
Vano terus menggenggam tangan Celina sembari menyetir. Sesekali melirik iba pada istrinya yang terus menatap kosong pada jalanan.
Kenyataan yang dia hadapi memang tidak mudah untuk diterima, meskipun sejak awal mengaku tidak selemah yang orang lain pikirkan.
Karna apapun yang sudah menyangkut tentang hidup orang tua, sekuat apapun hati seorang anak, pasti akan menjadi rapuh.
Kerapuhan yang tidak pernah dirasakan sebelumnya.
Karna tidak ada cobaan yang lebih berat untuk merelakan orang yang telah membuat kita terlahir ke dunia ini dan merasakan indahnya hidup.
"Masih ada operasi terakhir yang bisa di lakukan."
Tutur Vano lirih. Suaranya begitu berat karna ikut sakit melihat istrinya yang terus melamun. Seperti raga tanpa jiwa.
Celina mulai merespon. Perlahan menoleh untuk menatap Vano. Tapi masih dengan tatapan yang sama. Kosong dan menerawang jauh.
"Papa tidak mau melakukannya karna dia tau jika operasi itu akan mengalami kegagalan 95 persen, dan sisanya bisa selamat."
Vano menarik nafas dalam. Dia tidak tega untuk mengatakan lebih jauh lagi namun bagaimana pun Celina harus tau separah apa kondisi Papa Adiguna.
"Papa masih ingin punya banyak waktu melihat keluarganya bahagia, dibanding memilih untuk operasi yang kemungkinan bisa merenggut nyawanya setelah itu."
Vano semakin erat menggenggam tangan Celina, kemudian memberanikan diri untuk melihat matanya.
Air mata yang awalnya hanya menggenang di sudut mata, kini tumpah membasahi pipi.
Bagaimana Celina bisa menerima penjelasan itu tanpa menangis. Sedangkan hatinya terasa di cabik - cabik mendengarnya.
"Mama sudah membujuk, tapi Papa bersikeras menolaknya.“
"Setelah Papa pulang dari rumah sakit dan kondisinya membaik, kamu bisa membujuk Papa agar mau melakukan operasi itu."
"Karna aku dan Dion tidak punya hak untuk meminta Papa menyetujui operasinya."
"Setidaknya ada usaha yang di lakukan, daripada tidak melakukan apapun dan hanya menunggu waktu itu tiba."
"Tidak ada yang tidak mungkin sekalipun dokter mengatakan hanya 5 persen kemungkinan operasinya berhasil."
"Papa itu kuat, bisa bertahan selama ini."
"Rasanya tidak mungkin Papa akan menyerah setelah melakukan operasi."
...****...
Sejak pulang dari rumah sakit sore tadi, Celina terus berdiam diri dalam kamar.
Vano hanya mengantar Celina ke kamar, setelah itu membiarkan istrinya sendirian untuk menenangkan pikirannya.
Saat ini Celina menang butuh waktu untuk sendiri.
Dia harus bisa berfikir jernih agar nantinya bisa mengambil keputusan yang tadi dibicarakan oleh Vano saat dalam perjalanan.
Dan sejak sore, Vano harus mengurus Naura yang terus menanyakan keberadaan Oma dan Opanya.
Naura juga meminta untuk bertemu dengan Celina, namun Vano hanya bisa memberikan pengertian pada Naura jika saat ini Celina sedang istirahat.
"Naura duduk dulu disini." Vano mendudukkan Naura di depan meja makan.
"Daddy mau panggil Mommy dulu,," Tuturnya sembari mengecup kening Naura.
Gadis cantik itu mengangguk patuh.
Vano bergegas ke kamar, dia meninggalkan Naura seorang diri di meja makan meski dalam pengawasan Ida.
Vano menarik nafas dalam sebelum menghampiri Celina yang tengah berdiri di balkon.
Kepala Celina sedikit mendongak, menatap langit hitam yang dihiasi bintang dan rembulan yang bersinar redup.
