Pesona Sang Duda

Pesona Sang Duda
Bab 38


__ADS_3

Hari ini Dion akan datang ke apartemen Celina untuk menjemputnya. Sesuai kesepakatan kemarin, hari ini mereka akan datang ke rumah orang tua Celina untuk membicarakan rencana pernikahan yang ingin dilaksanakan secepatnya mengingat kondisi kehamilan Celina. Jika mereka semakin lama menundanya, kehamilan Celina bisa - bisa diketahui oleh kedua orang tuanya seiring dengan perut Celina yang akan semakin membesar.


Baik Dion maupun Celina, mereka sama - sama tidak mau mengambil resiko. Jika mereka berkata jujur tentang kehamilan Celina, sekalipun Dion mengaku jika anak itu adalah anaknya, sudah dipastikan mereka tidak akan mendapatkan restu. Yang ada, mungkin Dion akan di pecat dari pekerjaannya dan tidak mendapatkan ijin untuk bertemu Celina lagi.


Celina bergegas turun dari ranjang sambil melirik jam. Dia masih terlelap dalam mimpi indahnya sebelum ada suara bel yang ikut masuk kedalam mimpinya hingga ia terbangun.


"Masih jam 7, siapa yang datang sepagi ini." Gumamnya malas.


Celina sempat berfikir jika Vano yang datang, namun setelah ingat dengan ancaman yang dia berikan pada Vano, rasanya tidak mungkin jika Vano berani muncul lagi dihadapannya.


Kedatangan Vano kemarin benar - benar menguras emosi. Sekalipun Vano memohon hingga bertekuk lutut dihadapan Celina, tak pantas membuat Celina merasa iba. Rasa sakit yang ditorehkan oleh Vano begitu dalam hingga hanya ada kecewa dan kebencian setiap kali menatap wajahnya.


Ungkapan cinta yang dilontarkan oleh Vano bahkan tidak ada artinya sama sekali bagi Celina, meski dulu dia sangat mengharapkan kata - kata itu keluar dari mulut Vano.


Celina menganggap ungkapan cinta Vano semata - mata hanya karna ada darah dagingnya di dalam rahim Celina.


"Kak Dion,," Sapa Celina begitu membuka pintu. Dia mengukir senyum sembari merapikan rambut dengan satu tangan.


"Apa mau sepagi ini ke rumah Papa.?"


Celina memberikan jalan agar Dion bisa masuk.


"Tidak, kita sarapan lebih dulu." Jawab Dion sembari beranjak masuk. Dia menenteng paper bag yang sejak tadi di perhatikan oleh Celina.


"Kak Dion bawa apa.?" Celina terlihat penasaran. Sambil menutup pintu, dia terus menatap paper bag itu.


"Susu untuk kalian,," Sahutnya. Dion berjalan ke arah dapur tanpa di suruh. Jika biasanya Dion terlihat sungkan masuk kedalam apartemen Celina, kini dia terlihat lebih leluasa setelah kemarin mengantar Celina pulang dari rumah sakit. Dion tidak lagi canggung. Bahkan beberapa kali memasak di dapur Celina.


Sepeninggalan Dion ke dapur, Celina masih mematung di tempat. Dia terus memikirkan jawaban Dion tentang isi paper bag yang dibawa.


Celina tidak habis pikir, bagaimana bisa Dion sampai sepeduli itu pada dirinya dan anak yang ada didalam kandungannya hingga sampai membawakan susu ibu hamil.


Memikirkan hal itu membuat Celina meneteskan air mata bahagia karna terharu melihat perhatian Dion yang begitu tulus. Mungkin tidak akan adil bagi Dion jika Celina tidak membalas ketulusannya dengan cara yang sama.


Setelah mandi dan sarapan, Keduanya bergegas meninggalkan apartemen.


Dion benar - benar mengurus Celina pagi ini. Membuatkan sarapan sehat hingga membuat susu.


Dion pula yang mengingatkan Celina untuk meminum vitamin.


"Ada makanan yang ingin kamu beli.?" Tanya Dion.


Celina menatap beberapa saat sebelum akhirnya menggelengkan kepala.


"Perutku masih penuh kak." Tolaknya halus.


"Biasanya wanita hamil cenderung banyak makan dan menginginkan makanan tertentu. Kebanyakan juga mengalami mual. Tapi sepertinya tidak berlaku untuk kamu." Tutur Dion sambil fokus menyetir. Celina menatap serius, Dion lebih tau tentang kehamilan dibanding dirinya.

__ADS_1


"Apa dulu kak Dion bercita - cita menjadi dokter obgyn.? Kenapa banting setir mengambil jurusan bisnis." Ujar Celina dengan candaan. Dion hanya melirik dan tersenyum tipis, tapi tidak memberikan jawaban apapun.


Celina langsung terdiam, tiba - tiba dia teringat orang tua Dion yang masih berada di penjara akibat kasus penipuan besar - besaran 5 tahun silam yang mengakibatkan dia di tahan dan perusahaannya disita untuk membayar kerugian para korban.


Bahkan kejadian itu membuat Mama Dion meninggal dunia karna terkena serangan jantung melihat suaminya di tangkap polisi.


Dan setelah itu, Papa Adiguna yang merekrut Dion untuk bekerja di perusahaannya karna kasihan pada Dion.


"Gimana kabar Papa kak Dion.?" Tanya Celina hati - hati.


"Dia sudah menjadi orang yang lebih baik." Dion tersenyum lega. Dari senyumnya, Celina bisa ikut merasakan kalau hubungan Dion dan sang Papa sudah membaik. Dulu dia sempat mendengar kalau Dion enggan menjenguk Papanya di penjara karna kecewa dengan perbuatannya yang mengakibatkan hidupnya juga ikut hancur.


