daddy. Mommy mu terlalu mempesona, Daddy jadi lupa menciummu."


Satu kecupan mendarat di perut Celina.


Setelah itu keduanya saling menatap.


Cinta saling bersambut. Rasa mulai menyatu. Kebahagiaan menanti di setiap waktu yang akan mereka lalui bersama.


...***...


Makasih votenya 😭 terhura. eh terharu.


Maaf baru up 🙏

__ADS_1


__ADS_2