Pesona Sang Duda

Pesona Sang Duda
Bab 60


__ADS_3

"Kenapa tiba-tiba menempel seperti ini.?" Vano melirik tangannya yang sedang di dekap erat oleh Celina.


Sikap Celina tiba - tiba berubah setelah kehadiran laki - laki yang tadi duduk di samping istrinya itu.


Vano paham betul kalau sikap istrinya masih dingin padanya sekalipun sudah mulai membuka hati kembali padanya.


Tapi tiba - tiba menunjukan sikap hangat, seolah ingin menunjukkan kemesraan di depan orang yang dia benci.


"Memangnya tidak boleh memeluk lenganmu.?" Celina balik bertanya dengan sedikit ketus


Dia langsung melepaskan lengan Vano begitu saja.


Merasa kesal karna Vano seolah sedang memberikan protes atas sikapnya.


Tidak salah memang jika Vano menanyakan hal itu. Karna memang seperti itu kenyataannya.


Hanya saja kehamilan membuat Celina sedikit sensitif pada Vano.


Terkadang bisa luluh dengan perlakuan lembut Vano, tapi tak jarang merasa jengkel seklipun Vano tidak berbuat salah padanya.


Entah hormon kehamilan yang sudah menyebabkan sikap Celina seperti itu, atau dia memang masih menyimpan kekesalan pada Vano dan melampiaskannya.


"Jangankan lenganku, seluruh tubuhku bahkan bebas kamu peluk." Vano sedikit bercanda membalasnya. Dia tau mood istrinya sedang buruk, jadi tidak mau membuatnya semakin kesal.


"Tapi,,,," Vano menggantungkan ucapannya. Dia merengkuh mesra pinggang Celina dan menariknya untuk mendekat.


"Tapi apa.?!" Seru Celina.


"Jangan memelukku hanya untuk membuat mantan kekasihmu cemburu." Vano berbisik dengan menegaskan kalimatnya.


Celina terkejut mendengarnya. Dia sampai menghentikan langkah dan menatap Vano penuh selidik.


Tentu saja Celina di buat penasaran karna Vano tau jika Adrian adalah mantan kekasihnya.


"Kenapa.?" Tanya Vano.


"Tidak perlu terkejut seperti itu." Vano mengusap gemas wajah Celina sembari menahan tawa.


"Bukan cuma kamu yang pernah muda, aku juga pernah muda sepertimu."


"Sikapmu pada laki - laki itu jelas terbaca kalau dulu kalian memiliki hubungan dan berakhir buruk."


Tutur Vano menjelaskan.


Celina hanya diam, memilih untuk mengalihkan pandangan ke pantai.


"Lain kali bilang padaku kalau ingin membuat seseorang cemburu."


"Aku pasti akan membantu dengan cara memeluk dan menciummu didepan laki - laki berandalan itu."


"Iiisshh,,,!" Celina mencubit pinggang Vano.


"Berhenti membahas hal tak penting itu." Pintanya.


"Aku mau minum air kelapa muda,," Celina menunjuk salah satu orang yang sedang menyeruput air kelapa langsung dari buahnya.


Warna kelapa yang hijau, terlihat menyegarkan di tenggorokannya.


"Apapun yang kamu mau, aku akan memberikannya selagi masih bisa di jangkau."


Sahut Vano cepat.

__ADS_1


"Dengan senang hati aku akan memnelikannya untukmu,,"


Celina bergidik ngeri mendengarkan ocehan Vano yang terdengar menggelikan di telinganya.


"Ya ampun, kenapa semakin lama kamu terlihat semakin tidak waras." Cibir Celina dengan menggelengkan kepalanya.


Memang Celina tidak menyukai sikap dingin dan acuh yang dulu di perlihatkan Vano padanya saat awal bertemu. Tapi dia lebih tidak menyukai sikap Vano yang tebilang berlebihan atau lebay dalam bahasa gaulnya.


Vano sama sekali tidak cocok bersikap seperti itu.


Fisiknya sama sekali tidak mendukung untuk menjadi laki - laki yang kelewat bucin pada Celina.


"Tidak waras.?" Tanya Vano dengan dahi mengkerut.


Vano merasa sikapnya masih wajar dan normal. Tidak tau kalau terlihat sangat berlebihan dan menggelikan bagi Celina.


"Berhenti bersikap berlebihan seperti itu, aku tau kamu cinta dan tergila - gila padaku, tapi tidak perlu lebay." Celina bicara dengan percaya diri.


"Ayo belikan kelapa mudanya." Pinta Celina sedikit merengek. Dia mendorong Vano, membawanya ke tempat penjual kelapa muda.


"Lalu aku harus bersikap seperti apa.?" Tanya Vano.


Setelah sejak tadi terdiam karna memikirkan ucapan Celina, kini Vano bertanya agar nantinya dia bisa bersikap wajar seperti pandangan Celina.


