
Vano hanya bisa melongo melihat Naura masuk kedalam kamar. Ini sudah hari ke 6 Naura masuk ke kamar Celina dan selalu minta tidur bersama mereka.
Rupanya ketakutan Vano akan hal itu benar - benar terjadi. Naura keterusan tidur bersama mereka dan enggan untuk tidur sendiri lagi ataupun tidur bersama Omanya.
"Astaga,," Desah Vano dengan helaan nafas berat. Dia menutup laptop yang sejak 1 jam lalu berada di depannya karna sedang menyelesaikan pekerjaannya.
Padahal sejak tadi sudah menunggu Celina masuk kedalam kamar seorang diri. Tapi yang ada malah datang bersama Naura.
Bagaimana tidak terlihat gusar, pasalnya sejak pulang baby dari moon, Vano belum bisa memuaskan Celina karna kehadiran Naura di kamar mereka.
Entahlah, memuaskan Celina atau memuaskan diri sendiri. Karna Celina tidak pernah memintanya sampai saat ini.
Vano bergegas menghampiri Celina dan Naura yang baru saja naik ke ranjang.
Celina hanya melirik sekilas. Dia sudah tau apa yang akan di katakan oleh Vano. Pasti perkataan yang selalu dia lontarkan pada Naura setiap kali ingin tidur di kamar mereka.
"Naura kenapa tidur di kamar Mommy lagi.?" Vano terlihat tidak suka putrinya kembali tidur di tengah - tengah mereka.
"Naura mau tidur sama Mommy," Hanya itu jawaban yang keluar dari mulut putrinya.
Naura lantas memeluk Celina.
"Sudah biarkan saja." Kata Celina acuh.
"Ya ampun sayang, kamu selalu bilang seperti itu." Keluh Vano.
"Sudah hampir 1 minggu kita tidur dari ujung ke ujung. Kapan aku,,,
Vano langsung diam saat Celina melotot padanya.
" Jangan bicara aneh - aneh di depan Naura." Tegurnya pelan.
"Naura itu anakmu, jangan di permasalahkan kalau dia ingin tidur dengan kita."
Celina tau apa yang membuat Vano begitu gusar setiap kali Naura tidur di kamarnya.
Laki - laki itu sudah biasa tidur sambil memeluknya dari belakang, tapi kini lebih sering memeluk guling ataupun Naura.
Tapi Celina juga tidak bisa menolak permintaan Naura.
"Tapi sayang, ini sudah terlalu lama. Dia bisa karatan," Tutur Vano dengan wajah memelas.
Rasanya tidak sanggup lagi untuk menahan terlalu lama.
Mau mencuri waktu pun tidak pernah bisa.
Siap mengajak Celina untuk mandi pagi bersama, Naura selalu bangun saat Celina beranjak dari ranjang.
Ingin memanfaatkan waktu mandi sore pun tidak pernah bisa. Sejak pulang baby moon, pekerjaan kantor menumpuk, Vano selalu pulang pukul 6 sore.
Dia tidak tega untuk mengajak Celina bergulat di kamar mandi saat sudah menjelang malam.
"Hanya karatan, yang penting masih bisa di pakai nanti." Timpal Celina cuek.
Vano hanya melongo mendengarnya.
"Kamu tega sekali padaku,,"
Wajah Vano seketika cemberut. Dia memilih beranjak dari sana, kembali lagi ke sofa dan melanjutkan pekerjaan yang belum selesai.
Vano meraih botol air mineral di atas meja, air yang baru di minum setengahnya itu, kini di teguk sampai habis.
__ADS_1
Sebelum Celina masuk ke dalam kamar, Vano sudah membayangkan hal mesum yang membuat badannya terasa panas.
Tapa sayangnya malam ini belum berpihak juga padanya.
Naura membuat imajinasi liarnya tidak tersalurkan.
Celina menahan tawa melihat Vano dari kejauhan.
Suaminya itu masih saja terlihat gusar meski sedang duduk di depan laptop.
Hampir 30 menit berlalu, Vano kembali menutup laptopnya dan beranjak ke kamar mandi.
Sedikitpun tidak melirik ke arah ranjang. Pandangannya lurus dengan ekspresi wajah yang tidak bersahabat.
Ternyata, mood Vano bisa hancur karna ulah putrinya sendiri yang secara tidak sengaja sudah membuatnya kehilangan kesempatan untuk bercint* dengan Celina.
Begitu Vano menutup kamar mandi, Celina langsung turun dari ranjang dengan hati - hati agar tidak membangunkan Naura yang baru saja terlelap.
Celina masuk ke walk in closet, dia melepas kain yang melekat di tubuhnya dan hanya menyisakan ce lana da lam saja. Celina mengganti bajunya dengan koleksi lingerie yang ada di lemarinya.
Lingerie transparan berwana maroon itu sangat kontras dengan kulitnya yang putih.
Celina menyemprotkan parfum yang menjadi kesukaan Vano. Parfum yang membuat Vano semakin gila menyentuhnya setiap kali memakainya.
Rambut panjangnya di biarkan terurai setelah menyisirnya.
Kurang dari 3 menit, Celina sudah merubah penampilannya. Membuat tubuhnya begitu menggiurkan dengan hanya berbalut lingerie transparan itu.
Celina mematikan lampu utama. Dia hanya menyisakan lampu tidur yang membuat kamar menjadi redup.
Dia sengaja berdiri di depan pintu kamar mandi dengan posisi membelakangi pintu. Berdiri dengan jarak 3 meter dari sana.
