
Dion memarkirkan mobilnya dihalaman rumah Celina. Keyla bergegas turun dari mobil bersama Leo.
Naura yang sedang bermain di taman depan bersama Ida, langsung lari menghampiri mereka.
"Aunty,,,," Teriak Naura. Dia menyambut kedatangan Keyla dan Leo dengan senyum yang merekah. Terlihat sangat senang dengan kedatangan mereka.
"Hai sayang,,," Keyla memeluk Naura. Baru beberapa detik, Naura sudah melepaskan diri. Dia langsung bergeser ke depan Leo. Menatap Leo dengan intens.
"Leo baik-baik saja kan.? Aku minta maaf,," Naura menunduk sedih. Masih jelas diingatkan Naura saat Leo masuk kedalam kolam renang dan tenggelam karna ingin mengambilkan mainan miliknya.
Leo tidak membalas permintaan maaf Naura. Dia hanya diam saja dan menatap tanpa ekspresi.. Leo seolah sudah malas berbicara dengan Naura.
"Leo sayang, Naura minta maaf sama kamu." Tegur Keyla lembut. Dia mengusap pundak putranya, meminta Leo merespon permintaan maaf Naura.
"Biarkan saja." Ucap Leo acuh. Dia langsung pergi menghampiri Dion yang baru turun dari mobil.
Naura menatap sendu. Sedih karna permintaan maafnya tidak dihiraukan oleh Leo.
"Tidak apa sayang, Naura tidan salah." Ucap Keyla menenangkan.
"Leo sudah baik-baik saja, Naura tidak usah sedih."
"Ayo senyum lagi,," Keyla menarik kedua pipi Naura agar gadis kecil itu mau tersenyum.
"Iya aunty,," Naura mengulas senyum yang terlihat dipaksakan.
"Papa jangan pulang dulu, disini saja." Pinta Leo sembari menggandeng tangan Dion dan mengajaknya masuk kedalam rumah.
Dia masih ingin menghabiskan waktu bersama sang Papa.
Dion langsung menoleh pada Keyla, begitu juga sebaliknya. Keduanya saling pandang sampai akhirnya Keyla ikut meminta Dion menemani Leo disini.
"Disini saja, mungkin Leo masih ingin main sama kamu." Ucap Keyla. Dion hanya mengangguk pelan.
Mereka masuk kedalam rumah.
Dion bergandengan dengan Leo, Keyla bergandengan dengan Naura. Jika dilihat sekilas, mereka berempat seperti keluarga kecil yang bahagia.
"Aunty, kenapa Leo tidak mau bicara sama Naura.?" Adu Naura dengan wajah sendu.
Mereka dalam tempat dan ruangan yang sama, tapi Leo seolah tidak menganggap keberadaan Naura.
Sibuk bermain sendiri dengan Papanya. Sesekali mengajak Keyla bicara tapi mengabaikan Naura.
Mendapat pertanyaan seperti itu, Keyla langsung tidak bisa berkutik. Dia tidak tau harus memberikan jawaban seperti apa. Karna memang pada kenyataannya Leo terlihat mengabaikan Naura dan tidak menganggap keberadaannya.
Leo terlihat kesal pada Naura.
"Tidak usah dipikirkan, besok juga Leo mau main dan bicara lagi sama Naura."
"Naura tidak usah sedih yah,,"
Naura hanya mengangguk, tapi ekspresi wajahnya masih sendu.
__ADS_1
Dion yang sejak tadi membaca situasi itu, mencoba untuk bicara dengan Leo. Berusaha membujuk Leo agar tidak bersikap dingin dan acuh pada Naura. Karna bagaimana pun, Naura dan Leo sudah dianggap sebagai cucu oleh Papa Adiguna.
Beliau pasti akan sedih jika melihat cucu - cucunya tidak bisa akur dan saling menjaga.
"Papa tidak suka Leo membenci Naura. Leo harus ingat, Naura itu sudah jadi adik Leo sekarang. Jadi Leo harus baik sama Naura, tidak boleh seperti ini."
"Ingat baik-baik ucapan Papa, Leo itu sudah jadi kakaknya Naura. Kakak itu harus sayang dan melindungi adiknya."
"Leo paham kan.?"
Dion menjelaskan pelan-pelan dan nada bicara yang lembut. Berharap Leo bisa menerima penjelasan dan bisa mengikuti nasehatnya.
"Naura bukan adik Leo. Leo tidak mau punya adik seperti Naura." Jawab Leo malas.
"Leo.!" Tegur Dion penuh penekanan. Tatapan matanya begitu tajam, membuat Leo akhirnya menuruti perkataannya.
"Iya Papa," Ucapnya dengan kepala yang tertunduk.
Setelah dinasehati oleh Dion, Leo baru mau bermain dengan Naura. Meskipun masih terlihat malas dan terpaksa. Setidaknya Naura jadi bisa tersenyum, tidak sesedih tadi.
Keyla tersenyum tipis melihat Leo dan Naura bisa bermain bersama lagi.