Celina menatap sekilas, tapi tidak langsung menanggapi ucapan Vano karna sedang meminum air kelapa di tangannya.


"Jangan berlibah, ucapanmu membuatku geli." Sahut Celina kemudian.


"Mau.?" Katanya sembari menyodorkan buah kelapa pada Vano.


"Tidak, habiskan saja."


"Bukankah air kelapa bagus untuk kandunganmu."


"Tapi aku mau lihat kamu meminumnya juga." Celina terus saja menyodorkan kelapa itu di depan Vano.


"Ada apa ini.?" Tanya Vano heran. Celina begitu memaksanya untuk ikut meminum kelapa muda.


"Ayo buruan." Seru Celina. Dia tidak sabaran karna Vano tak kunjung mengambil kelapa itu dari tangannya.


Vano langsung mengambil kelapa itu sebelum Celina mengeluarkan tanduk.


"Baiklah, aku akan meminumnya."


Vano langsung menyeruputnya sampai habis. Tidak menyangka akan sesegar itu meminum air kelapa muda di tepi pantai dengan cuaca yang sudah mulai panas.


"Kenapa lama sekali.?" Protes Celina.


"Sini berikan padaku,,"


Vano melongo begtiu Celina mengambil paksa kelapa yang sudah kosong itu.


"Mau apa.? Airnya sudah habis." Tutur Vano.


Kedua bola mata Celina membulat sempurna. Wajahnya tiba - tiba memerah dan terlihat marah menatap Vano.


"Kenapa di habiskan.?!" Rengek Celina. Matanya berkaca - kacakaca menahan tangis.


"Tapi kamu sendiri yang menyuruhku minum." Jawab Vano bingung.


"Iya tapi bukan berarti di habiskan." Sungut Celina geram. Setelah itu dia menangis.

__ADS_1


Vano semakin kebingungan di buatnya, mau menenangkan Celina tapi dia tidak mau di sentuh.


"Sudah jangan menangis, aku akan memnelikannya lagi untukmu." Vano beranjak dari duduknya, berniat untuk membelinya lagi.


"Tidak mau yang baru, aku mau yang ini." Celina terus merengek.


Vano menatap frustasi. Dia tidak tau harus berbuat apa untuk menghadapi sikap Celina yang menurutnya tidak wajar.


Celina baru saja mengatakan jika Vano bersikap berlebihan, tapi kini Celina bersikap tidak wajar di mata Vano.


...*****...


Vano menyusul Celina ke lantai 2. Istrinya itu masih saja marah dengan mendiamkannya sejak masih berada di pantai.


"Sayang,,," Panggil Vano lirih.


Celina hanya diam, menatap hamparan laut dari balkon resort


Vano masih berjuang untuk membujuk Celina agar tidak marah lagi padanya.


"Jangan mendiamkanku lagi,," Pintanya. Dia memeluk Celina dari belakang.


"Aku minta maaf."


"Hemm,,," Celina hanya berdehem pelan. Dia tidak memberikan penolakan meski Vano memeluknya.


"Kamu tidak menelfon Naura.?" Tanya Celina.


"Nanti saja. Ini jam tidur siang Naura."


"Kamu juga harus istirahat."


Vano menggiring Celina untuk turun ke lantai 1.


"Sepertinya Papa dan Mama sudah berubah." Gumam Celina. Ada gurat bahagia di bibirnya.


Vano langsung terdiam. Dia menatap Celina yang tiba - tiba membicarakan tentang kedua orang tuanya.


"Tidak biasanya mereka mau meluangkan waktu di rumah. Apalagi untuk sekedar menemani ku."


"Kehadiran Naura membuat mereka mau menghabiskan banyak waktu di rumah, tidak melulu memikirkan pekerjaan."


Sambung Celina lagi.


Dia sudah melihat perubahan kedua orang tuanya sejak menikah dan memutuskan untuk tinggal 1 rumah dengan mereka.


Papa dan Mamanya jadi memiliki banyak waktu luang. Bahkan mereka tidak lagi membahas pergi ke luar negeri.


"Mungkin mereka sudah lelah dengan pekerjaannya." Sahut Vano.


"Mereka juga butuh istirahat dari kesibukan yang tidak ada habisnya."


"Apa kamu juga akan seperti mereka nantinya.?"


"Sibuk dengan pekerjaan, pergi keluar negeri setiap bulan.?" Tanya Celina dengan kekhawatiran di sorot matanya.


"Tidak. Aku akan banyak meluangkan waktu untuk istri dan anak anakku." Vano memeluk Celina, mengusap lembut punggungnya dan mendaratkan kecupan di keningnya.


...****...


Maaf up singkat🙏.

__ADS_1


cuma buat absen aja dr pda gak up sama sekali😁.


dari pagi banyak kerjaan.


__ADS_2