"Apa kak Dion sudah memberitahukan rencana pernikahan kita.?" Pertanyaan yang dilontarkan Celina membuat Dion langsung melirik dengan ekspresi kebingungan.


"Aku akan memberitahukannya nanti setelah dia bebas."


"Memberitahukannya sekarang hanya akan membuatnya sedih karna tidak bisa datang." Jelas Dion sendu. Celina mengangguk paham, dia bisa mengerti keadaan Dion.


...****...


"Kemana saja kamu.?" Kedatangan Celina langsung di pertanyakan keberadaannya oleh sang Mama karna sudah lama tidak datang ke rumah.


"Aku sibuk dengan kuliahku Mah." Jawab Celina beralasan.


"Bagaimana kabar Mama dan Papa.?"


"Kami baik - baik saja."


"Ada apa ini.? Datang berdua pagi - pagi begini.?" Tanya Papa Adiguna setelah Dion menyapa dan menjabat tangannya.


"Ada yang ingin kami bicarakan, Tuan,," Ucap Dion sopan. Papa Adiguna tersenyum.


"Sudah berapa kali saya bilang, panggil saja Papa,," Katanya menolak panggilan yang diberikan oleh Dion.


"Iya Pah,," Dion mengangguk canggung.


Biasa memanggil Tuan membuat lidahnya terasa berat untuk memanggil Papa.


Mereka langsung duduk di ruang keluarga. Kedua orang tua Celina menatap serius pada Dion dan Celina. keduanya seakan sedang menunggu sesuatu yang akan dibicarakan oleh mereka.


"Mah, Pah,," Celina memanggil kedua orang tuanya dengan suara lirih. Dia terlihat ragu untuk mengutarakan keinginannya. Ada banyak pertimbangan yang tiba - tiba muncul, takut jika keputusannya untuk menikah dengan Dion akan membuat Dion dirugikan dan menyesal. Celina sadar, dia bukan perempuan baik - baik di masa lalu. Saat ini bahkan ada darah daging laki - laki lain di rahimnya. Dion benar - benar harus berlapang dada menerima semua itu.


"Ada apa.?" Papa Adiguna menatap penasaran.


"Aku setuju untuk menikah dengan kak Dion Mah, Pah." Ujar Celina. Mendengar penuturan putrinya, kedua orang tua Celina tersenyum bahagia.


Sepertinya mereka memang benar - benar menginginkan pernikahan itu terjadi karna menganggap hanya Dion yang terbaik untuk putrinya.

__ADS_1


"Syukurlah,, jadi kapan kalian akan menikah.?" Papa Adiguna begitu antusias.


"Minggu depan, kami ingin menikah secepatnya." Dion langsung menjawab tegas.


Kedua orang tua Celina saling menatap heran.


"Minggu depan.? Kenapa mendadak.?" Tanya sang Mama pada Celina.


"Bukan mendadak mah, kita memang ingin cepat menikah. Lagipula kita ingin pernikahan sederhana yang dihadiri keluarga, tidak usah di publikasikan."


Jelas Celina sembari melirik ke arah Dion.


"Iya kan kak.?" Tanyanya meminta dukungan. Dion mengangguk cepat.


Kedua orang tua Celina terlihat sedang mempertimbangkan permintaan putrinya. Mereka melayangkan beberapa pertanyaan karna masih penasaran dengan alasan Celina kenapa tiba - tiba jadi mau menikah dalam waktu dekat.


Pembicaraan itu berlangsung cukup lama sampai akhirnya mereka menyetujui permintaan Celina dan Dion.


Orang tua Celina bahkan langsung menghubungi pihak wedding organizer untuk mempersiapkan pernikahan.


"Kalau begitu persiapkan mulai dari sekarang. Kalian bisa mencari cincin pernikahan dan pergi ke butik untuk membuat baju pernikahan." Pinta sang Mama. Celina dan Dion setuju, keduanya bergegas pergi setelah beberapa jam membicarakan perihal pernikahan mereka.


Dion mengajak Celina pergi ke mall lebih dulu. Mereka akan membeli cincin pernikahan.


Begitu turun dari mobil, Celina langsung menggandeng tangan Dion yang baru saja membukakan pintu untuknya.


Aksi Celina sempat di tatap bingung oleh Dion, bahkan Dion menatap tangannya yang digenggam oleh Celina. Tapi kemudian Dion mengulas senyum saat melihat Celina yang tersenyum menggemaskan padanya.


Keduanya berjalan memasuki mall. Sesekali Dion melirik Celina. Seakan ada yang ingin dia ungkapkan namun terlihat ragu.


Saat padangan matanya beradu dengan Celina, Dion langsung mengutarakan hal itu.


"Ada hal yang mungkin harus kamu ketahui tentangku." Ucap Dion serius.


"Kedua orang tua kamu sudah mengetahuinya sejak awal, mereka menyuruhku untuk mengatakan padamu menjelang pernikahan." Lanjutnya lagi.


Celina menghentikan langkah, dia begitu serius menunggu ucapan Dion selanjutnya.


"Lalu.?" Tanya Celina penasaran.


"Nanti saja, aku akan bicara setelah kita pulang ke apartemen." Jawab Dion cepat. Setelah memikirkannya, dia merasa bukan waktu yang tepat untuk membicarakan hal itu di tempat umum.


"Iihh,, jangan bikin penasaran kak,,!" Seru Celina sembari mencubit pinggang Dion. Dion menghindar saat akan mendapat cubitan kedua.


"Galak sekali,," Protes Dion menggoda. Dia hampir mendapat pukulan karna menghindar.


"Itu karna kak Dion udah bikin aku penasaran." Jawab Celina membela.

__ADS_1


Dion hanya tersenyum sambil mengusap pucuk kepala Celina.


__ADS_2