Melihat keadaan yang sudah kondusif, Keyla beranjak ke dapur untuk membuatkan cemilan sekaligus membuatkan minum untuk Dion.
"Mau kemana.? Aku harus keluar sebentar." Ucapan Dion menghentikan langkah Keyla. Dia berbalik badan, menatap Dion yang sudah beranjak dari duduknya.
"Awasi mereka, jangan sampai terjadi hal buruk lagi."
...******...
Vano terus menggenggam tangan Celina yang saat ini sedang mendapat penanganan dari dokter kandungan. Walaupun sudah diperintahkan untuk menunggu di luar, Vano tetap bersikeras menemani Celina. Dia tidak mau meninggalkan Celina dalam kondisi sedang kesakitan seperti itu.
Dokter dan perawat sudah mengambil tindakan. Mereka tidak mau mengambil resiko untuk melahirkan bayi yang beratnya masih dibawah 2 kg.
Beruntung, kontraksi yang dialami Celina masih bisa dihentikan dengan obat yang di suntikan lewat infus. Celina juga diberi obat penguat.
Kontraksi yang dialami Celina terjadi lantaran kelelahan dan terlalu stres.
Saat ini hanya tinggal Vano dan Celina di ruang rawat inap itu. Dokter dan perawat sudah keluar setelah memastikan semuanya baik - baik saja. Celina hanya disarankan untuk istirahat total dan tidak boleh terlalu stres.
"Kamu membuatku cemas."
"Syukurlah kalian baik-baik saja."
Vano mengecup kening Celina, lalu mengecup perut Celina sembari mengusapnya lembut.
Vano tidak bisa membayangkan jika Celina harus melahirkan diusia kandungannya yang baru 32 minggu. Karna kondisi Baby Boy sudah pasti tidak akan sekuat bayi pada umumnya yang lahir sesuai waktunya.
"Maaf, aku tidak bisa menjaga Baby Boy dengan baik." Celina bicara dengan nada dan raut wajah sendu. Dia menyalahkan dirinya sendiri karna sudah membahayakan keselamatan anak mereka.
Sekalipun kejadian ini juga ikut membuat Celina merasakan sakit.
Vano langsung menggelengkan kepala, bersamaan dengan meletakkan jari telunjuk di bibir Celina.
__ADS_1
"Ini bukan salah kamu."
"Kamu sudah melakukan yang terbaik untuk Baby Boy. Dia hanya ingin Mommynya istirahat,,"
"Bukankah dia anak yang baik.? Tidak mau melihat Mommynya kelelahan dan terlalu stres."
Vano berusaha menghibur istrinya agar tidak menyalahkan diri sendiri atas kejadian ini.
Vano tau jika hamil merupakan perjuangan yang besar. Setiap ibu akan menjaga kehamilannya sebaik mungkin dengan penuh cinta dan kasih sayang.
Rasanya terlalu menyakitkan jika menyalahkan sang Ibu saat terjadi sesuatu dengan kandungannya.
"Benarkah.?" Tanya Celina. Matanya mulai berkabut dan kembali meneteskan air mata.
Perasaan haru dan sakit bercampur jadi satu.
Sulit untuk di ungkapan ketika berada diposisi seperti itu.
"Tentu saja."
"Dia pasti tau kalau akhir-akhir ini Mommynya sangat lelah. Jadi sebaiknya kamu istirahat sekarang."
Vano menyuruh Celina untuk istirahat.
Perintah Vano langsung di lakukan oleh Celina.
Dia memejamkan mata sambil memeluk lengan Vano.
Tatapan mata Vano dipenuhi kesedihan. Sejak tadi dia menahan diri untuk tidak menunjukkannya didepan Celina. Takut kesedihan yang dia tunjukkan akan mempengaruhi kondisi Celina.
Vano sudah pernah menjadi suami siaga saat Jasmine mengandung Naura, tapi kehamilan yang terjadi pada Jasmine dan Celina sangat jauh berbeda.
Kalau Jasmine tidak mengalami kendala yang berarti pada kehamilannya, Celina justru sebaliknya.
Kondisi kandungannya lemah sampai harus dua kali di rawat di rumah sakit.
Vano mulai menyalahkan diri sendiri. Dia merasa penyebab awal dari lemahnya kandungan Celina dipicu oleh sikap kejamnya dulu pada Celina.
Karna kondisi Celina jadi seperti itu sejak dia menolak kehadiran bayi yang ada dalam kandungan Celina dan menuduh bayi itu berasal dari benih laki-laki lain.
Dari situ kondisi Celina melemah. Perlakuan dan ucapan Vano bukan hanya menghancurkan mental Celina, tapi juga menghancurkan fisiknya hingga berakibat pada kandungannya.
"Maaf,," Ucap Vano dengan suara berat yang tercekat. Buliran bening menetes dari sudut matanya.
Ekspresi wajah Vano penuh dengan penyesalan yang mendalam. Dia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri jika sampai terjadi hal buruk pada Celina dan Baby Boy.
...****...
Novel Barra (kakaknya Sisil)
..."Terjebak Pernikahan Kontrak"...
__ADS_1