Meski sudah sering melakukannya, tapi kali ini terasa berbeda karna debaran jantungnya yang tidak biasa.
Ada perasaan yang sulit untuk di ungkapkan, lebih dari sekedar senang dan bahagia saat akan menjalankan kewajibannya sebagai istri.
Dalam keadaan kesal sekaligus menahan hasratnya. Vano mencuci wajah berulang kali setelah menyikat giginya.
Rasanya tidak akan bisa tidur jika malam ini tak kunjung memanjakan juniornya yang terus berdiri tegak sejak tadi.
"Kalau bukan di rumah ini, pasti aku sudah memindahkan Naura ke kamarnya." Gumam Vano.
Beberapa hari yang lalu, dia pernah akan memindahkan Naura ke kamar sebelah, tapi mengurungkan niatnya karna melihat Papa Adiguna keluar dari kamar.
"Naura benar - benar menyiksa Daddynya." Ujar Vano lesu.
Dia menarik handuk untuk mengeringkan wajahnya. Setelah itu bergegas keluar dari kamar mandi.
Tubuhnya memaku di tempat saat pintu di buka seluruhnya.
Sesaat kemudian tersenyum lebar dengan perasaan yang menggebu.
Meskipun kondisi kamar sangat redup, Vano tetap bisa melihat siluet tubuh seksi Celina akibat pantulan cahaya dari kamar mandi yang mengenai Celina.
Vano menghampiri Celina dengan langkah pelan namun pasti. Dia sengaja memelankan langkahnya agar bisa menikmati tubuh indah istrinya dari belakang.
Aroma parfum mulai tercium, membuat otaknya tidak bisa lagi berfikir jernih.
Saat ini hanya ingin memeluk Celina dari belakang dan melahapnya tanpa sisa.
"Kamu memang terbaik,," Bisik Vano di telinga Celina. Dia sudah memeluk tubuh seksi istrinya. Bahkan kedua tangannya sudah bergerak pelan penuh nafs*.
__ADS_1
"Reward untukmu setelah hampir 1 minggu tersiksa." Kata Celina dengan suara yang menahan gairah. Karna gerakan tangan Vano sudah membuatnya terangs*ng.
"Aku akan menerimanya dengan senang hati," Sahut Vano lirih. Dia menyibak rambut panjang Celina ke sisi kanan, lalu menyusuri setiap inci leher Celina dengan bibirnya. Sesekali memberikan hisapan kecil disana.
Tubuh Celina dibuat menegang, kedua tangannya terangkat ke belakang, meremas lembut rambut Vano.
Celina hanya mengeluarkan des*han tertahan.
"Jangan di tahan,," Pinta Vano. Dia men ji lat leher Celina, bersama dengan mere mas kedua aset kembarnya. Hal itu membuat tubuh Celina tidak terkontrol. Namun masih bisa menahan des*hannya.
"Kamu lupa di kamar ini ada Naura."
Ucapan Celina langsung membuat Vano menghentikan aksinya. Dia melirik ke tempat tidur, melihat Naura yang terlelap disana.
Vano dibuat lupa karna pikirannya fokus pada pemandangan indah di depannya.
"Cari tempat yang aman,," Ucap Vano pelan.
Dia menggendong tubuh Celina, membawa ke walk in closet dan mendudukkannya di sofa panjang.
"Sudah aman, aku akan mendengar des*hanmu yang seksi setelah ini."
Vano langsung beraksi. Kembali memberikan sentuhan yang membuat Celina terus mendes*h.
Cukup lama berjongkok di depan Celina, memberikan kesempatan pada Celina untuk melakukan pelepasan pertama.
"Kamu terlalu mahir,," Puji Celina dengan nafas yang tersenggal.
Dia dibuat melayang oleh permainan Vano.
Vano mengulas senyum lebar. Dia berdiri kemudian melepaskan semua kain yang melekat di tubuhnya.
"Itu tidak seberapa, dia akan membuatku menjerit nikm*t." Kata Vano sambil mengarahkan juniornya.
Celina hanya pasrah saja, membuka lebar kedua kakinya untuk menerima serangan ganas dari Vano.
Dia mendorong pelan agar tidak membahayakan kehamilan Celina. Pelan tapi pasti, miliknya sudah tenggelam setengah didalam sana.
Sebelum memacu tubuh Celina, Vano lebih dulu merobek lingerie yang masih menutupi dua benda kenyal yang menggoda milik Celina.
"El Vano.!" Pekik Celina kaget.
Vano hanya mengulas senyum tipis, dia langsung melahap salah satu aset kembar Celina.
Kemudian mulai melakukan gerakan pelan.
Suara des*han keduanya terdengar bersautan.
Gerakan yang lembut namun pasti, menciptakan kenikm*tan tersindir bagi keduanya.
Vano tidak menyia - nyiakan kesempatan yang baru datang padanya setelah 6 hari menunggu.
Erangan panjang mengakhiri permainan yang selalu membuat candu.
Vano langsung duduk disebelah Celina, berulang kali memberikan kecupan di keningnya sembari mengatur nafasnya.
"Ayo ke kamar. Bagaimana kalau Naura bangun dan mencari kita,," Ajak Celina. Dia hendak turun dari ranjang, tapi Vano mencegahnya.
"Biar aku gendong." Kata Vano. Dia membereskan bajunya lebih dulu yang berserakan di lantai, setelah itu menggendong Celina dan membawanya ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.
Vano bahkan menyiapkan baju ganti untuk Celina.
__ADS_1