"kamu tidak dingin.?" Tanya Vano. Kedua tangannya langsung menyusup di antara pinggang Celina untuk memeluknya dari belakang.
Celina hanya memakai dress tipis selutut tanpa lengan.
Membiarkan sebagian kulitnya terkena angin malam yang berhembus teratur.
Celina menoleh sekilas. Mengulas senyum tipis pada Vano, kemudian kembali menatap hamparan langit.
__ADS_1
Perasaannya masih kacau. pikirannya seakan buntu. Celina tidak tau harus berbuat apa untuk kesembuhan sang Papa.
Sejujurnya dia takut untuk menyuruh Papa Adiguna menjalani operasi terakhir, takut jika operasi itu akan gagal dan nantinya hanya akan menimbulkan penyesalan serta rasa bersalah yang mungkin tidak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya.
Karn akan berfikir jika dirinya yang sudah mengantarkan nyawa sang Papa.
"Kamu boleh sedih, boleh menangis, boleh mengurung diri seperti ini. Aku juga pernah berada di posisi itu dan melakukan hal yang sama."
"Tapi kamu harus ingat, sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, apa lagi ada kehidupan di dalam sini."
Vano mengusap perut Celina penuh cinta, tapi di sertai kekhawatiran.
Dia takut kesedihan Celina yang berlebihan akan berpengaruh pada anak mereka.
"Baby Boy bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Mommynya. Dia ikut sedih kalau kamu sedih."
"Kamu tau, tidak baik membiarkan dia terus sedih selama di dalam kandungan."
Vano bertutur kata dengan lembut. Terdengar sangat bijak dan penuh perhatian pada istri dan anak yang masih berada di kandungan Celina.
Celina berbalik badan. Kali ini dia yang memeluk Vano. Membenamkan wajahnya di dada bidang Vano.
Jika saat ini tidak ada Vano dan anak yang ada didalam perutnya, mungkin Celina tidak akan bisa sekuat ini menerima kenyataan pahit dalam hidupnya.
Pikirannya pasti lebih kacau,dan kondisinya mungkin lebih menyedihkan lagi dari ini.
Mendengar kabar jika usia orang tuanya tidak akan lama lagi, tentu saja membuat jiwanya terguncang.
"Aku harus bagaimana.?" Tanya Celina sambil terisak.
"Aku tidak mau Papa meninggalkan kami."
"Jika aku dan Mama juga hancur, lalu bagaimana caranya menjalani hidup.?"
Tangis Celina semakin pecah. Pelukannya semakin erat.
Kehilangan orang tua adalah takdir paling menakutkan. Bahkan sebagian orang tidak akan sanggup walau hanya membayangkannya.
"Aku memintamu agar tidak terlalu sedih, tapi malah semakin menangis seperti ini."
Vano menarik nafas dalam.
...****...
Siang itu, Celina terlihat menunggu kepulangan Papa Adiguna dari rumah sakit.
Dia tengah duduk di ruang keluarga bersama Naura.
Sedangkan Vano sudah berangkat ke kantor sejak 3 jam yang lalu karna harus menghadiri rapat yang tidak bisa dia tunda lagi setelah kemarin meninggalkan ruang rapat begitu saja.
"Opa, Oma,,," Teriak Naura.
Matanya berbinar melihat Opa dan Omanya kembali ke rumah.
Naura langsung berlari menghampiri mereka dan memeluk Opanya.
"Naura mau gendong, Opa,," Rengeknya.
Papa Adiguna tersenyum lebar sejak Naura menyambutnya pulang.
Naura seperti memberikan energi tersendiri untuknya.
"Baiklah,," Jawab Papa Adiguna dengan senyum lebar. Dia sedikit membungkuk untuk mengangkat Naura, namun langsung di larang oleh istrinya.
"Jangan membuat ulah, kamu baru pulang." Tegurnya. Mama tidak setuju kalau Papa Adiguna langsung menggendong Naura sedangkan kondisinya masih lemah.
