Pesona Sang Duda

Pesona Sang Duda
Bab 72


__ADS_3

Vano bergegas naik ke lantai dua. Dia memasang wajah kesal karna baru saja berdebat dengan Dion hanya karna masalah anak - anak mereka yang sebenarnya wajar dan normal, karna kedua bocah itu masih sangat kecil. Cara berfikirnya belum seperti orang dewasa, jadi wajar saja jika terjadi keributan kecil di antara keduanya.


Vano saja yang terlalu berlebihan menanggapi ulah putrinya dan reaksi Leo.


Dia tidak berfikir kalau mereka masihanak - anak.


Jangankan mereka, Vano todak sadar kalau dirinya juga masih bersikap seperti anak - anak hanya karna cemburu.


Menyangkut pautkan Leo yang seharusnya tidak dijadikan sasaran hanya karna Leo anak dari laki - laki yang pernah mencintai Celina. Atau mungkin masih mencintai Celina sampai saat ini.


Tapi itu hanya pemikiran Vano saja.


Vano masuk ke dalam kamar, tapi hanya mendapati Naura yang sedang terlelap di ranjang seorang diri.


"Dimana dia.?" Gumam Vano lirih. Dia mencari keberadaan Celina yang tidak ada di semua ruangan kamar mereka.


Vano kembali keluar kamar untuk mencari istrinya karna cuma Celina yang bisa meredakan rasa kesal di hatinya akibat perdebatan tadi.


Melihat Celina sedang berdiri di balkon bersama Keyla, Vano langsung mempercepat langkahnya untuk menghampiri Celina.


"Ternyata disini,," Suara Vano langsung membuat kedua wanita itu berbalik badan.


"Aku mencarimu,," Katanya sambil merangkul mesra pundak Celina tanpa perduli dengan keberadaan Keyla yang menatap ke arahnya.


"Ayo tidur, sudah malam." Ajak Vano. Dia hampir membawa Celina pergi begitu saja namun Celina diam di tempat.


"Iish,,kamu itu,,!" Protes Celina dengan memberikan cubitan kecil di pinggang Vano.


Celina langsung menatap Keyla dan melempar senyum kikuk. Dia tidak enak pada Keyla karna sikap Vano yang tidak menghargai keberadaannya.


"Aku ke kamar dulu Kak." Pamit Celina.


"Sudah malam, sebaiknya Kakak juga tidur." Ujarnya dengan perhatian yang tulus.


Celina tidak tega setelah tadi mendengar penjelasan Keyla tentang status hubungannya dengan Dion.


Apalagi raut wajah Keyla langsung berubah sendu dan sekarang justru semakin terlihat sendu karna melihat interaksi pasangan suami istri di depan matanya.


"Duluan saja,," Jawab Keyla dengan senyum tipis.


"Ibu hamil memang sebaiknya tidur lebih awal."


Celina langsung mengangguk, lalu pamit pergi.


"Ya sudah, kita dulu,,,


"Ayo sayang,,!" Ajak Vano tak sabaran. Dia langsung membawa Celina pergi dari hadapan Keyla dengan merangkul pundaknya.


"Ya ampun.!" Pekik Celina tak habis pikir.


"Kamu tidak pernah berubah. Tidak sabaran dan pemaksa."


Vano hanya tersenyum mendengar cibiran yang di lontarkan oleh Celina, sembari mengusap perut Celina dan berdo'a dalam hati agar Baby Boy tidak menuruni sifatnya.


Vano tidak mengelak karna memang kenyataannya seperti itu.


Bahkan sia sangat sadar dengan sifat jeleknya yang dua itu.


Ya, bukan hanya satu. Melainkan 2 sifat sekaligus.


Keyla terus menatap kepergian sepasang suami istri yang terlihat sangat bahagia meski di bumbui dengan perdebatan kecil. Tapi hal itu malah membuat hubungan mereka terlihat hangat.


Keyla menarik nafas dalam. Dia butuh oksigen lebih karna tiba - tiba dadanya terasa sesak dan kesulitan bernafas.


Pemandangan indah itu belum sempat dia rasakan bersama Dion.

__ADS_1


Andai saja dia tidak meminta cerai, mungkin Dion bisa mengusap perut besarnya saat sedang mengandung Leo.


Mengorbankan kebahagiaannya demi nyawa sang Papa, tapi pada akhirnya hanya membuatnya menderita karna berada di genggaman laki - laki yang salah.


Selama hampir 5 tahun, entah sudah berapa banyak air mata yang dia keluarkan karna sikap kasar laki - laki itu. Yang memperlakukan dirinya tidak lebih dari seorang pela cur karna merasa telah membelinya dengan harga yang tidak murah.


Kalau saja Keyla tau akan setragis itu hidupnya setelah memilih berpisah dengan Dion, mungkin Keyla lebih memilih untuk mengorbankan nyawa Papanya. Karna pada akhirnya sang Papa juga tetap menutup usia.


"Kamu tidak dengar Leo mencarimu.?!" Suara berat itu mampu menggetarkan hati.


Keyla langsung tersadar dari lamunan. Dia menyeka air matanya yang hampir saja menetes.


"A,,apa.? Kamu bilang apa tadi.? Leo kenapa.?"


Keyla yang salah tingkah terlihat gugup. Mengajukan pertanyaan dengan suara terbata.


"Apa tidak bosan melamun setiap saat.?" Tanya Dion dengan nada menyindir meski raut wajahnya datar.


"Leo bangun, dia mencarimu." Katanya memberi tau.


Dion hendak pergi dari hadapan Keyla, namun pergelaran tangannya di tahan oleh mantan istrinya itu.


"Di,,, a,,aku,," Keyla cukup kesulitan untuk sekedar bicara dengan Dion yang saat ini menatap kedua bola matanya.


