Pesona Sang Duda

Pesona Sang Duda
Bab 81


__ADS_3

"Maaf, aku duluan." Pamit Keyla pada Celina begitu keluar dari bioskop.


"Leo mencari ku." Tuturnya beralasan.


"Loh,, kenapa tidak pulang dengan kak Dion.?" Tanya Celina. Dia melihat Keyla hendak pergi sendiri.


"Aku naik taksi saja, biar cepat."


"Di, Vano, aku pulang dulu." Keyla juga pamit pada Dion dan Vano, lalu pergi begitu saja dengan buru - buru.


"Ada apa dengan kak Keyla.?" Gumam Celina dengan wajah bingung.


"Mana aku tau.!" Ketus Vano.


"Ayo pulang, aku mau menagih janji." Ujarnya sembari menggandeng tangan Celina dan membawanya pergi tanpa memperdulikan Dion.


"Kak Dion, kami pulang dulu." Celina sedikit berteriak karna jarak dia dan Dion semakin menjauh.


Laki - laki itu hanya memberikan anggukan kecil, namun terus menatap kepergian Celina dan Vano.


"Sayang, kamu itu tidak sabaran sekali." Protes Celina.


"Lalu sikapmu dengan kak Dion, kenapa masih dingin begitu.?"


Celina tidak habis pikir dengan suaminya yang terlihat masih kesal pada Dion. Vano selalu tidak menganggap keberadaan Dion. Enggan bertegur sapa, apalagi mengobrol.


Dion seolah orang asing dan musuh bagi Vano, padahal mereka sama - sama di anggap sebagai anak oleh Papa Adiguna.


Seharusnya sikap mereka layaknya saudara.


"Kamu masih tanya kenapa.?" Nada bicara Vano sedikit naik.


"Bukannya aku sudah bilang, Dia itu masih mencintai kamu. Bagaimana bisa aku bersikap baik pada si brengsek itu."


"Masih untung aku tidak melarangnya berada di dekatmu."


Vano melengos kesal setelah mengungkapkan kekesalannya terhadap Dion dengan menggebu - gebu.


"Masih mencintaiku.?" Celina sedikit menahan tawa.


"Jangan bercanda," Dia mencubit gemas lengan Vano.


"Apa tidak ingat saat di Bali ada seorang wanita yang menghampiri kak Dion.?"


"Aku rasa mereka punya hubungan. Kak Dion bahkan tidak sungkan menggandeng tangannya."


"Dulu, jangankan menggandeng, Kak Dion bahkan tidak berani memegang tangan ku."


Celina mengingat kedekatannya dengan Dion yang terbilang tidak seperti pasangan pada umumnya.


Berbeda sekali ketika Dion bersama wanita itu.


"Benarkah.?" Tanya Vano. Ekspresi wajahnya gabungan antara tidak percaya dan senang.


Celina mengangguk cepat.


"Bagus kalau begitu." Ujarnya dengan mengulas senyum tipis.


Mendengar Dion dan Celina tidak banyak melakukan kontak fisik, tentu saja sedikit membuat Vano bernafas lega. Setidaknya vano bisa menjamin kalau mereka berdua tidak melakukan hal yang lebih.


"Sayang.! Pelan - pelan jalannya." Protes Celina kesal.


Vano yang tidak sadar, langsung memelankan langkahnya.


"Maaf sayang, habis tidak sabar untuk memakanmu" Bisik Vano.

__ADS_1


Celina langsung meremang dibuatnya. Pikirannya langsung melayang kemana-mana. Kalau sudah seperti ini, Vano pasti akan membuatnya mende sah tidak karuan.


"Kau ini,,!" Celina kembali mencubit lengan Vano.


"Ingat aku ini sedang hamil, jangan terlalu bersemangat." Katanya mengingatkan.


"Tapi aku selalu hati - hati dan pelan - pelan, kamu saja yang tidak sabar mau di percepat." Sahut Vano.


"Aku tau juniorku membuatmu tidak tahan." Tuturnya lagi.


Kedua mata Celina langsung membulat sempurna. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling, berharap tidak akan ada yang mendengar ucapan Vano.


"Ya ampun El Vano, untung saja tidak ada orang di sekitar kita."


"Kalau bicara jangan asal, lihat situasi dulu." Tegur Celina.


"Junior mu memang membuatku gila sejak malam itu, puas kamu.?!" Puji Celina.


Vano terkekeh geli. Dia ingat tingkah konyol Celina yang langsung menatap juniornya saat di ajak bercin ta.


"Aku tau kamu sangat menyukainya." Bisik Vano sembari mengulum senyum.


...*****...


Dion menghentikan mobilnya di seberang mall.


Dia melihat Keyla yang masih berdiri di tepi jalan sambil memainkan ponselnya dan sesekali menatap mobil yang lewat di depannya.


Dion bisa menebak kalau Keyla masih menunggu taksi yang tak kunjung datang.