"Naura gendong sama Oma saja yah.?" Tawarnya sembari mengulurkan kedua tangannya di depan Naura.
Untung saja Naura tidak menolak. Dia langsung menghampiri Omanya.
"Yeayy gendong Oma,," Seru Naura senang. Dia mengalungkan tangannya di leher Omanya.
Celina sejak tadi hanya diam. Berdiri menghadap mereka dan memperhatikan mereka yang sedang berjalan ke arahnya.
Supir pribadi Papa Adiguna tengah menuntunnya dengan hati - hati.
__ADS_1
Jelas sekali kalau kondisi Papa Adiguna memang sangat lemah.
"Pah,,," Panggil Celina lirih.
Sejak tadi dia ingin memanggil Papa nya, namun lidahnya terasa kelu.
Sesak di dadanya terasa menghimpit.
Tidak sanggup melihat wajah sang Papa.
"Kamu kenapa.?"
Papa Adiguna menatap bingung melihat wajah putrinya yang sendu. Dia belum diberi tau kalau Celina sudah mengetahui penyakitnya.
Mama memang sengaja belum memberitaunya karna menunggu kondisi Papa Adiguna membaik.
Celina menggelengkan kepalanya. Dia berjalan mendekat dan langsung memeluk sang Papa.
"Apa Papa sudah tua.? Kenapa sampai masuk rumah sakit hanya karna kelelahan."
"Sebentar lagi Papa akan punya 2 cucu. Papa harus kuat agar bisa bermain dengan cucu - cucu Papa."
Celina melepaskan pelukannya, kemudian tersenyum lebar.
"Lusa aku akan ke rumah sakit untuk periksa kandungan."
"Papa dan Mama harus ikut untuk melihat cucu kalian yang tampan."
Seru Celina.
Dia terus membicarakan tentang bayi yang ada didalam kandungannya. Berharap sang Papa akan bahagia dan semangat untuk bertahan hidup agar bisa melihat cucunya lahir ke dunia.
Saat di rumah sakit, Celina juga terus menceritakan tentang perkembangan anak yang ada di dalam kandungannya. Celina masih ingat senyum lebar Papa Adiguna yang begitu bahagia saat mendengarkannya bercerita.
"Tentu saja. Papa tidak sabar ingin melihat wajahnya lebih jelas."
Mereka duduk dan kembali memulai obrolan ringan. Baik Celina maupun Mama, mereka sengaja tidak membahas soal penyakit yang tengah di derita Papa Adiguna.
"Apa yang kalian bicarakan.?"
Vano langsung berjalan cepat menuju ruang keluarga.
Suara tawa yang terdengar menggelitik, membuat Vano penasaran.
Tawa mereka seketika terhenti. Kini kompak menatap Vano yang baru saja pulang.
"Kamu sudah pulang.?" Tanya Papa.
Dia melirik arloji di tangannya yang baru menunjukan pukul 11 siang.
"Ya, hanya rapat saja." Jawab Vano.
Dia lantas duduk di samping Celina, dengan riat wajah yang masih penasaran.
"Apa ada yang lucu.?" Tanyanya lagi.
Dia menatap mereka yang terlihat masih menahan tawa.
"Sepertinya putrimu sudah dewasa." Ujar Celina.
"Naura bilang, dia ingin menikah dengan Leo."
Celina langsung menahan tawanya. Dia tau kalau Vano tidak akan suka mendengarnya.
Vano langsung terdiam. Raut wajahnya terlihat tertekan setelah mendengar penuturan Celina.
Kini dia hanya bisa melongo menatap Naura yang justru terkekeh.
"Aku harus menjodohkan Naura dengan rekan bisnisku. Jangan sampai aku berbesanan dengan Dion.!"
Ujarnya dalam hati.
...****...
... ini pada kemana votenya.? 😁...
__ADS_1