"Kamu mau minta maaf lagi.?" Tebak Dion.


Keyla mengangguk cepat. Hal itu membuat Dion langsung menghela nafas.


Dia sudah mendengar permintaan maaf Keyla lebih dari 30 kali.


Mantan istrinya itu akan mengucapkan maaf setiap kali ada kesempatan berdua.


"Aku tidak akan menjawab karna kamu sudah hapal dengan jawabanku." Kata Dion.


Padahal jawaban Dion selalu sama. Aku sudah memaafkanmu.


"Cepat temui Leo sebelum dia menangis dan menggangu pemilik rumah yang sedang istirahat."


"Kamu juga harus istirahat, sudah malam." Ucapnya datar.


Dion menarik tangan perlahan dari genggaman Keyla, lalu beranjak pergi ke kamarnya.


Keyla tersenyum tipis. Meski Dion menyuruhnya tidur dengan ekspresi dan suara yang datar, namun Keyla bisa merasakan perhatian dari laki - laki yang dulu pernah menjadi suaminya.


Pembawa Dion memang santai dan datar sejak dulu, tapi sangat perhatian dan menjaganya dengan baik.


Kini Keyla merasa kalau Dion yang sekarang justru semakin datar dan sedikit dingin. Dan hal itu yang justru membuat Keyla tidak karuan setiap kali berdekatan dengan Dion.


Di mata Keyla, pesona Dion terlihat semakin menantang.


Mampu membuat hatinya tidak karuan dan jantungnya berdebar hanya dengan melihat wajahnya.


Sepertinya pesona duda memang terlihat lebih menggoda.


...****...


Sementara itu, pergulatan panas sedang terjadi di walk in closet.


Vano memainkan mi* lik Celina dengan sen j*ta besarnya. Membuat tu buh ibu hamil itu meliuk-liuk tidak karuan.


"Aaghhh,,, hentikan Vano,,!" Pinta Celina dengan suara pelan.


"Tidak akan sebelum kamu mengulangi ucapanmu sebelum ini." Vano bicara dengan senyum penuh kepuasan. Dia berhasil membuat Celina menahan desah*nnya karna takut di dengar oleh Naura.


Sendangkan kenikm*tan yang diberikan oleh Vano sudah menjalar keseluruh tubuh hingga membuat Celina hampir lepas kendali untuk mengeluarkan desah*n erotisnya.

__ADS_1


"Ayolah Celina, ulangi lagi ucapanmu."


"Aku ingin mendengarnya lebih jelas."


Sambil me macu mi liknya, Vano berbicara tepat di telinga Celina.


Wajah Celina sudah merona. Dia terus menggigit bi bir bawahnya agar tidak mengeluarkan suara terlarang yang bisa saja terdengar oleh Naura.


"Tinggal bilang saja, apa susahnya. Hemm.?" Cecar Vano lagi dengan senyum smirk.


Dia mengobrak-abrik m ilik Celina sampai akhirnya Celina menyerah.


"Oke. Tapi pelankan dulu,,"


"Sesuai permintaan mu,," Jawab Vano. Dia memperlambat gerakan, menatap lekat wajah Celina untuk mendengar kata indah yang akan keluar dari bibirnya.


"Sa,,sayang,," Ucap Celina dan langsung memalingkan pandangan matanya.


Vano tersenyum lebar, hatinya berbunga seperti ABG yang baru pertama kali di panggil dengan sebutan sayang.


"Mulai sekarang panggil aku seperti itu,," Kata Vano dengan suara beratnya.


Dia menyambar bibir Celina yang sedikit terbuka. Me lum*t dan menye s*pnya dengan penuh gair*h.


Permainan panas itu berakhir dengan erang*n penuh kenik m*tan.


"Gendong,,," Celina mengulurkan kedua tangannya pada Vano.


Tubuhnya sudah lemas akibat ulah suaminya hingga merasa tidak sanggup lagi untuk pindah ke ranjang.


"Mana mungkin aku akan membiarkanmu jalan,,"


Vano langsung menundukkan badan untuk mengangkat tubuh Celina yang setengah berbaring di sofa.


Celina mengalungkan tangannya di leher Vano.


Sesekali mencuri pandang untuk menatap wajah tampan Vano yang lurus ke depan.


"Suamimu memang tampan."


"Bahkan semakin tanpa kalau terus di pandang." Katanya Vano dengan percaya diri yang tinggi.


Dia tau kalau Celina diam - diam menatapnya.


"Si tampan yang percaya diri." Cibir Celina.


"Lebih tampan lagi kalau sabar dan tidak pemaksa." Tambahnya.


Vano langsung mengulum senyum.


"Sebelum lahir memang sudah di takdirkan untuk jadi orang pemaksa." Jawabnya sambil terkekeh kecil.


"Itu sebabnya kamu harus menurut, jadi aku tidak terlihat pemaksa."


Celina langsung mencebikan bibirnya. Tidak setuju dengan ucapan Vano.


Bukannya mencoba untuk memperbaiki, malah menyuruhnya untuk selalu mengalah.


Vano membaringkan Celina di ranjang, lalu menarik selimut untuk hingga sebatas dada.


"Aku mencintaimu,," Ucap Vano kemudian mencium kening Celina.


Celina memejamkan mata, merasakan kebahagiaan yang sulit di jelaskan dengan kata - kata saat Vano mencium keningnya dengan penuh cinta.


Kini Celina sudah bisa merasakan cinta dan kebahagiaan yang sesungguhnya.

__ADS_1


Dua hal yang sejak dulu sangat dia impikan, kini sudah ada di depan mata setelah melalui proses yang panjang dan sulit.


Celina hanya berharap kebahagiaannya tidak akan pernah berakhir.


__ADS_2