Dion menarik nafas dalam, terlihat begitu berat dan sesak.


Setelah itu, mematikan mobil dan keluar menghampiri Keyla.


Suara yang terdengar seperti teguran itu, membuat Keyla menoleh. Dia sedikit terkejut melihat Dion.


"Sampai kapan mau menunggu taksi disini.?"


Suara itu semakin terdengar sinis.


Keyla terlihat menarik nafas dalam. Meski sudah biasa dengan perkataan Dion yang selalu sinis padanya sejak menceritakan semuanya, tapi tetap saja selalu meninggalkan rasa sesak di dada setiap kali Dion berbicara sinis.


"Mereka membatalkan orderan karna macet."


Ujar Keyla memberi tau.


"Aku sedang menunggu taksi ke 3. Lagipula Leo sudah tidur lagi."


"Kenapa belum pulang.?" Tanya Keyla basa - basi.


Dia pikir Dion akan segera pergi untuk menemui wanita itu.


"Aku antar kamu pulang, ayo.!" Seru Dion tegas. Itu bukan tawaran, melainkan paksaan.


"Terimakasih, aku menunggu taksi saja." Tolak Keyla halus.


Dion menatap tajam, terlihat geram mendengar penolakan Keyla.


"Aku mengantar mu karna Leo, jadi tidak perlu berfikir macam - macam." Katanya datar.


Dia tau Keyla menolak ajakannya karna merasa tidak enak padanya.


"Aku tidak berfikir apapun." Sahut Keyla.


"Lalu,,,"

__ADS_1


Dion menghentikan ucapannya setelah mendengar ponselnya berdering.


Dia lantas mengambil ponselnya, kemudian mengangkat panggilan telfon yang masuk di ponselnya.


"Ya, aku sedang di jalan." Seru Dion.


Dia sibuk berbicara di telfon.


"30 menit lagi, disini macet." Dion mematikan sambungan telfonnya.


"Ayo.! Aku tidak punya banyak wak,,,tu,,"


Dia dibuat bengong karna tidak mendapati Keyla disampingnya.


"Kemana dia.?" Gumamnya sembari mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan Keyla.


Dia sama sekali tidak melihat Keyla pergi dari sana karna sibuk berbicara.


Dion menghela nafas kesal sebelum akhirnya meninggalkan tempat itu karna tidak melihat keberadaan Keyla. Dan berfikir jika Keyla sudah naik taksi.


"Kalau benci padaku, kenapa masih peduli." Gumam Keyla sembari menatap Dion dari kejauhan. Laki - laki itu bahkan sudah masuk kedalam mobilnya.


Keyla tidak mengerti dengan jalan pikiran Dion. Dia sadar kalau Dion membencinya, tapi terlihat jelas kalau Dion masih sangat perhatian padanya meski dengan cara yang terlihat dingin dan ketus.


Keyla sengaja pergi dan bersembunyi. Dia tidak mau menghabiskan waktu berdua dengan Dion meski hanya sekedar mengantarnya pulang.


Keyla takut tidak bisa berhenti mencintai Dion jika terus berada di dekatnya.


Dion melajukan mobilnya menuju apartemen wanita yang terus menghubunginya sejak sore.


Raut wajahnya terlihat malas begitu menginjakkan kakinya di depan pintu apartemen itu.


Belum sempat menekankan bel, pintu itu sudah terbuka lebih dulu. Wanita itu sudah pasti tau kalau Dion datang.


"Akhirnya kamu datang,," Tanpa rasa canggung sedikitpun, dia langsung memeluk Dion.


"Jangan seperti ini,," Dion mendorong pelan bahu wanitanya.


"Ayo masuk." Dion masuk begitu saja.


Wanita itu mengulum senyum, lalu menyusul Dion ke dalam.


"Kamu tidak hamil bukan.?" Tanya Dion datar.


Wanita itu sedikit tersentak.


"Mungkin belum, aku juga belum bisa mengeceknya karna baru 3 minggu."


"Aku akan mengeceknya nanti kalau sudah telat haid." Jawabnya berusaha untuk bersikap tenang.


"Kamu mau minum apa.? Aku membeli vodka tadi."


"Mau minum bersama.?" Tawarnya dengan wajah yang menggoda.


"Aku tidak minum." Jawab Dion datar.


Wanita itu tertawa.


"Jangan bercanda. Kamu meniduriku karna mabuk."


"Sekarang kamu bilang tidak minum." Tuturnya sambil terkekeh kecil.


Dion menarik nafas dalam. Ada sedikit kekesalan dan penyesalan dalam raut wajahnya.


Kalau saja malam itu tidak meluapkan kemarahan dengan mendatangi club malam dan menenggak alkohol, mungkin saat ini dia tidak akan berurusan dengan wanita yang ada di hadapannya itu.

__ADS_1


__ADS_2